TRIBUNNEWSWIKI.COM - Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat setidaknya sudah ada 100 gempa susulan di Turki setelah gempa besar yang terjadi hari Senin, (6/2/2023).
Frekuensi gempa susulan sudah mulai berkurang dan magnitudonya cenderung mengecil.
USGS memperkirakan gempa susulan bermagnitudo 5,0 hingga lebih dari 6,0 kemungkinan masih akan terjadi. Hal ini memunculkan risiko kerusakan tambahan terhadap bangunan yang sudah diguncang gempa pertama.
Gempa susulan terjadi di sepanjang zona patahan di Turki selatan, dari barat daya ke timur laut serta membentang dari perbatasan dengan Suriah hingga Provinsi Malatya.
Korban jiwa dan rusaknya bangunan
Ketika berita ini ditulis, jumlah korban jiwa tercatat mencapai 4.372. Sebelumnya, menurut Yunus Sezer selaku pejabat lembaga yang mengurusi bencana di Turki, jumlah korban jiwa mencapai 2.921 pada Selasa pagi.
Baca: PBB Sebut Jumlah Kematian Gempa Turki-Suriah Kemungkinan akan Tembus 20 Ribu Jiwa
Korban luka dilaporkan mencapai 15.834. Sementara itu, jumlah korban jiwa di Suriah mencapai 1.451, sedangkan korban luka mencapai 3.531.
Sementara itu, UNICEF menyebut ribuan bangunan kemungkinan telah hancur akibat gempa di Turki dan Suriah.
"Ribuan rumah sepertinya telah hancur, membuat keluarga telantar," demikian pernyataan UNICEF dikutip dari CNN International.
Para korban juga berisiko terpapar oleh suhu udara yang dingin.
Baca: 20 Tahanan Melarikan Diri dari Penjara Usai Gempa Turki-Suriah, Sebagian Besar Anggota ISIS
"Badai salju besar juga baru saja melanda sebagian Suriah dan Turki, dan diperkirakan suhu mencapai di bawah nol derajat."
UNICEF menyebut gempa kemungkinan juga merusak rumah sakit, sekolah, serta fasilitas kesehatan dan pendidikan lainnya.
Lembaga PBB itu kini bekerja sama dengan pemerintah Turki untuk memberikan bantuan kemanusiaan. UNICEFF juga menyiapkan bantuan untuk Suriah.
"Anak-anak di Suriah terus menghadapi salah satu situasi kemanusiaan paling rumit di dunia ini. Krisis ekonomi yang memburuk, perselisihan dalam negeri yang terus berlanjut setelah konflik parah lebih dari satu dekade, penelantaran besar-besaran dan hancurnya prasarana masyarakat membuat dua pertiga warganya membutuhkan bantuan, penyakit yang menyebar lewat udara memunculkan ancaman mematikan lainnya bagi anak-anak dan keluarga yang terdampak."
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Turki di sini.