Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Sering Didatangi Polisi, Berakhir Batalkan Pengajuan Autopsi

Devi Athok Yulfitri, ayah dari 2 korban Tragedi Kanjuruhan mencabut pengajuan autopsi kedua putrinya lantaran sering didatangi polisi


zoom-inlihat foto
Devi-Athok-Yulfitri-saa.jpg
TribunJatim/ Kukuh Kurniawan
Devi Athok Yulfitri saat ditemui di kediamannya. Devi mengakui takut meskipun dalam hati ingin jenazah kedua putrinya korban Tragedi Kanjuruhan diautopsi untuk mengetahui secara pasti penyebab kematiannya


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan buka suara soal sering didatangi rombongan polisi.

Hingga akhirnya Devi Athok Yulfitri, ayah dari mendiang Natasya Ramadani (16) dan Naila Angraini (14) mencabut pengajuan autopsi kedua putrinya.

Devi mengaku keluarganya sudah tiga kali didatangi pihak kepolisian.

Ia merasa terintimidasi atas kunjungan polisi di rumahnya, kawasan Bululawang, Kabupaten Malang.

Mereka menanyakan maksud Devi yang mengajukan permintaan autopsi untuk kedua anaknya.

"Tiga kali (didatangi polisi). Mereka datang rombongan. Enggak ada perkataan pengancaman, tapi kan didatangi saja takut," kata Devi, dikutip dari Tribun Wow.

Baca: 100 Anggota Polresta Malang Bersujud Minta Maaf untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Baca: Viral Kapolresta Malang Kota dan Anggota Sujud Massal Minta Maaf ke Para Korban Tragedi Kanjuruhan

Tak hanya itu saja ia juga menyebut permintaan keluarga agar ada eksternal Polri yang dilibatkan dalam autopsi juga tak dikabulkan.

"Kalau dilakukan autopsi, yang terlibat tidak hanya dari pihak polisi saja, melainkan juga ada pihak luar (yang ikut dilibatkan). Kalau enggak ada hal itu, ya enggak usah (dilakukan autopsi)," ujar Devi pada TribunJatim, Rabu (19/10/2022).

Selain Devi, tak ada keluarga korban Tragedi Kanjuruhan lain yang bersedia mengajukan autopsi.

Devi Atok Yulfitri menunjukkan foto kedua putrinya yang telah meninggal dunia, jadi korban Tragedi Kanjuruhan di kediamannya, Rabu (19/10/2022).
Devi Atok Yulfitri menunjukkan foto kedua putrinya yang telah meninggal dunia, jadi korban Tragedi Kanjuruhan di kediamannya, Rabu (19/10/2022). (SURYAMALANG.COM/Purwanto)

"Kenapa pihak keluarga dari korban meninggal tragedi Kanjuruhan yang lainnya enggak ikut mengajukan autopsi. Kalau usut tuntas, ya harus berkorban dan jangan hanya bicara. Yang saya sesalkan sampai sekarang ini, kok cuma saya yang bikin pengajuan autopsi, yang lainnya kemana kok tidak ikut bikin pengajuan autopsi," lanjut dia.

Bahkan pada Devi mengaku pasrah menyerahkan nasib pembunuhan dua putrinya ke tangan Tuhan.

"Enggak, Pak, biar azab Allah yang menghukum pelaku pembantaian kedua anakku," lanjutnya, Rabu (19/10/2022), seperti dikutip dari Surya Malang.

Pendamping Tim Gabungan Aremania (TGA), Andi Irfan, ikut berkomentar terkait hal tersebut.

Andi Irfan menyebut polisi ikut ambil bagian dalam batalnya pengajuan autopsi korban.

Aparat Polres Malang memberikan pengarahan soal cara menulis surat pernyataan pembatalan autopsi dengan datang ke rumah Devi.

"Di sini keluarga korban punya pemahaman, bahwa polisi sedang mengancam dan mengintimidasi, walaupun tidak ada kata-kata verbal yang mengarah ke sana. Tapi kehadiran mereka adalah ancaman kepada keluarga korban," terang Andi Irfan.

"Jadi saya kira kalau dari pihak kepolisian menyatakan tidak ada intimidasi, itu tidak sesuai dengan fakta dan kenyataan di lapangan. Saya melihat polisi menghalangi upaya penegakan hukum. Menghalangi upaya bersama untuk mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi di Kanjuruhan," lanjut dia.

(TRIBUN WOW/TRIBUNNEWSWIKI/Ka)

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribun Wow dengan judul Terintimidasi, Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Batal Ajukan Autopsi setelah Didatangi Polisi







KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2023 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved