Rusia Minta 134.500 Warganya Ikut Wajib Militer, Kemenhan: Tak Akan Pergi ke Ukraina

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, panggilan wajib militer ini tidak terkait dengan operasi militer di Ukraina saat ini.


zoom-inlihat foto
batalion-lapis-baja-Rusia.jpg
SATELLITE IMAGE ©2022 MAXAR TECHNOLOGIES / AFP
Foto yang diambil oleh satelit Maxar dan dirilis tanggal 20 Februari 2022 ini menunjukkan batalion lapis baja Rusia bergerak ke selatan di dekat Soloti, Rusia.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin meneken surat perintah wajib militer bagi 134.500 warga Rusia, Kamis (31/3/2022).

Wajib militer tersebut dilaporkan menjadi bagian dari program wajib militer tahunan yang digelar pada musim semi.

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, panggilan wajib militer itu tidak terkait dengan operasi militer di Ukraina saat ini.

Pada hari Selasa, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu menyebut tidak ada satu pun yang bakal dikirimkan ke medan tempur.

Panggilan wajib militer tersebut keluar lima pekan setelah invasi Rusia ke Ukraina dimulai.

Kendati demikian, dikutip dari Reuters, pada tanggal 9 Maret lalu Kemenhan Rusia sempat mengakui bahwa beberapa akan dikirim ke Ukraina.

Putin dilaporkan menolak pengerahan personel wajib militer. Kata dia, hanya para tentara profesional dan perwira yang dikirim ke negara bekas Uni Soviet itu.

Baca: AS Sebut Putin Dibohongi Penasihatnya, Diberi Informasi Keliru tentang Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin saat konferensi pers bersama Perdana Menteri Hungaria di Kremlin, 1 Februari 2022.
Presiden Rusia Vladimir Putin saat konferensi pers bersama Perdana Menteri Hungaria di Kremlin, 1 Februari 2022. (YURI KOCHETKOV / POOL / AFP)

Juru bicara Putin bahkan mengatakan Putin meminta para pejabat yang melanggar aturan wajib militer untuk dihukum.

Biasanya wajib militer tahunan di Rusia berlangsung dari tanggal 1 April hingga 15 Juli.

Laki-laki berusia antara 18 hingga 27 akan diperintahkan untuk mengikutinya.

Menurut Shoigu, mereka mengikuti wajib militer mulai dikerahkan ke pangkalan penugasan pada akhir Mei.

"Mayoritas personel militer akan menjalani latihan profesional di pusat pelatihan selama 3 hingga 5 bulan," kata Shoigu.

"Saya tekankan bahwa mereka tidak akan dikirim ke hot spot mana pun," kata dia menambahkan.

Baca: Intel Inggris: Tentara Rusia di Ukraina Membangkang & Sengaja Tembak Pesawatnya Sendiri

Namun, seorang pengacara Rusia bernama Mikhail Benyash mengatakan UU wajib militer Rusia memungkinkan seseorang dikirim ke medan tempur setelah menjalani latihan selama beberapa bulan.

Rusia sudah lima pekan melakukan invasi ke Ukraina. Oleh Rusia, invasi yang dimulai pada tanggal 24 Februari itu disebut sebagai "operasi militer khusus".

Menurut Rusia, tujuannya adalah melakukan demiliterisasi dan "denazifikasi" di Ukraina.

Namun, belakangan ini Rusia diduga telah mengubah tujuan operasi militernya.

Rusia menyebut tidak ingin mengambil alih ibu kota Ukraina, Kiev, dan kota-kota besar lainnya.

Negara yang dipimpin Putin itu kini berfokus "membebaskan" wilayah Ukraina timur yang menjadi markas para kelompok separatis.

Baca: Rusia Tembakkan Roket ke Gedung Pemerintahan di Mykolaiv Ukraina, 12 Orang Tewas dan 33 Luka-luka

Baca: Bandingkan Masalah Timur Tengah dengan Ukraina, Warga Timur Tengah Anggap Negara Barat Munafik

Kelompok tersebut didukung oleh Rusia dan telah melawan tentara Ukraina sejak tahun 2014.

Namun, pernyataan Rusia itu dipandang skeptis oleh Ukraina dan negara-negara Barat.

Pakar militer mengatakan perubahan tujuan itu adalah upaya Putin untuk "menyelamatkan mukanya" karena tentaranya tidak bisa merebut Kiev.

(Tribunnewswiki)

Baca berita lainnya tentang konflik Ukraina-Rusia di sini







KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved