P. K. Ojong

Penulis: Content Writer
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

P K Ojong


Daftar Isi


  • Pendidikan


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Petrus Kanisius Ojong atau P. K. Ojong mengenyam pendidikan dasar di Hollandsch Chineesche School (HCS) Payakumbah, sekolah dasar Belanda khusus untuk warga Tionghoa.

Lulus dari HCS, P. K. Ojong melanjutkan studinya di Hollands Chinese Kweeckschool (HCK), sekolah menengah untuk para calon guru setingkat SMA.

Lulus dari HCK, Ojong kemudian melanjutkan kuliah di Rechts Hoge School (RHS) yang kini menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Dari RHS, ia lulus pada tahun 1951.

  • Riwayat Karier


P. K. Ojong sudah hobi membaca koran dan majalah ketika ia masih duduk di sekolah dasar.

Tidak hanya membaca tajuk rencana seperti siswa lain, Ojong memerhatikan juga cara penulisan dan penyajian suatu gagasan.

Ketika sekolah di HCK, P. K. Ojong sudah aktif menulis. Kendati demikian, pekerjaan pertamanya bukanlah jurnalis, melainkan guru.

Ojong pernah mengajar di kelas I Hollandsch Chineesche Broederschool St. Johannes di Kawasan Jakarta.

Namun ketika Jepang menyerbu Indonesia, sekolah-sekolah pun ditutup. Hal ini membuat karier Ojong sebagai pendidik berakhir.

Pada 1946, Ojong mulai mendalami ilmu kejurnalistikan. Ia bergabung dengan Star Weekly sebagai kontributor sebelum akhirnya diangkat menjadi redaktur pelaksana.

P. K. Ojong sendiri menjadi anggota redaksi surat kabar harian Keng Po dan mingguan Star Weekly antara tahun 1946 sampai 1951.

Makin lama, Star Weekly yang tadinya hanya ditujukan untuk para warga Tionghoa mulai manasional. Hingga pada 1 Agustus 1957, Star Weekly, surat kabar anti komunis itu diberangus oleh pemerintah.

Pemberangusan ini diduga karena besarnya pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) di dalam tubuh pemerintah saat itu.

Perusahaan media tempatnya bekerja, PT. Keng Po akhirnya mengubah namanya menjadi PT. Kinta yang merupakan kependekan dari kertas dan tinta.

Karena pembredelan itu, Ojong kemudian semakin berhati-hati dengan rubrik di medianya. Ia menghilangkan rubrik “Gambang Kromong” yang berisi sentilan-sentilan.

Sedangkan “Timbangan” berganti nama menjadi “Intisari”. Tapi itu ternyata tidak membuat keadaan lebih baik.

Namun karena rubrik “Tinjauan Luar Negeri” yang dianggap terlalu mengkritik kebijakan luar negeri pemerintah, Ojong kemudian dipanggil pihak yang berwenang pada 1961.

Sepulang dari pemanggilan itu, Ojong hanya mengucapkan satu kalimat “Wij zijn dood”, atau “Kita semua mati”.

Pemerintah tidak pernah menjelaskan secara gamblang alasan pembubaran majalah bertiras 60 ribu hingga edisi terakhir pada 7 Oktober 1961 (1).
 
Khoe Woen Sioe, direktur Keng Po dan para pimpinan Star Weekly kemudian mendirikan PT. Saka Widya yang fokus pada penerbitan buku. Ojong didapuk sebagai direktur di perusahaan baru tersebut.

Bersama rekannya, Jakob Oetama, Ojong kemudian menerbitkan Majalah Intisari pada 17 Agustus 1963. Edisi yang diterbitkan sebanyak 10.000 eksemplar, ternyata laris manis.

Ojong sendiri sudah akrab dengan Jakob sejak awal 1960-an, ketika keduanya sama-sama menjadi pengurus Ikatan Sarjana Katolik Indonesia.

Dalam penerbitan Majalah Intisari, mereka melibatkan banyak ahli seperti ahli ekonomi Prof. Widjojo Nitisastro, Drs. Sanjoto Sastromihardjo, atau sastrawan muda Nugroho Notosusanto.

Ojong juga dekat dengan Goenawan Mohamad, Arief Budiman, Soe Hok Gie, serta Machfudi Mangkudilaga.

Dua tahun berikutnya, pada 28 Juni 1965, mereka kemudian menerbitkan Harian Kompas dengan nomor percobaan pertama. Setelah tiga hari berturut-turut dengan label percobaan, baru kemudian Kompas yang sesungguhnya beredar luas.

Awalnya, Kompas tak pernah terbit tepat waktu, sampai dijuluki “Komt pas morgen”, yang artinya “Besok baru datang” (2). 

Ojong didapuk sebagai pimpinan umum PT. Gramedia yang bergerak dalam bidang penerbitan buku sejak tahun 1970 hingga ia tutup usia.

Ojong dikenal sebagai sosok yang sederhana, jujur, tegas, dan selalu bersyukur dengan apa yang ada.
Namun di balik sosok yang tegas dan keras, Ojong adalah sosok yang lembut.

Diceritakan oleh Mariani, anak bungsu P. K. Ojong yang dimuat dalam Kompas.com, Ojong pernah menemui karyawannya yang terlambat datang ke kantor.

Ketika ditanya alasannya terlambat, karyawan tersebut mengatakan bahwa ia kesulitan mengatur waktu karena tidak memiliki jam.

Akhirnya Ojong memberikan sebuah jam tangan kepada karyawannya tersebut.

“Kita di Kompas ini sederhana dan mungkin dari awalnya ayah saya dan Pak Jakob memberikan citra yang sederhana dan pikiran yang baik seperti itu,” ujar Mariani dimuat dalam Kompas.com (3).

P. K. Ojong mengembuskan napas terakhirnya pada 31 Mei 1980. Kematiannya begitu mendadak, tanpa didahului sakit yang menyiksa.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jalan Raya Bintaro, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.


(TribunnewsWIKI/Widi)



Info Pribadi


Nama Petrus Kanisius Ojong


Nama Lain Auw Jong Peng Koen, Ouyang Bing Kun, Peng Koen


Lahir Bukittinggi, 25 Juli 1920


Wafat Jakarta, 31 Mei 1980 (59 tahun)


Makam TPU Tanah Kusir, Jalan Raya Bintaro, RT.2/RW.10, Kebayoran Lama Selatan, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12240


Riwayat Pendidikan ollandsch Chineesche School (HCS) Payakumbah, Sumatera Barat


Ayah Auw Jong Pauw


Ibu Njo Loan Eng Nio


Istri Cahtherine Oei Kian Kiat


Sumber :


1. www.biografiku.com/biografi-pk-ojong-pendiri-surat-kabar/
2. www.tionghoa.info/pk-ojong-pendiri-surat-kabar-kompas/
3. megapolitan.kompas.com


Penulis: Content Writer
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi

Berita Populer