TRIBUNNEWSWIKI.COM - Program PLN Goes to School terus bergulir. Kali ini, dengan sosialisasi pengamanan instalasi listrik yang digelar PLN Unit Layanan Transmisi dan Gardu Induk (ULTG) Salatiga di aula kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Kuwiran, Banyudono, Boyolali, Kamis (17/10/2024).
Program ini diikuti kurang lebih 130 siswa dari tingkat kelas 1 hingga 6. Sosialisasi Pengamanan Instalasi Listrik di Sekitar SUTT Mojosongo - Banyudono tersebut adalah untuk menyampaikan manfaat penggunaan energi listrik, sekaligus menjaga keselamatan terutama di bawah menara Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) atau Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).
Sosialisasi ini bertujuan memberikan edukasi awal kepada siswa mengenai penggunaan listrik yang aman, termasuk perilaku yang sebaiknya dihindari. Salah satunya adalah bermain layang-layang.
“Aktivitas bermain layang-layang dapat membahayakan keselamatan masyarakat dan kelangsungan pasokan listrik. Dengan sosialisasi ini, diharapkan anak-anak lebih sadar akan bahaya gangguan listrik akibat layang-layang,” ungkap Team Leader K3L PLN ULTG Salatiga, Syukron Alhakim, yang menjadi pemateri sosialisasi.
PLN ULTG Salatiga berkomitmen untuk terus menggiatkan kegiatan serupa di sekolah dan komunitas sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan dalam mendukung keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Diharapkan, efek jangka panjang dari sosialiasi ini adalah dalam 10-15 tahun ke depan, para siswa SD ini dapat menjadi agen aktif PLN. Yakni, dalam mendidik masyarakat di sekitar instalasi PLN untuk melakukan aktivitas lebih aman.
Keberadaan menara SUTT/SUTET berkaitan dengan suplai listrik untuk masyarakat. Jika terjadi gangguan, maka dampaknya bisa dirasakan lebih luas, tidak hanya pada lokasi menara berdiri.
Untuk itu, PLN ULTG Salatiga mengingatkan untuk tidak bermain layang-layang di dekat jaringan listrik. Sebab, bermain layang-layang di dekat jaringan listrik berpotensi membahayakan orang yang bersangkutan dan masyarakat sekitar.
Syukron mengatakan, PLN mengajak semua elemen masyarakat untuk berperan serta dalam menjaga keberlangsungan penyaluran tenaga listrik.
"Maka kami mengajak anak-anak agar menghindari permainan layang-layang di dekat jaringan listrik. Di setiap tower, terdapat energi listrik dengan kapasitas 150 ribu hingga 500 ribu volt. Tentunya kalo nyetrum bisa sangat berbahaya," katanya.
Sementara itu, Kepala Sekolah MI Muhammadiyah Kuwiran, Sri Partini S.Pd mengaku pihaknya menyambut sosialisasi tersebut. Sebab, menjadi pembelajaran penting bagi siswa. Apalagi, di kelas 6, terdapat mata pelajaran seputar listrik, sehingga berkesinambungan dengan sosialisasi dari PLN.
"Dengan mendapatkan pengetahuan tersebut maka anak-anak akan lebih berhati-hati dan menjaga diri. Kemudian, bisa menambah wawasan untuk ditularkan ke lingkungan sekitar mereka," kata Sri Partini.
Di sisi lain, warga juga dihimbau untuk bisa langsung melaporkan ke perangkat desa ataupun petugas PLN ketika terdapat hal-hal yang membahayakan.
Apalagi, jika terdapat pohon yang sudah tinggi dan mendekati kabel menara, agar segera melapor agar cepat untuk dilakukan penebangan.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)