SAF dan RSF Setujui Gencatan Senjata 3 Hari di Sudan

Gencatan senjata selama 72 jam disepakati oleh pihak yang bertikai di Sudan.


zoom-inlihat foto
Bandara-Internasional-Khartoum-Sudan.jpg
PLANET LABS PBC / AFP
Beberapa pesawat di Bandara Internasional Khartoum, Sudan, rusak setelah terjadinya bentrokan pada hari Sabtu, (15/4/2023).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Dua kubu yang berseteru di Sudan, Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF), sepakat untuk mengadakan gencatan senjata selama tiga hari.

Menurut keterangan yang disampaikan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken pada hari Senin, (24/4/2023), gencatan senjata dimulai pada tengah malam waktu setempat.

Blinken juga mendesak SAF dan RSF untuk sepenuhnya mematuhi kebijakan gencatan senjata.

“Setelah perundingan intens, SAF dan RSF telah sepakat untuk menerapkan dan mematuhi gencata senjata di seluruh negara itu selama 72 jam, dimulai pada tengah malam tanggal 24 April,” kata Blinken dikutip dari United Press International.

“Kami menyambut baik komitmen untuk bekerja sama dengan para rekan dan pemangku kepentingan demi penghentian kekerasan secara permanen dan urusan kemanusiaan.”

“Kami akan terus bekerja sama dengan pihak-pihak di Sudan dan rekan kami demi mencapai tujuan bersama, yakni mengembalikan pemerintahan sipil di Sudan,” kata dia menambahkan.

Baca: Stok Makanan Mahasiswa Indonesia di Sudan Mulai Menipis, Hanya Sisa Nasi dan Mie Instan

Para pejabat AS pada hari Senin juga mengumumkan bahwa mereka kin berupaya membantu warga AS keluar dari Sudan.

Juru bicara Kementerian Pertahanan AS, Patrick Ryder, berujar bahwa pihaknya berencana mengirimkan kapal di lepas pantai Sudan untuk membantu evakuasi warga AS.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan PBB tidak akan meninggalkan Sudan. Dia juga meminta anggota Dewan Keamanan (DK) PBB untuk mendesak dihentikannya kekerasan di negara itu.

Baca: Krisis Sudan, Negara-Negara Barat Mulai Mengevakuasi para Diplomat

“Sejak awal pertempuran tanggal 15 April, ratusan orang telah tewas dan ribuan terluka. Kekerasan harus dihentikan,” kata Guterres di depan Dewan Keamanan (DK) PBB.

“Izinkan saya menjelaskan: PBB tidak meninggalkan Sudan. Komitmen kita kepada warga Sudan adalah mendukung harapan mereka akan perdamaian dan masa depan yang aman. Kita bersama mereka pada waktu yang mengerikan ini,” kata Guterres.

Prancis, Jerman, Inggris, dan negara lainnya juga sudah mulai menarik para diplomat dari Sudan karena pertempuran di Sudan meningkat.

AS menyelesaikan evakuasi diplomatnya pada hari Minggu. Adapun Inggris, Swedia, Spanyol, Belanda, Jepang, Italia, Jerman, Prancis, dan Kanada telah mengevakuasi diplomat, staf kedutaan, dan lainnya dari Khartoum.

“Inggris telah menjalankan operasi militer untuk mengevakuasi staf Kedubes Inggris dari Khartoum karena meningkatnya kekerasan dan ancaman terhadap diplomat asing,” demikian pernyataan Inggris pada hari Minggu.

Baca: Kekerasan di Sudan Meningkat, Pihak Pemerintah Abaikan Seruan Gencatan Senjata

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Sudan di sini.





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved