Krisis Jumlah Penduduk di Jepang, PM Kishida Peringatan Dampaknya

Menurut Fumo Kishida, Jepang kini terancam tidak bisa "mempertahankan fungsi-fungsi sosial" karena krisis demografi.


zoom-inlihat foto
Perdana-Menteri-Jepang-Fumio-Kishida.jpg
STR / JIJI PRESS / AFP
Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida menjawab sejumlah pertanyaan setelah Korea Utara diduga menembakkan rudal balistik, Kantor Perdana Menteri, Tokyo, 5 Januari 2022.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida memperingatkan dampak krisis jumlah penduduk di negaranya yang disebabkan oleh penurunan angka kelahiran.

Menurut Kishida, Jepang kini terancam tidak bisa "mempertahankan fungsi-fungsi sosial" akibat krisis itu. Dalam pidatonya kepada anggota parlemen, Kishida mengatakan persoalan itu harus "diselesaikan sekarang atau tidak sama sekali".

"Dalam memikirkan keberlanjutan dan inklusivitas ekonomi dan masyarakat kita, kita menempatkan bantuan pengasuhan anak sebagai kebijakan terpenting kita," kata Kishida dikutip dari CNN International, (24/1/2023).

Kishida meminta pemerintah menggandakan anggarannya dalam program yang terkait dengan anak-anak. Selain itu, kata dia, badan baru akan dibuat oleh pemerintah pada bulan April mendatang guna mengurus persoalan itu.

Jepang tercatat menjadi salah satu negara dengan angka kelahiran terendah di dunia. Kementerian Kesehatan Jepang memprediksi angka kelahiran akan turun hingga di bawah 800.000 pada tahun 2023. Angka itu menjadi yang terendah sejak pencatatan dimulai tahun 1899.

Baca: Jumlah Penduduk Tiongkok Dilaporkan Berkurang, Apa Dampaknya?

Di sisi lain, Jepang juga menjadi salah satu negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia. Pada tahun 2020 tercatat ada hampir satu dari 1.500 warga Jepang yang berumur 100 tahun atau lebih.

Tren penurunan ini menyebabkan krisis demografi. Jumlah akan angkatan kerja menurun sehingga tidak ada cukup warga berusia muda yang bisa mengatasi kemandekan ekonomi.

Baca: Korut Diduga Tembakkan Rudal Balistik Antarbenua ke Perairan Jepang

Para pakar mengungkap beberapa penyebab di balik rendahnya angka kelahiran. Menurut mereka, biaya hidup yang mahal, terbatasnya tempat, dan kurangnya bantuan perawatan anak di perkotaan membuat warga Jepang kesusahan membesarkan anak.

Berbagai persolan itu membuat hanya ada sedikit pasangan yang memutuskan untuk memiliki anak. Pasangan suami istri di perkotaan juga jauh dari keluarga besar mereka sehingga susah meminta bantuan.

Selain itu, pandangan tentang pernikahan dan keluarga sudah berubah dalam beberapa tahun belakangan. Pada masa pandemi ini ada lebih banyak pasangan yang menunda pernikahan.

Hal lain yang dianggap sebagai biang keroknya ialah pesimisme kalangan muda dalam memandang masa depan. Banyak pemuda yang mengalami frustrasi akibat tekanan kerja dan kemandekan ekonomi.

Ekonomi Jepang mengalami stagnasi sejak bubble burst pada awal 1990-an. Menurut data dari Bank Dunia, pertumbuhan PDB negara itu telah melambat dari 4,9 persen pada tahun 1990 menjadi hanya 0,3 persen pada tahun 2019.

Baca: Korut Diduga Tembakkan Rudal Balistik Antarbenua ke Perairan Jepang

Jepang tidak sendiri. Setidaknya ada dua negara lain di Asia Tenggara yang juga mengalami penurunan angka kelahiran, yakni Korea Selatan (Korsel) dan Tiongkok.

Angka kelahiran di Korsel mencapai rekor terendahnya pada tahun 2022. Sementara itu, pada tahun yang sama jumlah penduduk Tiongkok berkurang untuk pertama kalinya sejak dekade 1960-an.

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Jepang di sini.

 





KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2023 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved