TRIBUNNEWSWIKI.COM - Liburan menjadi salah satu cara untuk melepas kepenatan dari aktivitas sehari-hari.
Hanya saja, tidak jarang rencana liburan tidak semudah dibayangkan apalagi jika terganjal kondisi anggaran.
Tidak sedikit orang yang memilih membatalkan liburan lantaran takut kantong mereka terganggu.
Namun, ada juga yang memaksakan diri meski akhirnya kelimpungan setelah pulang dari liburan.
"Liburan sebetulnya kebutuhan atau keinginan? Ini jadi kata kunci yang menghubungkan setiap aktivitas dengan cash flow. Bicara keuangan, topik utamanya adalah menempatkan setiap aspek pengeluaran dalam posisi apakah kebutuhan atau keinginan karena dua posisi ini sangat menentukan dalam posting anggaran," kata Certified Financial Planner OneShildt, Imelda Tarigan dalam kelas finansial Jenius, Kamis (2/11/2023).
Oleh karena itu, ada baiknya menentukan arah sebelum menyusun anggaran.
Imelda mengatakan, tujuan hidup seseorang dapat menentukan arah alokasi anggaran keuangannya.
Termasuk menentukan apakah liburan termasuk dalam bagian kebutuhan atau keinginan.
"Liburan kebutuhan atau keinginan? Ini jadi kata kunci penghubung aktivitas dengan cash flow. Pertama kali kalau mau membuat suatu anggaran gak bisa lepas dari pertanyaan apa cita-cita hidupmu? Ini adalah keyword, seseorang harus tahu tujuan hidupnya dan boleh lebih dari satu tujuan hidup. Kemudian baru menentukan liburan ini masuk tujuan hidup yang mana. Kalau liburan sama sekali tidak ada di dalam cita-cita hidup, maka itu masuk keinginan bukan kebutuhan," kata Imelda.
Apabila liburan menjadi sebuah menjadi kebutuhan maka butuh anggaran untuk bisa mewujudkannya. Imelda membuat alokasi anggaran sederhana dengan membagi pemasukan ke dalam empat pos berbeda.
Rinciannya, 10 persen pemasukan dianggarkan untuk kebutuhan sosial dan ibadah. Lalu 20 persen pemasukan diarahkan pada pos investasi, tabungan, dan asuransi.
Selanjutnya, 30 persen pemasukan dialokasikan untuk anggaran membayar utang dan 40 persen pemasukan mengarah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Liburan itu kalau bukan menjadi cita-cita, berarti hanya keinginan saja. Jadi kita tahu posisinya dimana, maka mimpi kita tidak akan buyar. Karena mimpi bisa buyar kalau bawah sadar kita sangat besar, terutama untuk mewujudkan keinginan liburan. Ini bisa terjaid karena beberapa faktor. Misalnya FOMO, gengsi, dendam masa lalu, takut ditinggal teman, jaga image atau meniru idola," jelas Imelda.
Maka sejalan dengan kondisi itu, Digital Banking Partnership Head Bank BTPN, Febri Rusli menjelaskan Jenius sebagai bank digital memiliki enam fitur relevan untuk membantu penggunan sebelum atau saat liburan.
"Enam fitur yang paling relevan buat traveling di Jenius itu Save It, Saldo Mata Uang Asing, kartu debit (m-Card), kartu kredit, Jenius QR, dan Flexi Cash," kata Febri.
Baca: Jenius Luncurkan Kartu Kredit Serba Digital, Semua Bisa Dikelola Langsung dari Aplikasi
Fitur Save It bisa digunakan ketika merencanakan anggaran liburan. Yakni dengan menyicil tabungan untuk liburan, yang bisa diatur mulai dari target tabungan hingga periode menabung (harian, mingguan, bulanan).
Lalu, fitur Saldo Mata Uang Asing bisa digunakan untuk membeli mata uang tempat negara liburan.
Saat ini te4rsedia 9 mata uang asing lewat aplikasi Jenius.
Yakni dolar AS, dolar Singapura, dolar Australia, dolar Hong Kong, pound terling Inggris, yen Jepang, Euro, yuan China, dan baht Thailand.
"Kamu bisa beli sebelum berangkat sehingga sesampainya di sana kamu hanya tinggal menghubungkan dengan m-Card Jenius untuk tarik tunai dan bertransaksi di jaringan Visa," jelas Febri.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)