Mengenal Mbah Semi, Nenek 90 Tahun Hidup Sebatang Kara Tak Dapat Bansos sampai Buat Mensos Nangis

Mbah Semi menjalani kehidupannya sendirian di rumah tersebut, setelah kehilangan satu-satunya anak laki-lakinya dan suaminya yang telah meninggal duni


zoom-inlihat foto
Menteri-Sosial-Tri-Rismaharini-menangis-k.jpg
Kolase Tribun Network
Mengenal Mbah Semi, Nenek 90 Tahun Hidup Sebatang Kara Tak Dapat Bansos sampai Buat Mensos Nangis. Kiri: Menteri Sosial Tri Rismaharini menangis ketika mendengar kisah Mbah Semi dari Anggota Komisi VIII DPR RI Muhammad Ali Ridha saat rapat kerja siang ini, Selasa (19/3/2024).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sosok Mbah Semi mendapatkan sorotan lantaran lansia ini hidup sebatang kara hanya dengan bekerja membut opak dengan upah Rp5.000.

Mbah Semi yang sudah menginjak umur 90 tahun ini bahkan tak mendapatkan bantuan sosial (bansos).

Sehari-hari Mbah Semi menyambung hidupnya dengan bekerja menjadi pembuat kerupuk lempeng khas Magetan.

Mbah Semi mendiami sebuah rumah berdimensi 4x6 meter yang terletak di Desa Gebyog, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur.

Rumah ini merupakan hasil bantuan dari pemerintah melalui program rehabilitasi rumah tidak layak huni pada tahun 2018.

Mbah Semi menjalani kehidupannya sendirian di rumah tersebut, setelah kehilangan satu-satunya anak laki-lakinya dan suaminya yang telah meninggal dunia.

Mbah Semi perajin Opak Magetan.
Mbah Semi perajin Opak Magetan. Mengenal Mbah Semi, Nenek 90 Tahun Hidup Sebatang Kara Tak Dapat Bansos sampai Buat Mensos Nangis(Tribun Jateng)

Mbah Semi berbagi bahwa dia baru saja pulang dari membuat opak, dengan upah yang diberikan sesuai dengan kemurahan hati orang, yang terkadang hanya sebesar Rp 5.000 per hari yang digunakan untuk membeli beras, seperti yang diberitakan oleh Kompas.com pada tanggal 28 Januari 2024.

Di dalam rumahnya yang sederhana, tidak terdapat meja ataupun kursi, hanya ada bekas batu dan arang dari pembakaran yang terletak di lantai.

Beliau mengatakan kadang-kadang memasak di tempat tersebut ketika hujan, dan biasanya memasak di depan pintu ketika cuaca cerah.

Di samping rumah, terdapat puing-puing dari dinding batu bata rumah lama yang telah runtuh karena usia.

Sebagian dari dinding tersebut kini digunakan sebagai dinding dapur, yang kondisinya sangat memprihatinkan dengan atap yang lapuk dan genteng yang berjatuhan.

Di bagian belakang rumah, ada kamar mandi yang kondisinya berantakan dan lantai yang becek.

Baca: Kisah Pilu Istri Korban KDRT, Hanya Dijatah Rp50 Ribu Sehari, Ternyata Suami ASN Jabat Ini di BNN

Mbah Semi mengisi air untuk keperluannya dari sumur tetangga ketika pompa air mereka menyala, jika tidak, ia harus mencari air dari rumah tetangga.

Mbah Semi sesekali menerima bantuan dari tetangga-tetangganya, tetapi juga sering berhutang di warung agar dapat makan.

Di atas meja kecilnya, terdapat sebuah tempat nasi yang isinya nasi dingin, karena beliau belum bisa memasak akibat kehabisan beras dan berencana mengutang di toko terdekat.

Beliau menyatakan bahwa beberapa hari ini, tetangganya menerima kupon sebagai penerima bantuan beras miskin seberat 10 kilogram yang akan diberikan mulai bulan Januari hingga Juni.

Namun, nama Mbah Semi tidak terdaftar sebagai penerima bantuan dalam data Penyaringan Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), yang membuatnya merasa kecewa karena tidak mendapatkan bantuan tersebut.

Selain mencari nafkah dengan membuat kerupuk, Mbah Semi juga bergantung pada bantuan dari tetangga untuk kebutuhan sehari-harinya.

Kadang-kadang, saat ada selamatan, beliau mendapatkan bagian, dan jika tidak, beliau berutang di toko untuk mendapatkan beras yang bisa bertahan beberapa hari.

