TRIBUNNEWSWIKI.COM - Angkatan Darat (AD) Sudan menyatakan Rapid Support Forces (RSF) sebagai kelompok pemberontak dan mendesaknya agar dibubarkan.
Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Sudan pada hari Senin, (17/4/2023), Jenderal Abdel Fattah al-Burhan disebut telah menyatakan bahwa RSF melawan pemerintah. Burhan saat ini menjabat sebagai panglima AD Sudan dan secara de facto menjadi kepala negara.
Pertempuran antara tentara Sudan dan RSF masih berlangsung hingga saat ini dan korban jiwa terus bertambah.
Menurut Kemenlu Sudan, pertempuran yang berlangsung mulai hari Sabtu lalu dipicu oleh pemberontakan RSF terhadap angkatan bersenjata Sudan. Burhan juga disebut telah dijadwalkan untuk bertemu pemimpin RSF, Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti, pada hari ketika pertempuran dimulai.
Menurut pantauan wartawan Al Jazeera, pertempuran di pusat Kota Kharkoum mulai berkurang intensitasnya pada hari Senin. Akan tetapi, pertempuran itu diduga telah berpindah ke pelosok kota.
Pertempuran itu membuat warga sipil di Sudan makin cemas. Mereka memilih berdiam di rumah.
Baca: Lebih dari 180 Orang Tewas dalam Pertempuran di Sudan, Usulan Genjatan Senjata Digaungkan
Pemimpin AD Sudan mengklaim telah mendapat sejumlah keberhasilan dalam serangan. Kantor radio pemerintah dan televisi dikabarkan berhasil direbut kembali.
Di sisi lain, Hemedti selaku pemimpin RSF mendesak masyarakat dunia untuk ikut campur tangan melawan Jenderal Abdel Fattah. Menurut dia, Burhan adalah "seorang islamis radikal yang mengebom warga sipil dari udara".
Kedua belah pihak mengklaim telah melakukan tindakan pencegahan guna memastikan warga sipil tidak ikut terluka dalam pertempuran. Keduanya juga saling menyalahkan.
Baca: Korban Jiwa akibat Krisis Sudan Tembus 97 Orang, 3 di Antaranya Staf PBB
Korban tewas bertambah
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), korban tewas akibat bentrokan militer di Sudan setidaknya sudah mencapai 185 orang.
Dalam pertempuran itu, kedua belah pihak mengerahkan tank, artileri, dan senjata berat lainnya di area pada penduduk. Di samping itu, keduanya juga menggunakan jet tempur dan senjata antipesawat.
Utusan khusus PBB di Sudan, Voker Perthes, mengatakan kedua belah pihak tampak tidak ingin melakukan perundingan demi perdamaian.
Sekretasi Jenderal PBB, Antonio Guterres, telah meminta kedua belah pihak untuk segera menghentikan pertempuran. Dia memperingatkan bahwa eskalasi yang lebih besar bisa menghancurkan Sudan.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Antony Blinken, juga sudah menelepon Burhan dan Dagalo guna meredakan situasi.
Sementara itu, negara-negara anggota Group of Seven (G-7) telah mengeluarkan pernyataan yang isinya mengecam pertempuran di Sudan.
"Kami mendesak kedua belah pihak untuk segera menghentikan pertempuran tanpa prasyarat," demikian kata G-7.
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Sudan di sini.