TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membatalkan pencopotan Menteri Pertahanan Yoav Gallant dari jabatannya setelah mendapat protes besar-besaran.
Dalam pidatonya yang disiarkan di televisi hari Senin, (10/4/2023), Netanyahu menyatakan Gallant akan tetap menjadi Menhan. Padahal, dua pekan sebelumnya dia telah memutuskan untuk memecat Gallant.
"Saya memutuskan untuk menempatkan perbedaan kita di belakang kita," kata Netanyahu dikutip dari The Guardian.
"Gallant tetap berada pada posisinya dan kita akan terus bekerja sama demi keamanan rakyat Israel."
Gallant sendiri menyambut baik keputusan Netanyahu. Dia bahkan mengunggah foto dia bersama Netanyahu di media sosial. Foto itu diberi keterangan, "Kami terus bersama dengan kekuatan penuh demi Israel."
Sebelumnya, keputusan pencopotan Gallant memicu protes besar-besaran dari rakyat Israel.
Baca: Konflik Israel-Palestina, AS Tegaskan Kembali Komitmen Solusi Dua Negara
Ketika dicopot, Gallant bahkan belum menerima surat resmi pencopotan. Dia kini tetap menjabat sebagai Menhan di tengah situasi yang memanas akibat serbuan polisi Israel ke Masjid Al-Aqsa.
Pekan lalu Israel diserang oleh roket yang ditembakkan dari Gaza, Lebanon, dan Suriah. Di samping itu, terdapat insiden penembakan di Tepi Barat yang menewaskan warga negara Inggris-Israel.
Baca: Balas Roket Suriah, Israel Lancarkan Serangan Artileri dan Drone
Krisis keamanan itu makin membuat popularitas Netanyahu anjlok. Bahkan, jajak pendapat yang dilakukan hari Minggu lalu menunjukkan hanya ada 27 persen responden yang "mengandalkan pemerintah untuk mengatasi gelombang teror".
Dalam pidatonya, Netanyahu berupaya menyingkirkan keraguan warga Israel mengenai kepemimpinannya. Menurutnya, pasukan Israel sudah menyerang balik dan akan "menyeleasikan masalah dnegan para teroris".
"Saya bekerja dengan tekad dan tanggung jawab," ujarnya. "Kita akan menyingkirkan bahaya dan menang atas lawan-lawan kita."
Sejumlah prajurit cadangan angkatan darat dan angkatan laut ikut dalam aksi unjuk rasa di Israel. Menurut Netanyahu, para prajurit itu malah membuat musuh Israel makin berani.
"Musuh kita menafsirkan seruan untuk menolak bertempur sebagai kelemahan." Para prajurit sebenarnya sudah menjelaskan bahwa mereka masih akan ikut bertempur apabila dibutuhkan.
Menurut jajak pendapat di atas, hanya ada seperlima warga Israel yang puas dengan kinerja Netanyahu sebagai Perdana Menteri.
Baca: Warga Palestina Kembali Diserang saat di Masjidil Aqsa, Liga Arab Sepenuhnya Salahkan Israel
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Israel di sini.