Buat Menteri Sosial Tri Rismaharini Menangis

Menteri Sosial Tri Rismaharini menangis ketika mendengar kisah Mbah Semi dari Anggota Komisi VIII DPR RI Muhammad Ali Ridha saat rapat kerja siang ini, Selasa (19/3/2024).
Menteri Sosial Tri Rismaharini menangis ketika mendengar kisah Mbah Semi dari Anggota Komisi VIII DPR RI Muhammad Ali Ridha saat rapat kerja siang ini, Selasa (19/3/2024). (Tribun Network)

Kisah Bu Semi bikin Menteri Sosial Tri Rismaharini menangis ketika mendengar kisah sang lansia dari Anggota Komisi VIII DPR RI Muhammad Ali Ridha saat rapat kerja, Selasa (19/3/2024).

Ridha mengisahkan, dirinya pernah menyambangi rumah warga Magetan bernama Bu Semi yang berusia 90 tahun namun hidup sebatang kara.

"Bu Semi hidup sebatang kara dan dia harus menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja membuat kerupuk lempeng dengan bayaran Rp 5.000 dan itu tentu tidak cukup untuk menghidupi dirinya," ujarnya saat rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI, Jakarta, Selasa (19/3/2024).

Ridha bilang, penghasilan tersebut tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini terbukti dari ketika Ridha mendatangi rumah Mbah Semi, dia melihat Mbah Semi hanya memasak tahu dan kacang panjang rebus.

"Orang ini memang sebatang kara dan kebetulan dia memasak.

Mohon maaf bu karena tidak ada beras, dia harus memakan tahu dan kacang panjang yang direbus tanpa menu apapun," ucapnya dengan suara bergetar.

Sementara itu, tangis Risma pun pecah mendengar kisah Mbah Semi. Dia mengusap air matanya dengan tisu.

Dengan kondisi tersebut, dia mengungkapkan, Bu Semi rupanya tidak terdata di dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bantuan sosial.

Baca: Kisah Pilu Seorang Istri Kena HIV Gegara Suami Sering Jajan di Luar: Semoga Aku Bisa Bertahan

"Yang kasihan itu dia seringkali melihat tetangganya menerima beberapa kali bantuan, ya mungkin tetangganya juga layak dibantu, tetapi dirinya tidak menerima bantuan," ungkapnya.

Dari temuan itu, dia pun menyoroti mengenai masyarakat kurang mampu yang seharusnya terdata menjadi KPM bansos namun namanya tidak terdaftar di DTKS.

Sementara di sisi lain, banyak masyarakat yang keadaan ekonominya lebih layak justru menjadi KPM bansos lantaran nama yang sudah terdata di DTKS sulit untuk dihapus.

Oleh karenanya, dia meminta agar Risma selaku Mensos dapat membenahi sistem ini agar program bansos dapat lebih tepat sasaran.

"Ketika saya datang ke sana wajah Bu Menteri yang saya lihat karena begitu berat dan banyaknya tugas yang harus diemban tetapi kita sama-sama memiliki niat yang baik yang sama untuk bagaimana program bantuan ini bisa tepat sasaran," tuturnya.

Ucapan penutup dari Ridha itu membuat Risma menundukkan wajahnya dengan posisi tangan terlipat seakan tidak ingin wajahnya terlihat.

Kisah Mbah Semi Viral

Kisah Pilu Mbah Semi, Sehari Dapat Upah Rp 5 Ribu, Akhirnya Utang Beras Agar Bisa Makan
Kisah Pilu Mbah Semi, Sehari Dapat Upah Rp 5 Ribu, Akhirnya Utang Beras Agar Bisa Makan (KOMPAS.COM/SUKOCO)

Kisah Mbah Semi, lansia berusia 90 tahun yang tidak mendapat bantuan, seharusnya dia berhak menerima beras bantu badan pangan nasional.

Namun entah apa yang terjadi, dia justru terlupakan.

Nasibnya berbeda dengan orang-orang di sekitarnya yang ekonominya tergolong lebih baik ketimbang dirinya.

Diketahui, Mbah Semi hidup sebatang kara sehingga sewajarnya terdaftar sebagai penerima beras miskin bantuan badan pangan nasional.

Nyatanya, warga Desa Gebyog, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, ini justru tidak terdaftar.

Beruntung, Mbah Semi yang sempat menjadi perbincangan kini mulai mendapatkan bantuan dari sejumlah organisasi masyarakat. Bahkan, anggota DPR RI ikut menyambangi rumah Mbah Semi.

Kepala Desa Gebyog Suyanto mengatakan, sejak pemberitaan Mbah Semi tak dapat bantuan beras miskin beredar di media, sejumlah relawan dan anggota DPR RI berkunjung ke rumah Mbah Semi.

"Sudah beberapa hari ini ada dari organisasi bahkan anggota DPR RI dari Golkar, saya lupa namanya, berkunjung ke rumah Mbah Semi."

"Ada yang bawa sembako ada juga yang mau merehab dapur Mbah Semi,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (6/2/2024).

Suyanto menambahkan, selain Mbah Semi, ada 73 warganya yang miskin tetapi tidak menerima bantuan beras miskin yang disalurkan pemerintah.

