TRIBUNNEWSWIKI.COM - Hamas telah merilis sebuah video yang menunjukkan tiga tawanan Israel yang dikatakan dibunuh oleh tentaranya sendiri.
“Kami mencoba untuk menjaga mereka tetap hidup, tetapi Netanyahu bersikeras untuk membunuh mereka,” tulis pesan dalam video pendek itu di awal klip seperti dilihat Serambinews.com dari akun instagram Al Jazeera, Jumat (22/12/2023).
Video tersebut memperlihatkan ketiga pria tersebut ketika masih hidup, tersenyum dan memegang kertas putih berisi nama dan nomor identitas mereka.
Klip lain menunjukkan ketiga pria itu duduk di sebuah meja di tempat yang tampak seperti bunker bawah tanah.
Mereka diidentifikasi sebagai Elia Tolidano, warga negara Israel-Prancis; Nik Beizer; dan Ron Sherman, seorang Israel-Argentina.
Ini bukan kali pertama Hamas rilis rekaman tawanan Israel yang berada di tangan mereka.
Baca: RENCANA Besar Hamas, Tentara Israel Hadapi Kesulitan di Jalur Gaza
Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam beberapa waktu lalu juga membagikan video baru sandera lanjut usia Israel yang mengirim pesan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu; "Jangan Biarkan Kami Menjadi Tua Di Sini".
Pesan tersebut muncul di awal dalam tiga bahasa berbeda; Arab, Ibrani dan Inggris.
Di awal video, seorang sandera Israel berusia 78 tahun bernama Haeim Bery menyerukan gencatan senjata dan pertukaran sandera dan menambahkan bahwa dia adalah salah satu orang pertama yang menjadi bagian dari pembentukan tentara Israel.
Bery, dari pemukiman pendudukan Nair Ouz kibbutz, mengatakan dia berada di sini bersama orang-orang lanjut usia lainnya, yang semuanya menderita “penyakit kronis” dan menderita keadaan yang sulit.
Salah tembak
Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Herzi Halevy, mengumumkan dia dan tentara Israel bertanggung jawab atas terbunuhnya tiga sandera yang salah sasaran.
Sebelumnya pada Jumat (15/12/2023), dilaporkan tentara Israel menembaki tiga sandera selama operasi tempur di Shejaiya, Kota Gaza, di mana pertempuran melawan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) sedang berlangsung.
Menanggapi kesalahan itu, Herzi Halevy selaku Kepala IDF menulis dalam tweet di platform “X”.
“Saya dan tentara Israel di bawah kepemimpinan saya bertanggung jawab atas apa yang terjadi,” tulisnya, Sabtu (16/12/2023).
"Penembakan itu dilakukan dengan melanggar instruksi; Dilarang menembak siapa pun yang mengibarkan bendera putih," lanjutnya.
Herzi Halevy mengatakan IDF telah menyelesaikan penyelidikan awal atas insiden tersebut.
Baca: Israel Larang Video Pembebasan Sandera yang Akrab dengan Hamas, Sebut Berbahaya Bagi Negara
Ia memastikan IDF akan mengambil pelajaran dari pertempuran tersebut dan mentransfernya ke pasukan tempur di lapangan.
Kepala IDF itu mengakui insiden tersebut adalah kesalahan besar.
"Apa yang terjadi adalah tragedi yang kami tanggung jawab dan insiden tersebut terjadi ketika pasukan militer Israel secara keliru menganggap bahwa para tahanan merupakan ancaman, yang menyebabkan penembakan yang fatal,” katanya.
Tiga sandera Israel di Gaza oleh pasukan Israel bertelanjang dada dan salah satu dari mereka mengibarkan bendera putih, menurut inisial penyelidikan atas insiden tersebut, kata seorang pejabat militer, dikutip dari Al Jazeera.
Demonstrasi di Tel Aviv
Tentara Israel, IDF, panen demo setelah serdadunya kembali melakukan tindakan konyol salah tembak dan menyebabkan 3 warga Israel tewas di Jalur Gaza.
Aksi demo ini dilakukan warga Israel dengan menggelar aksi turun ke jalanan di kota Tel Aviv.
Ketiga warga Israel yang tewas itu itu disebut "salah diidentifikasi" sehingga dirasa mereka adalah "ancaman" oleh tentara IDF yang beroperasi di Shujaiya, Gaza utara.
Para korban tersebut adalah Yotam Haïm, seorang drummer heavy metal berusia 28 tahun, Samer al-Talalqa, seorang dari suku Bedawi berusia 25 tahun dan Alon Lulu Shamriz, 26.
Dan pasukan Israel mengumumkan bahwa ketiga jenazah tersebut telah dipulangkan ke Israel.
Kemudian dikutip dari Associated Press, Sabtu (16/12/2023), Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dikabarkan menyesalkan terjadinya tragedi tersebut dan menyebut seluruh Negara Israel kini berduka.
Selanjutnya usai tewasnya warga Israel di tangan tentara IDF, keluarga sandera dan pendukungnya memutuskan untuk turun ke jalan dengan membawa foto para tawanan di depan Kementerian Pertahanan Israel di Tel Aviv.
Mereka menuntut untuk membuat kesepakatan segera bagi pembebasan para sandera. Ratusan pengunjuk rasa itu ikut berbaris bersama para keluarga dan memblokir jalan-jalan utama di Tel Aviv.
Mereka juga menumpahkan cat merah di jalan, yang dimaksudkan untuk melambangkan darah para sandera.
Protes yang berlangsung selama beberapa jam dari para pendemo mereka berteriak "kesepakatan, sekarang!" guna membebaskan para sandera.
Kemudian selepas tragedi ini, militer Israel atau yang juga dikenal sebagai IDF akan melakukan "jeda taktis" untuk memungkinkan pengisian kembali pasokan di Gaza selatan pada hari Sabtu.
Menurut kantor Koordinasi Kegiatan Pemerintah di Wilayah Israel (COGAT) dalam unggahan di X, "jeda" akan berlangsung di lingkungan Tel al Sultan di Rafah, antara pukul 10.00 hingga 14.00 waktu setempat.
Jeda serupa sebelumnya telah terjadi di lingkungan Al Salam dan Al Shabura di Rafah pada hari Rabu dan Kamis lalu.
Setelah tentara Israel mengumumkan rincian insiden tersebut, demonstrasi yang penuh kemarahan terjadi di depan Kementerian Pertahanan Israel di Tel Aviv.
Mereka menuntut kesepakatan segera untuk memulangkan sisa orang yang disandera oleh Hamas dari Jalur Gaza.
Para demonstran memblokir lalu lintas di Kaplan Junction ketika mereka berjalan menuju markas militer IDF di Kirya.
“Waktu mereka hampir habis! Bawa mereka pulang sekarang!” terdengar teriakan dari massa.
“Tidak ada kemenangan sampai setiap sandera dibebaskan!” kata mereka.
Mereka menolak argumen bahwa serangan militer akan membantu menekan Hamas untuk melepaskan sandera.
“Negara Israel dan para pemimpinnya bertindak seolah-olah mereka menyerah terhadap para sandera. Kami mendapatkan semua sandera (kembali) sebagai mayat. Mereka sekarat. Mereka tewas akibat pemboman, kegagalan operasi penyelamatan dan tembakan pasukan kami bahkan ketika mereka berhasil melarikan diri,” katanya kepada Haaretz, Jumat (15/12/2023) malam.
(SERAMBI/TRIBUNNEWSWIKI/)
Baca berita terkait Hamas di sini