TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sebagian besar negara di dunia telah memilih mendukung resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menuntut agar Rusia "segera, sepenuhnya dan tanpa syarat" menarik pasukan militernya dari Ukraina, sebagai teguran keras atas invasi Moskow ke tetangganya.
Resolusi tersebut disepakati pada Rabu, (2/3/2022), dalam sesi darurat yang jarang terjadi di Majelis Umum PBB.
Sebanyak 141 dari 193 anggota PBB sangat mendukung kecaman terhadap invasi Rusia ke Ukraina.
China, India, dan Afrika Selatan termasuk di antara 35 negara yang abstain.
Sementara itu, hanya lima negara yakni Eritrea, Korea Utara, Suriah, Belarus, dan tentu saja Rusia memilih menentangnya.
Resolusi tersebut "menyesalkan" "agresi Rusia terhadap Ukraina" dan mengutuk keputusan Presiden Vladimir Putin untuk menempatkan pasukan nuklirnya dalam keadaan waspada.
Resolusi Majelis Umum tidak mengikat secara hukum sehingga banyak pihak pesimistik bahwa itu bakal menggertak Rusia.
Baca: Hari Ini Dalam Sejarah: 10 Januari 1946 - Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Pertama
Baca: Hari Ini dalam Sejarah: 24 Oktober Hari PBB
Akan tetapi, resolusi tersebut menandakan tekanan politik global yang meluas terhadap agresi Rusia ke Ukraina, dengan pemungutan suara hari Rabu mewakili kemenangan simbolis bagi Ukraina dan meningkatkan isolasi internasional Moskow.
Bahkan sekutu tradisional Rusia; Serbia, memilih menentang invasi Moskow.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan pesan Majelis Umum "keras dan jelas".
"Akhiri permusuhan di Ukraina, sekarang. Diamkan senjata, sekarang," katanya dalam sebuah pernyataan, dikutip TribunnewsWiki dari Al Jazeera, Kamis (3/3/2022).
"Seburuk situasinya bagi orang-orang di Ukraina saat ini, itu mengancam untuk menjadi jauh, jauh lebih buruk. Jam berdetak adalah bom waktu."
Hampir setiap ketua Majelis Umum tanpa syarat mengutuk perang tersebut.
"Jika PBB memiliki tujuan, itu untuk mencegah perang," kata Duta besar PBB untuk Amerika Serikat, Linda Thomas-Greenfield.
"Rusia bersiap untuk meningkatkan kebrutalan kampanyenya dan memindahkan persenjataan yang sangat mematikan ke Ukraina, termasuk bom curah dan bom vakum," lanjutnya.
Duta Besar Ukraina untuk PBB, Sergiy Kyslytsya, menyebut bahwa resolusi itu salah satu blok bangunan untuk membangun tembok untuk menghentikan serangan Rusia, dan mendesak negara-negara untuk mendukung teks tersebut.
"Mereka (Rusia) telah datang untuk mencabut Ukraina dari hak untuk eksis," kata Kyslytsya kepada Majelis menjelang pemungutan suara.
"Sudah jelas bahwa tujuan Rusia bukan hanya pendudukan. Ini adalah genosida."
(tribunnewswiki.com/Rakli Almughni)
Baca lebih lengkap seputar berita terkait lainnya di sini