Dia mengaku saat ini Pemerintah Desa Gebyog tengah mengusulkan 73 warga tersebut untuk bisa menerima beras miskin dari pemerintah pusat.

“Yang 73 lebih miskin dari 134 yang menrima bantuan raskin saat ini.

Terserah nanti yang telah menerima tetap menerima atau mau digantikan oleh warga yang lebih miskin tersebut, kami sudah usulkan,” imbuhnya.

Sebelumnya, Mbah Semi mengaku tak terdaftar sebagai penerima beras miskin (raskin) yang disalurkan badan pangan nasional mulai Januari 2024.

Fakta ini sangat miris dan memprihatinkan karena sejumlah warga Desa Gebyog yang memiliki mobil malah terdaftar sebagai penerima raskin.

Seharusnya, Mbah Semi yang hidup sebatang kara di rumah bantuan RLTH tahun 2018 berhak menerima bantuan tersebut.

Kepala Desa Gebyog mengaku heran karena sejak menjabat tahun 2019, masyarakat terdata miskin justru bertambah dari 80 keluarga menjadi 200 keluarga.

Dia memastikan bahwa ada kesalahan input data terkait warga terdata miskin di desanya.


Sebelumnya Dinsos sudah buka suara terkait kondisi Mbah Semi.

Mbah Semi disebut hidup pilu karena tak dapat bantuan dari Dinsos.

Kisah Mbah Semi yang hidup sebatang kara tengah mencuri perhatian publik.

Di rumah sederhananya berukuran 4x6 meter, Mbah Semi tinggal di Desa Gebyog, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Diketahui rumah yang dihuni Mbah Semi adalah bantuan pemerintah dari program rumah tidak layak huni di tahun 2018.

Anak laki-laki satu-satunya sudah meninggal lama, menyusul kemudian sang suami yang juga sudah wafat.

"Ini tadi pulang dari membuat opak, upahnya seikhlasnya, kadang sehari Rp5.000 untuk beli beras," Mbah Semi mengawali ceritanya, Minggu (28/1/2024).

Di ruang tamu tidak ada meja kursi, hanya ada bekas sisa susunan batu dan sisa arang bekas pembakaran di lantas.

"Kadang masak di situ kalau hujan. Biasanya masak di depan pintu kalau tidak hujan," jelas Mbah Semi.

Di samping kiri rumah Mbah Semi, ada bekas reruntuhan dinding batu bata bangunan rumah lamanya yang sudah lama ambruk karena tua.

Terlihat sebagian dindingnya digunakan sebagai dinding dapur yang kondisinya sangat mengkhawatirkan karena atap dapur juga lapuk.

Sebagian gentengnya itu pun bahkan berjatuhan.

Di ujung ruang, terdapat kamar mandi yang terlihat berantakan dengan kondisi lantai yang becek.

"Kalau mau ke belakang ada airnya, itu baru saya isi kebetulan Sanyo tetangga nyala."

"Kalau tidak nyala, ya mencari air di rumah tetangga," katanya, dilansir dari Kompas.com.

Mbah Semi tak jarang mendapatkan bantuan dari tetangga.

Namun ia juga mengatakan, terkadang sampai mengutang ke warung demi bisa makan.

Di meja kecil, tampak tempat nasi yang di dalamnya berisi nasi dingin.

Mbah Semi mengaku belum memasak karena tak memiliki uang untuk membeli beras.

"Itu nasi dikasih tetangga kemarin. Hari ini belum masak karena beras habis, mau ngutang ke toko di depan sana," kata dia.

Mbah Semi mengaku melihat beberapa hari ini para tetangganya menerima kerta kupon daftar sebagai penerima beras miskin 10 kilogram.

Bantuan tersebut akan diberikan dari bulan Januari hingga bulan Juni 2024 mendatang.

Namun sayangnya, nama Mbah Semi tidak tercantum di data Penyasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) sebagai salah satu penerima beras bagi warga miskin.

"Tetangga sudah menerima kupon, katanya mau dapat beras 10 kilogram. Nama saya juga tidak ada," ucapnya lirih.

Mbah Semi mengatakan, namanya tidak dimasukkan dari daftar penerima bantuan beras.

Diketahui selain bekerja sebagai pembuat kerupuk beras, ia juga mengharap bantuan tetangga untuk makan sehari-hari.

"Kadang kalau selamatan dikasih berkat, kalau tidak ya ngutang di toko yang ada di perempatan sana."

"Paling satu kilogram itu isinya tiga kaleng, bisa untuk makan beberapa hari," tutur Mbah Semi.

(TRIBUNNETWORK/TRIBUNNEWSWIKI)

Baca berita terkait di sini





BERITATERKAIT
Ikuti kami di


KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Red CobeX (2010)

    Red CobeX adalah sebuah film komedi Indonesia yang
  • Film - Utusan Iblis (2025)

    Utusan Iblis adalah sebuah film horor Indonesia yang
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved