TRIBUNNEWSWIKI.COM - Di media sosial, beredar video yang memperlihatkan tentara Ukraina diduga menembak tawanan perang Rusia.
Aksi penembakan itu diduga terjadi di dekat sebuah desa yang berlokasi di barat ibu kota Ukraina, Kiev.
Video tersebut awalnya dibagikan di aplikasi perpesanan Telegram. New York Times mengaku sudah mengonfirmasi video itu.
Sementara itu, BBC memverifikasi bahwa tempat kejadian berada di utara Kota Dmytrivka. Ada juga foto satelit yang memperlihatkan jenazah tergeletak di tanah.
Dalam video itu, telihat setidaknya ada tiga pria dalam pakaian penyamaran yang tergeletak mati di samping pria keempat.
Salah satu pria yang tergeletak itu terluka kepalanya, dan tangannya diikat di belakang punggungnua.
"Dia masih hidup. Rekamlah para penyerbu ini. Lihat, dia masih hidup. Napasnya terengah-engah," kata seorang pria dalam video itu, dikutip dari The Guardian.
Dia mengucapkan kalimat itu dalam bahasa Rusia yang juga digunakan secara luas di Ukraina.
Seorang tentara kemudian menembak pria yang tergeletak itu dua kali pada kepalanya.
Pria itu terus bergerak sehingga tentara itu menembak lagi. Pria itu kemudian tidak bergerak lagi.
Seorang tentara kemudian berteriak, "Jayalah Ukraina." Kemudian ada seorang pria yang berkata, "Jayalah pahlawan kami."
Pada akhir video, seorang pria mengatakan, "Jangan datang ke negeri kami," disertai sumpah serapah.
Tentara dalam video tersebut terlihat mengenakan kain warna biru dan kuning khas Ukraina pada lengannya.
Sementara itu, para pria yang berada di tanah mengenakan ban lengan warna putih yang menjadi warna pasukan Rusia.
BBC berusaha menyelidiki salah satu pria berjenggot di dalam video itu secara biometrik.
Menurut BBC, ciri-ciri pria itu mirip dengan seorang pria asal Georgia yang punya kaitan dengan Ukraina.
Kendati demikian, BBC belum mengonfirmasi identitasnya.
Berdasarkan Google Street View, tempat kejadian dalam video itu sama dengan jalan utama yang ada di luar Kota Dmytrivka.
Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba pada hari Kamis mengatakan mengetahui video itu dan akan menyelidikinya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, mengaku belum melihat video itu.
Namun, dia akan mengatakan setiap laporan dugaan pelanggaran hukum internasional akan diselidiki.
"Setiap pelanggaran hukum internasional dan kejahatan perang tidak bisa dibiarkan," kata Stoltenberg.
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang konflik Ukraina-Rusia di sini