Qatar 2022, Presiden FIFA: Harusnya Eropa Minta Maaf selama 3.000 Tahun

Presiden FIFA Gianni Infantino membela Qatar yang dikritik keras atas perlakukannya terhadap pekerja migran dan kaum LGBTQ.


zoom-inlihat foto
Presiden-FIFA-Gianni-Infantino-saat.jpg
GABRIEL BOUYS / AFP
Presiden FIFA Gianni Infantino saat konferensi pers pembukaan Piala Dunia 2022 di Qatar National Convention Center (QNCC), Doha, (19/11/2022).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden FIFA Gianni Infantino mengatakan negara-negara Eropa harus meminta maaf selama 3.000 tahun ke depan atas apa yang dilakukan selama 3.000 tahun terakhir.

Infantino menyampaikannya saat konferensi pers pembukaan Piala Dunia 2022 di Qatar, (19/11/2022).

Ucapan itu terkait dengan kritik keras yang ditujukan kepada Qatar selaku tuan rumah penyelenggaran Piala Dunia. Qatar dikecam atas perlakukannya terhadap pekerja migran dan sikapnya tentang hak-hak kaum LGBTQ.

Selain itu, hal turut disorot ialah keputusan pemerintah Qatar unuk melarang penjualan minuman keras di delapan stadion.

Infantino sendiri tampak membela Qatar dan menyinggung apa yang telah dilakukan oleh orang Eropa selama 3.000 tahun terakhir.

"Atas apa yang kita, orang Eropa, lakukan di seluruh dunia selama 3.000 tahun terakhir, kita harus meminta maaf selama 3.000 tahun ke depan sebelum memberikan pelajaran moral kepada orang-orang," kata Infantino dikutip dari News Sky.

Baca: Gianni Infantino

"Berapa banyak perusahaan Eropa atau Barat yang mendapatkan [keuntungan] jutaan, miliaran, berapa banyak dari perusahaan itu yang sudah mengurus hak-hak pekerja migran bersama dengan pemerintah?"

"Tak ada satu pun karena jika Anda mengubah undang-undang, artinya keuntungan berkurang. Namun, kita melakukannya, dan di Qatar FIFA menghasilkan jauh lebih sedikit daripada salah satu perusahaan itu.

"Kini saya merasa jadi orang Qatar. Kini saya merasa jadi orang Arab. Kini saya merasa jadi orang Afrika. Kini saya merasa jadi gay. Kini saya merasa jadi orang difabel. Hari ini saya merasa seperti seorang pekerja migran."

"Tentu saja saya bukan orang Qatar, saya bukan orang Arab, saya bukan orang Afrika, saya bukan gay, saya bukan difabel."

Baca: Pemain Piala Dunia 2022 Qatar - Karol Linetty

"Tetapi saya merasa seperti itu karena saya tahu seperti apa rasanya didiskriminasi, dirundung, sebagai orang asing di negara asing."

Infantio merasa sangat yakin bisa mengontrol pergelaran akbar itu.

Dia turut menyinggung larangan penjualan minuman alkohol di stadion Qatar. Kata dia, larangan serupa juga pernah diberlakukan di stadion-stadion di Skotlandia, Prancis, dan Spanyol.

"Saya pikir tidak ada kata terlambat untuk berubah. Mungkin kita harus mengubah hal lain di antara persolan lain, saya tak tahu."

"Namun, dalam hal keamanan orang-orang, Anda berbicara tentarang LGBT, keamanan setiap orang dijamin."

Baca: Pemain Piala Dunia 2022 Qatar - Nikola Vlasic

Adapun mengenai persoalan pekerja migran, Qatar memiliki aturan atau sistem bernama kafala. Aturan ini memungkinkan warga Qatar atau perusahaan Qatar menyita paspor pekerja dan mencegahnya pergi dari Qatar.

Kelompok HAM menuding aturan ini memunculkan eksploitasi para pekerja. Pekerjaan mereka sangat melelahkan, tetapi mereka hanya digaji kecil. Mereka juga tidak bisa pulang hingga proyek selesai.

Selain itu, ada beberapa laporan pekerja migran yang tewas di tengah upaya Qatar mempersiapkan Piala Dunia 2022. Jumlahnya dilaporkan mencapai puluhan hingga ribuan.

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Qatar di sini.







KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved