Joe Biden Peringatkan Kemungkinan Serangan Siber Rusia, Minta Perusahaan AS Siaga

Joe Biden mengatakan Rusia diduga tengah mempertimbangkan serangan siber terhadap infrastruktur penting di AS.


zoom-inlihat foto
ilustrasi-hacker-6.jpg
Pixabay/B_A
Ilustrasi peretas


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden meminta perusahaan-perusahaan AS bersiaga menghadapi kemungkinan serangan siber dari Rusia.

Biden mengatakan Rusia diduga tengah mempertimbangkan serangan siber terhadap infrastruktur penting.

Kepada para pebisnis, Biden menyebut mereka memiliki kewajiban menguatkan sistem pertahanan untuk melawan serangan tersebut.

Menurut Biden, ada bantuan yang tersedia apabila mereka memang menginginkannya.

"Peringatan baru, menurut intelijen, Rusia mungkin sedang merencanakan serangan siber terhadap kita," kata Biden dikutip dari Associated Press, (23/3/2022).

Kata Biden, pemerintah federal saat ini turut ambil bagian dalam persiapan menghadapi kemungkinan serangan.

Biden menyarankan perusahaan-perusahaan AS untuk untuk berinvestasi sebanyak mungkin dalam teknologi penangkal serangan siber.

Baca: Para Hacker Dipanggil, Ukraina Bentuk Tentara IT untuk Lawan Serangan Siber Rusia

Presiden Amerika Serikat Joe Biden akan menaiki pesawat Air Force One Boeing 747 setelah bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, di Bandara Cointrin, Jenewa, Swiss, Rabu, 16 Juni 2021.
Presiden Amerika Serikat Joe Biden akan menaiki pesawat Air Force One Boeing 747 setelah bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, di Bandara Cointrin, Jenewa, Swiss, Rabu, 16 Juni 2021. (MARTIAL TREZZINI / POOL / AFP)

"Kami bersiap untuk membantu kalian, seperti yang saya ucapkan, dengan alat dan kemampuan yang kami punya, jika kalian siap untuk melakukannya."

"Namun, langkah yang akan kalian ambil adalah keputusan kalian sendiri dan tanggung jawab kalian untuk mengambilnya, bukan kami."

Pakar keamanan Anne Neuberger pada hari Minggu lalu sempat mengungkapkan kekhawatirannya.

Menurutnya, ada pengabaian terhadap beberapa masalah pada perangkat lunak yang bisa dimanfaatkan oleh para peretas Rusia.

Kata Neuberger, hal itu bisa membuat peretas jauh lebih mudah untuk melakukan serangan siber.

Jauh sebelum invasi di Ukraina terjadi, pemerintah federal sebenarnya sudah mewanti-wanti perusahaan AS tentang ancaman dari peretas Rusia.

Baca: Peretas Lakukan Serangan Siber Berskala Besar terhadap Dua Lembaga Penting di Iran

Badan Kemanan Siber dan Infrastruktur telah meluncurkan kampanye "Shield Up" untuk membantu perusahaan menguatkan pertahanan siber.

Perusahaan diminta membuat cadangan data, mengaktifkan autentikasi multifaktor, dan mengambil langkah-langkah lainnya.

Menurut Neuberger, telah ada peningkatan aktivitas untuk persiapan serangan siber, misalnya pemindaian laman dan pencarian celah keamanan.

Sementara itu, pada hari Senin lalu Biden mengatakan Rusia bisa melancarkan serangan siber yang menargetkan AS.

Serangan itu bisa jadi merupakan aksi balasan terhadap sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh AS kepada Rusia.

AS dan sekutunya memang telah menjatuhkan banyak sanksi kepada Rusia untuk melumpuhkan ekonomi negara yang dipimpin Vladimir Putin itu.

Baca: Jokowi Sebut Invasi Rusia ke Ukraina Buat Pusing Semua Negara

Baca: Diminta Mengecam Invasi Rusia ke Ukraina, Dubes China: Jangan Naif

Bahkan, baru-baru ini Biden mengumumkan bahwa AS mengirimkan lebih banyak senjata antipesawat, senjata perusak kendaraan lapis baja, dan pesawat tanpa awak ke Ukraina.

Rusia telah dianggap sebagai negara dengan kekuatan serangan siber yang besar.

Kendati demikian, serangan siber yang dilancarkan Rusia sejak invasi ke Ukraina dimulai terhitung jauh lebih kecil daripada yang diperkirakan atau dikhawatirkan.

(Tribunnewswiki)

Baca berita lainnya tentang serangan siber di sini











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved