TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kabinet keamanan Israel secara resmi menyatakan perang terhadap Hamas pada hari ini, Minggu (8/10/2023).
Hal itu disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dikutip dari CNN via Kompas.
Deklarasi perang diambil sesuai dengan Pasal 40 Undang-Undang Dasar Israel.
Israel tidak memiliki konstitusi tertulis, namun 13 Hukum Dasarnya memiliki fungsi yang sama.
Adapun jumlah korban hingga deklarasi perang diumumkan telah meningkat. Media lokal melaporkan 600 orang Israel tewas akibat serangan itu.
Sementara pihak berwenang Palestina mengatakan setidaknya 370 orang tewas dan 2.200 orang terluka di Gaza akibat serangan balasan Israel.
Baca: Bantu Israel Melawan Hamas, AS Kerahkan Kapal Induk Tercanggihnya, Gerald Ford
Baca: PM Benjamin Netanyahu Bersumpah Balas Dendam Lebih Besar ke Hamas Imbas 300 Orang Israel Tewas
Sebelumnya, serangan roket diluncurkan Hamas ke Israel hingga melintasi Ibu Kota Israel, Tel Aviv pada Sabtu (7/10/2023).
Netanyahu mengutuk keras serangan tersebut dan mengatakan bahwa Israel sedang dalam keadaan perang. Namun saat itu, deklarasi hanya bersifat retoris.
Pertama kali sejak Perang Yom Kippur 1973
Keputusan Kabinet keamanan Israel mendeklarasikan perang secara resmi merupakan peristiwa pertama sejak Perang Yom Kippur 1973.
Sesaat setelah deklarasi perang diumumkan, jet-jet tempur Israel melakukan serangan udara secara intens di jalur Gaza.
Dikutip dari Times of Israel, Netanyahu mengumumkan bahwa keputusan itu membuka aktivitas militer yang signifikan.
Para pejabat memperkirakan lebih dari 600 orang tewas dalam serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh Hamas di Israel di dekat Gaza.
Serangan itu menjadi hari paling berdarah dalam sejarah Israel. Operasi balasan segera dilancarkan oleh Israel ke Hamas.
Pada Sabtu (7/10/023), Netanyahu juga bersumpah akan membalas serangan Hamas.
"Perang ini akan memakan waktu. Ini akan sulit," ucapnya, dilansir dari Live Now.
Potensi keterlibatan Hizbullah
Gejolak peperangan Israel dan militan Palestina, Hamas, berpotensi mengancam keterlibatan Hizbullah, musuh bebuyutan Israel yang didukung oleh Iran dan diperkirakan memiliki puluhan ribu roket.
Mereka merupakan kelompok militan dan partai politik terbesar di Lebanon.
Baca: 250 Warga Israel Tewas Kena Serangan Hamas, Selebriti Gal Gadot Murka: Perempuan-Anak Anak Disandera
Hizbullah telah menembakkan puluhan roket dan peluru pada Minggu (8/10/2023). Mereka mengaku bertanggung jawab atas serangan yang dilancarkan ke tiga target di dalam wilayah Shebaa Farms yang dikuasai Israel.
"Hati kami bersama Anda. Pikiran kami bersama Anda. Jiwa kami bersama Anda. Sejarah, senjata, dan roket kami bersama kalian," kata pejabat tinggi Hizbullah, Hashem Safieddine, dilansir dari Washington Post.
Masuknya Hizbullah menyuntikkan elemen baru yang mudah terbakar ke dalam pertempuran, ketika Israel terguncang oleh serangan canggih dan bercabang yang telah menewaskan sedikitnya 600 warganya dan lebih dari 2.000 lainnya terluka.
Sementara itu, militer Israel membalas serangan tersebut dengan pesawat tak berawak bersenjata.
Pejabat militer Israel, Laksamana Muda Daniel Hagari mengatakan bahwa situasi di perbatasan utara sudah tenang setelah pertukaran tersebut. Namun, dia menyampaikan bahwa pertempuran masih berlangsung di selatan dan masih ada situasi penyanderaan di sana.
Sedikitnya 10 lokasi di Israel selatan, termasuk lingkungan pemukiman dan pangkalan militer, masih menjadi zona pertempuran aktif pada Minggu sore.
(TRIBUNNEWSWIKI)
Baca berita terkait Hamas di sini