TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kenaikan harga bahan bakar minya atau BBM berimbas dengan adanya sambutan demo dari mahasiswa Makassar.
Demo penolakan harga BBM ini dilakukan mahasiswa Makassar di beberapa titik.
Demonstran juga memblokade jalan utama hingga malam hari.
Mereka membakar ban bekas dan memblokade jalan depan sekretariatnya di Jalan Bontolempangan.
Mahasiswa-mahasiswa tersebut diketahui tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Aksi demo penolakan kenaikan harga BBM ini dilakukan lantaran naiknya BBM akan menambah beban rakyat kecil
Koordinator aksi, Wahyudi, Sabtu (3/9/2022), menyatakan kenaiakn BBM jelas menyusahkan rakyat.
Baca: Hari Ini, Jokowi Bakal Terima Laporan Hitungan Kenaikan Harga BBM Subsidi
Baca: Situasi Terkini Demo 11 April: Mahasiswa Bergerak ke Gedung DPR, Rombongan Pelajar Diamankan Petugas
"Kami menolak keras kenaikan harga BBM bersubsidi yang jelas akan menyusahkan masyarakat," tegas Wahyudi, dikutip dari Kompas.
Tak hanya itu saja, mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) juga melakukan hal yang sama.
Unjuk rasa mahasiswa Unhas berlangsung hingga malam hari dan berakhir pukul 20.00 WITA>
Para mahasiswa ini juga membakar ban bekas dan memblokade jalan di depan kampusnya yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan,.
Demonstrasi yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa ini sempat melumpuhkan arus kendaraan yang melintas di jalur Trans Sulsel.
Rencananya, mahasiswa di Makassar akan terus melakukan aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM yang menyengsarakan rakyat pasca-pandemi Covid-19.
Sebelumnya telah diberitakan, Harga bahan bakar minyak (BBM) resmi naik per Sabtu, (3/9/2022).
Kenaikan harga ini disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan mulai berlaku pukul 14.30 WIB.
“Pemerintah telah berupaya sekuat tenaga untuk melindungirakyat dari gejolak kenaikan harga minya duunia. Saat ini pemerintah harus membuat keputusan dalam situasi yang sulit, ini adalah pilihan terakhir pemerintah yaitu mengalihkan subsidi BBM sehingga beberapa jenis BBM yang mendapat subsidi akan mengalami penyesuaian,” ujar Jokowi di Istana Negera dikutip dari Kompas.com.
BBM jenis Pertalite naik dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10.000 per liter. Adapun Solar dari Rp 5.150 per liter menjadi Rp 6.800 per liter.
Sementara itu, Pertamax naik dari Rp12.500 per liter menjadi Rp14.500 per liter.
Belakangan ini pemerintah memang sudah mewacanakan kenaikan BBM karena nilai subsidi energi sudah melambung hingga Rp502 triliun.
Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, anggaran subsidi dan kompensasi energi akan kembali naik sebesar Rp198 triliun apabila BBM Pertalite dan Solar tidak dinaikkan harganya.
Kata dia, kini anggaran subsidi dan kompensasi energi pada tahun ini ditetapkan sebesar Rp502,4 triliun. Nilai itu telah naik Rp349,9 triliun dari anggaran semula, yakni Rp152,1 triliun.
Karena harga minyak mentah dan pelemahan kurs rupiah terus belanjut, nilai anggaran itu diyakini tidak akan cukup hingga akhir tahun.
Selain itu, penggunaan BBM jenis Pertalite dan Solar diperkirakan akan melebihi kuota yang telah ditetapkan.
"Kami perkirakan subsidi itu harus tambah lagi, bahkan bisa mencapai Rp 198 triliun, menjadi di atas Rp 502,4 triliun. Jadi nambah, kalau kita tidak menaikkan (harga) BBM, kalau tidak dilakukan apa-apa, tidak ada pembatasan," ujar Sri Mulyani di Gedung DPR RI, Selasa (23/8/2022).
Pengamat Sebut Harga BBM Non Subsidi Turun Agar Masyarakat Tidak Panik dan Tidak Demo
Trubus Rahardiansyah, pengamat kebijakan publik, ikut menanggapi harga BBM non subsidi yang turun.
Trubus menyebut hal itu adalah strategi meredam kepanikan rakyat.
Ia juga berpendapat mendorong konsumen beralih dari BBM subsidi ke non subsidi.
Kebijakan menurunkan harga BBM non subsidi, lanjut Trubus, dilakukan agar masyarakat tenang dan tidak demo.
“Apa yang dilakukan pemerintah saat ini, sebelum benar-benar menaikkan harga BBM subsidi, seperti gimmick. Itu nantinya juga akan ke sana (menaikkan harga BBM subsidi). Tapi takut masyarakat shock, jadi dibikin model seperti itu, kan kalau BBM non subsidi diturunkan dulu masyarakat beralih (ke BBM non subsidi). Supaya tenang, enggak gaduh, dan enggak demo,” terang Trubus, dikutip dari Kompas, Kamis (1/9/2022).
Baca: Jokowi Perintahkan Penyaluran BLT Pengalihan Subsidi BBM Sebesar Rp 600 Ribu untuk 20,6 Juta Warga
Baca: Sri Mulyani Ungkap Kuota Pertalite Bakal Habis September, Solar Habis Oktober
“Pemerintah melakukan ini tujuannya lebih kepada supaya masyarakat tidak panik, dan situasi tetap kondusif,”imbuhnya.
Sebagai informasi, turunnya BBM non subsidi ini juga dibenarkan oleh Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting.
“Betul (harga BBM non subsidi diturunkan),” jawabnya singkat.
Harga Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex
- Pertamax Turbo Rp 15.900 per liter berlaku di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
- Pertamax Turbo Rp 16.250 per liter berlaku di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Papua.
- Pertamax Turbo Rp 16.600 per liter berlaku di Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, dan Kodya Batam (FTZ).
- Dexlite Rp 17.100 per liter berlaku di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
- Dexlite Rp 17.450 per liter berlaku di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.
- Dexlite Rp 17.800 per liter berlaku di Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, dan Kodya Batam (FTZ).
- Pertamina Dex Rp 17.400 per liter berlaku di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
- Pertamina Dex Rp 17.750 per liter berlaku di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Papua Barat.
- Pertamina Dex Rp 18.100 per liter berlaku di Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, dan Kodya Batam (FTZ).
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ka)