Polri Disebut Tak Cukup Kuat Jerat Ferdy Sambo, Barang Bukti Hilang & TKP Diduga Sudah Dibersihkan

Pihak kepolisian disebut tak cukup kuat untuk menjerat Kadiv Propam nonaktif Ferdy Sambo, barang bukti di TKP diduga sudah dibersihkan


zoom-inlihat foto
Brigadir-Polisi-Brigpol-div-Propam-Polri-Irjen-Ferdy-Sambo-dan-istrinya-Putri.jpg
Kolase TribunPalu.com/Handover
Brigadir Polisi (Brigpol) Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir Yosua alias Brigadir J dan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo dan istrinya, Putri.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional Universitas Bhayangkara, Hermawan, mengatakan Polri tak cukup kuat untuk menjerat Kadiv Propam nonaktif Ferdy Sambo.

Hermawan memaparkan alasan Polri yang tak bisa menjerat Ferdy Sambo dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan.

Dia berujar barang bukti telah hilang dan tempat kejadian perkara (TKP) penembakan Brigadir J juga diduga sudah dibersihkan.

Kombes Budhi Herdi Susianto kala itu masih menjadi Kapolres Metro Jakarta Selatan disebut-sebut mempunyai peran dalam membersihkan TKP.

Pembersihan TKP inilah yang membuat bukti-bukti fisik di TKP hilang.

Baca: Bharada E Jadi Tersangka Kasus Tewasnya Brigadir J, Polri: Langsung Kita Tangkap dan Tahan

Baca: LPSK Ungkap Alasan Bharada E Minta Perlindungan: Dia Mendapat Ancaman

"Bukti-bukti fisiknya itu pada enggak ada gitu, pada hilang karena TKP-nya dibersihkan,"

"Itu makanya Kapolresnya (Kombes Budhi Herdi) dicopot karena TKP kok dibersihkan, TKP kan enggak boleh dibersihkan," kata Hermawan.

“Karena memang bukti-bukti fisiknya itu enggak ada, enggak ditemukan. Apakah dihilangkan atau rusak atau benar itu masih dicari," imbuh dia.

Dia mengatakan tanpa adanya bukti tersebut, argumen polisi dikatakan sangat lemah.

"Tanpa bukti itu argumen polisi akan sangat lemah, apakah masuk pasal 340 atau 338 ini kan jadi perdebatan."

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto saat konferensi pers soal baku tembak antaranggota polisi, Selasa (12/7/2022).
Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto saat konferensi pers soal baku tembak antaranggota polisi, Selasa (12/7/2022). (Sumber: KOMPAS TV)

Tak sampai di situ saja, Hermawan juga mengungkapkan adanya pelanggaran kode etik yang dilakukan Divisi Propam dalam kasus tewasnya Brigadir J.

"Dari segi prosedur olah TKP, Propam melakukan pelanggaran, pelanggarannya apa? Propam itu tidak boleh masuk ke TKP ikut olah TKP, itu hanya penyidik,” papar Hermawan.

"Jadi kalau mau kesalahan pertama sebelum ada bukti bahwa Sambo terlibat atau tidak ya, ini yang pasti pelanggaran kode etik, kalau pelanggaran kode etik, karena ada banyak hal yang dilanggar,” lanjutnya.

Hermawan mengaku paham bahwa masyarakat umum berasumsi Polri ikut menutupi kasus baku tembak yang menewaskan ajudan Ferdy Sambo ini, yang nyatanya tidak demikian.

Bharada E Jadi Tersangka 

Bharada E usai menjalani pemeriksaan di kantor Komnas HAM, Selasa (26/7/2022) (kiri) dan Brigadir J (kanan). Fakta-fakta Bharada E ditetapkan sebagai tersangka kasus baku tembak yang menewaskan Brigadir J.
Bharada E usai menjalani pemeriksaan di kantor Komnas HAM, Selasa (26/7/2022) (kiri) dan Brigadir J (kanan). Fakta-fakta Bharada E ditetapkan sebagai tersangka kasus baku tembak yang menewaskan Brigadir J. (Tribunnews.com Irwan Rismawan/ISTIMEWA)

Bharada Eliezer alias Bharada E resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus meninggalnya Brigadir J.

Hal ini membuat Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, turut angkat bicara.

Dia mengatakan adanya kemungkinan orang lain yang menjadi otak pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Bharada E ditetapkan menjadi tersangka setelah penyidik melakukan gelar perkara.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi menuturkan pemeriksaan saksi pun telah dianggap cukup.





Halaman
12






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved