"Dan kami tahu mereka sudah mempersiapkan, memang dari kemarin anggota kami sudah razia, sudah dapatkan banyak sekali lebih dari 30, karena kalau ban dibakar 30 biji bisa dibayangkan asap hitam seolah-olah nanti membuat kekacauan," lanjutnya.
Menurutnya, polisi tidak melakukan penyerangan apapun kepada massa aksi selain mengimbau agar jalannya proses penyampaian pendapat berlangsung humanis.
Bahkan untuk meredam hal tersebut, polisi hanya mengeluarkan satu perlawanan dengan menyemprotkan air dari mobil water canon.
Oleh karena itu, dia tak mengetahui apa sebab seorang peserta massa aksi sampai luka-luka.
"Karena kalau tadi ada orang yang tadi kena lempar saya enggak tahu, bagaimana bisa melempar, temannya melempar mungkin engga kuat, jadi kena temannya," kata Karyoto.
"Karena ini beberapa beton ini dipecah pakai alat pemukul besi, kemudian untuk memukul polisi dan kami tidak membalas kami hanya mengimbau terus untuk tidak anarkis dan sambil bertahan menyemprotkan air," imbuhnya.
Karyoto memastikan, tidak ada anggotanya yang terluka meski aksi unjuk rasa kali ini berlangsung dramatis.
Pasalnya, setiap anggota polisi sudah ditamengi oleh alat perlindungan diri serta helm untuk menghindari lemparan batu dan botol-botol air mineral.
Kendati begitu, dalam hal ini dia menyayangkan perbuatan Pamong Praja yang tidak mencerminkan pelayan masyarakat lewat aksi anarkisnya itu.
"Kami melihat untuk pembelajarannya juga harusnya Pamong Praja ya, Pamong Praja secara politik dia adalah pemimpin yang paling dasar di wilayah seluruh Republik Indonesia, jangan memperlihatkan perilaku-perilaku seperti itu," ungkap Karyoto.
"Revisi sebuah Undang-Undang itu adalah hal yang wajar, hanya saja saat ini mungkin DPR sedang tidak ada rapat, sehingga ketika mereka datang hanya beberapa orang yang bisa hadir untuk menemui," pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, sejumlah spanduk berikut kayu-kayu penyangganya dibakar oleh sejumlah massa aksi Asosiasi Kepala Desa (APDESI) tepat di depan pagar Gedung DPR MPR RI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (31/1/2024).
Dari pantauan Wartakotalive.com di lokasi sekira pukul 11.00 WIB, nampak sejumlah massa aksi yang membakar spanduk mengenakan kemeja putih.
Spanduk itu dibakar bersamaan dengan orator menyuarakan aspirasinya di atas mobil komando.
Meski telah diingatkan oleh orator untuk tertib dan tak merusuh, namun sejumlah perangkat desa itu tetap melakukan pembakaran spanduk hingga asap hitam membumbung tinggi di depan pintu masuk DPR RI.
Bahkan, mereka asik berjoget sambil meluapkan kekesalannya kepada sosok Puan Maharani selaku Ketua DPR RI.
Hingga pukul 11.26 WIB ini, nampak sejumlah spanduk itu masih dibakar oleh massa aksi.
Bahkan, sejumlah botol air mineral dilempar massa aksi ke dalam Gedung DPR RI sambil melontarkan kalimat-kalimat penolakan atas keputusan yang dianggap tak pro rakyat.
Tak hanya itu, para massa aksi juga melempar sejumlah bongkahan batu berukuran 1 genggam tangan ke dalam Gedung DPR RI.
Mereka juga mengultimatum DPR RI apabila tidak merevisi Undang-Undang Desa, massa aksi akan masuk dan menggeruduk gedung putih tersebut.