TRIBUNNEWSWIKI.COM - Wali Kota Mariupol, Vadym Boychenko, mengatakan sudah ada lebih dari 10.000 warga sipil yang tewas di Mariupol, Ukraina.
Kata dia, jenazah warga sipil banyak terlihat di jalan-jalan di kota tersebut.
Mariupol menjadi salah satu kota yang digempur paling keras oleh pasukan Rusia.
Dalam invasi yang sudah berlangsung 6 pekan ini, warga sipil di Mariupol dilaporkan menderita.
Menurut Boychenko, pasukan Rusia telah menghalangi jalur yang digunakan untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan.
Dia mengatakan penghalangan itu dilakukan agar pasukan Rusia bisa menyembunyikan "pembantaian" di Mariupol.
Jumlah kematian di kota itu diperkirakan bisa mencapai 20.000 jiwa, kata Boychenko.
Baca: Volodymyr Zelensky
Baca: Presiden Ukraina: Rusia Kemungkinan Bakal Serang Kyiv Lagi jika Donbas Jatuh
Boychenko juga memberikan informasi mengenai dugaan bahwa tentara Rusia membawa "krematorium berjalan" untuk menyembunyikan jenazah warga sipil.
Rusia dituding membawa jenazah warga sipil ke pusat perbelanjaan besar yang di dalamnya terdapat fasilitas penyimpanan dan lemari pendingin.
"Krematorium berjalan telah tiba dalam bentuk truk. Anda membukanya, dan ada pipa di dalamnya dan jenazah dibakar," kata dia dikutip dari Associated Press, (12/4/2022).
Dia mengaku punya beberapa sumber untuk mendukung klaim bahwa Rusia menggunakan "krematorium berjalan".
Namun, dia tidak menjelaskan lebih lanjut tentang sumber yang didapatkannya.
Mariupol tengah mendapat sorotan karena di kota itu ditemukan banyak jenazah warga sipil yang diduga dieksekusi oleh pasukan Rusia.
Baca: Pemimpin Chechnya: Rusia Akan Rebut Ibu Kota Ukraina, Luhansk & Donetsk Dibebaskan Dulu
Baca: Viral Video Tentara Ukraina Melamar Sang Kekasih di Situasi Perang yang Masih Berjalan
Adanya jenazah dalam jumlah besar itu diketahui setelah tentara Rusia mundur dari kota-kota di sekitar Kiev.
Hal membuat Rusia dikecam oleh negara-negara Barat karena diduga telah melakukan kejahatan perang di Ukraina.
Boychenko mengatakan di Mariupol ada sekitar 120.000 warga sipil yang sangat membutuhkan makanan, air, penghangat, dan komunikasi.
Pejabat Ukraina menyebut pasukan Rusia menyita paspor milik warga Ukraina.
Mereka kemudian memindahkan warga Ukriana ke "kamp penyaringan" di wilayah yang dikuasai separatis Ukraina.
Menurut Boychenko, warga yang tidak lolos penyaringan akan dipindahkan ke penjara.
Kata dia, jumlah orang dibawa ke Rusia atau wilayah separatis di Ukraina mencapai 33.000.
Baca: Menjelang Serangan Besar Rusia, Ukraina Bersiap dan Minta Lebih Banyak Bantuan
Namun, Rusia membantah telah memindahkan warga sipil tanpa persetujuan mereka.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy memperingatkan bahwa Rusia mungkin menggunakan senjata kimia di Mariupol.
Negara-negara Barat pun memperingatkan potensi penggunaan senjata kimia oleh Rusia.
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang konflik Ukraina-Rusia di sini