Pasar Triwindu Ngarsopuro

Penulis: Adya Rosyada Yonas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger



Daftar Isi


  • Tentang Pasar Triwindu Ngarsopuro


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pasar Triwindu Ngarsopuro atau yang lebih akrab disebut Pasar Triwindu dikenal sebagai pusat penjualan barang antik dan kuno yang terletak di Kota Solo.

Letak Pasar Triwindu tidak jauh dari Pura Mangkunegaran, yaitu hanya berjarak sekitar 350 meter.

Sebelum menjadi Pasar Triwindu, bangunan ini bernama Pasar Windujenar.

Pasar Triwindu merupakan peninggalan Raja Pura Mangkunegaran.

Pasar Triwindu didirikan sebagai hadiah ulang tahun ke-24 kenaikan tahta Mangkunegara VII. (pasartriwindu.com)


Baca: TRIBUNNEWSWIKI: Tugu Golong Gilig

Baca: TRIBUNNEWSWIKI: Pasar Klewer Solo

Sebelum menjadi Pasar Triwindu, lahan yang digunakan untuk bangunan pasar awal mulanya adalah alun-alun Mangkunegaran, lebih tepatnya kandang kuda milik Mangkunegaran.

Pada 1939, Raja Pura Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegara VII membangun sebuah pasar sebagai kado ulang tahun ke-24 bagi Gusti Putri Mangkunegara VII bernama Noeroel Kamaril.

Pasar ini diberikan kepada Gusti Noeroel saat naik tahta Raja Mangkunegara VII yang ke tiga windu.

Perayaan naik tahta dirayakan besar-besaran oleh trah Mangkunegara dan masyarakat Surakarta dan dihadiri oleh Ratu Wihelmina Belanda.

Nama Triwindu diambil dari kata ‘tri’ yang dalam bahasa Jawa berarti tiga dan ‘windu’ yang berarti delapan.

Nama Triwindu memiliki makna delapan tahun rangkap tiga, 24, umur Gusti Noeroel saat dihadiahi oleh Raja Pura Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegara VII.

Pasar Triwindu pertama kali berdiri hanyalah sebuah lahan kecil dengan meja-meja penjaja sederhana.

Seiring berjalannya waktu pada 1960 para pedagang mulai mendirikan kios-kios kecil.

Awalnya Pasar Triwindu tidak menjual barang-barang antik, tapi menjual kebutuhan sehari-hari.

Di awal berdirinya hingga tahun 1966, barang dagangan di Pasar Triwindu masih bercampur antara onderdil sepeda motor/mobil, alat pertukangan, alat rumah tangga, dan sedikit barang antik.

Setelah dilanda banjir pada 1966, setelah berdiri Pasar Sumodilagan, barang-barang rongsokan/klitikan sudah tidak ada lagi.

Saat itu sudah ada barang-barang lama yang berkualitas namun belum bisa disebut sebagai barang antik.

Mulai tahun 1970-an, barang-barang lama tersebut berubah menjadi barang antik.

Barang antik didefinisikan sebagai barang yang mempunyai nilai cukup umur, atau lebih dari 50 tahun dan kondisinya masih bagus.

Koleksi berbagai barang kuno antik di Pasar Triwindu Ngarsopuro. (TRIBUNSOLO.COM/Mufid Anshori)

Saat masa kolonial Jepang Pasar Triwindu pernah menjadi salah satu pasar terpenting di Kota Solo.

Banyak bangsawan yang menjual benda-benda antik dan koleksi seni milik mereka dikarenakan keadaan ekonomi yang sulit.

Pada 1990-an, para pedagang di Pasar Triwindu mencoba membuat barang baru yang bermotif antik seperti mebel dari serenan dan Jepara, patung perunggu dari Mojoagung dan Trowulan Jawa Timur, Keramik dari Bandung, Dinoyo, Malang, Singkawang, dan Pontianak.

Selain itu juga membuat kerajinan kuningan dari Juwono, kerajinan perak dari Yogyakarta, besi cor dari Ceper Klaten, patung kayu dari Wonogiri, hingga keris dari Solo.

Baca: TRIBUNNEWSWIKI: Pasar Klewer Solo

Baca: TRIBUNNEWSWIKI: Pasar Gede Harjonagoro

Pada 5 Juli 2008, Pasar Triwindu mengalami pemugaran mengikuti arsitektur budaya Solo.

Pasar Triwindu selesai dibangun kembali pada Agustus 2009.

Lahan yang tadinya kecil dibangun menjadi sebuah bangunan pasar bertingkat dua oleh Pemerintah Kota Solo.

Pasar Triwindu setelah direvitalisasi juga memiliki lahan parkir yang luas.

Di area parkir Pasar Triwindu sering digunakan sebagai kegiatan seni budaya, baik tingkat local, nasional, hingga internasional.

Berbagai kegiatan seni yang diadakan di antaranya seperti musik keroncong, musik jazz, dan wayang kulit.

Tidak jarang juga area ini digunakan sebagai ajang jamuan pembukaan kegiatan tingkat nasional hingga internasional yang diselenggarakan di Solo.

Pada 17 Juni 2011, Pasar Triwindu diresmikan oleh Wali Kota Surakarta saat itu, Joko Widodo.

Pasar Triwindu terdiri dari dua lantai dengan jumlah pedagang sekitar 200an.

Di Pasar Triwindu, pengunjung bisa menemukan barang-barang antik seperti uang koin dan kertas kuno keluaran tahun 1800an, topeng, piring kuno tahun 1960, keris, batik, hingga perkakas rumah tangga kuno.

Barang antik yang diperdagangkan di Pasar Triwindu salah satunya adalah fosil. (pasartriwindu.com)

Selain itu juga terdapat radio kuno, jam tangan bekas, patung, lampu hias kuno, dan mainan tradisional zaman dahulu.

Harga barang yang dijual di Pasar Triwindu bervariasi mulai dari ribuan hingga puluhan juta rupiah.

Pengunjung Pasar Triwindu sebagian besar adalah para kolektor barang langka dan kuno yang datang dari berbagai daerah Indonesia hingga mancanegara.

Selain menjadi tempat berburu barang kuno, Pasar Triwindu juga menjadi salah satu tujuan wisata.

Di Pasar Triwindu selalu diadakan tradisi pasar malam setiap Sabtu, yang kerap disebut dengan Night Market.

Night Market ini terbentang dari depan Pura Mangkunegaran hingga Jalan Slamet Riyadi dan dikenal sebagai Koridor Budaya Ngarsopuro.

Baca: TRIBUNNEWSWIKI: Selat Solo

Baca: TRIBUNNEWSWIKI: Museum Keris Nusantara

 

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Yonas)

Jangan lupa subscribe official Youtube channel TribunnewsWiki di TribunnewsWIKI Official



Nama Pasar Triwindu Ngarsopuro


Lokasi Ngarsopuro, Jl. Diponegoro, Keprabon, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57131


Google Maps https://goo.gl/maps/5i5KLt4Rrj8iwD4e7


Koordinat 7°34'08.3


Waktu Operasional Setiap Hari pukul 09.00 – 17.00 WIB


Kontak ptriwindu@gmail.com


Website www.pasartriwindu.com


Facebook @pasartriwindusolo


Twitter @TriwinduPasar


Instagram @pasartriwindusolo


Sumber :


1. regional.kompas.com
2. www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/pasar-triwindu
3. situsbudaya.id
4. pasartriwindu.com


Penulis: Adya Rosyada Yonas
BERITA TERKAIT

Berita Populer