Aturan Baru untuk Pelaku Perjalanan yang Baru Tiba di Indonesia, Kini Wajib Karantina 7 Hari

Pemerintah menerbitkan aturan baru mengenai ketentuan pelaku perjalanan internasional.


zoom-inlihat foto
Suasana-di-Bandara-Lombok-Praya-2.jpg
dok PT Angkasa Pura I
Suasana di Bandara Lombok Praya


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pemerintah menerbitkan aturan baru mengenai ketentuan pelaku perjalanan internasional.

Kini, masa karantina WNI maupun WNA yang baru tiba di Indonesia berlaku 7×24 jam.

Aturan terbaru tentang karantina tertulis dalam Surat Edaran Satuan Tugas (SE Satgas) Penanganan Covid-19 Nomor 2 Tahun 2022 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Luar Negeri pada Masa Pandemi Covid-19. SE itu berlaku mulai 12 Januari 2022.

Berdasarkan SE tersebut, diatur sejumlah syarat pelaku perjalanan luar negeri yang masuk ke Indonesia.

Papan petunjuk di Terminal 3 Ultimate, Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Papan petunjuk di Terminal 3 Ultimate, Bandara Internasional Soekarno-Hatta (kompas.com)

Dikutip dari Kompas.com, berikut rinciannya:

1. Membawa kartu atau sertifikat (fisik maupun digital) vaksin Covid-19 dosis lengkap minimal 14 hari sebelum keberangkatan dengan ketentuan:

  • WNI yang belum mendapat vaksin di luar negeri akan divaksinasi di tempat karantina setibanya di Indonesia setelah dilakukan pemeriksaan RT-PCR dengan hasil negatif.
  • WNA yang belum menerima vaksin juga akan divaksinasi di tempat karantina dengan syarat berusia 12-17 tahun, pemegang izin tinggal diplomatik dan izin tinggal dinas, atau pemegang Kartu Izin Tinggal Terbatas (Kitas) dan Kartu Izin Tinggal Tetap (Kitap).
    Kewajiban menunjukkan kartu atau sertifikat vaksin dikecualikan bagi WNA pemegang visa diplomatik dan visa dinas yang terkait kunjungan resmi kenegaraan pejabat asing setingkat menteri ke atas, dan WNA yang masuk ke Indonesia dengan skema Travel Corridor Arrangement.
  • Kewajiban menunjukkan kartu vaksin juga dikecualikan bagi WNA yang melakukan perjalanan domestik dan melanjutkan dengan tujuan mengikuti penerbangan internasional keluar dari wilayah RI, selama tidak keluar dari area bandara selama transit.
  • Pengecualian juga diberikan bagi pelaku perjalanan luar negeri usia di bawah 18 tahun dan yang memiliki kondisi kesehatan khusus atau penyakit komorbid yang menyebabkan pelaku perjalanan tidak dapat menerima vaksin.

2. Memperlihatkan hasil negatif tes RT-PCR di negara/wilayah asal yang sampelnya diambil maksimal 3x24 jam sebelum jam keberangkatan.

Baca: Ghozali Everyday

Baca: NFT (Non-Fungible Token)

3. Mendapatkan tes ulang RT-PCR pada saat kedatangan.

4. Apabila hasil tes negatif, maka wajib menjalani karantina terpusat selama 7x24 jam dengan ketentuan:

  • WNI, yaitu pekerja migran Indonesia (PMI), pelajar/mahasiswa yang telah menamatkan studinya di luar negeri, pegawai pemerintah yang kembali dari perjalanan dinas luar negeri, atau perwakilan Indonesia dalam ajang perlombaan atau festival tingkat internasional menjalani karantina terpusat dengan biaya ditanggung oleh pemerintah.
  • WNI di luar kriteria di atas menjalani karantina di tempat akomodasi karantina terpusat dengan biaya ditanggung mandiri.
  • WNA diplomat asing di luar kepala perwakilan asing dan keluarga kepala perwakilan asing menjalani karantina di tempat akomodasi karantina terpusat dengan biaya mandiri.

5. Jika hasil tes positif, maka dilakukan perawatan di rumah sakit bagi WNI dengan biaya ditanggung pemerintah dan bagi WNA biaya ditanggung mandiri.

6. Melakukan tes RT PCR kedua pada hari ke-6 karantina.

  • Jika hasilnya negatif, maka diperkenankan untuk melanjutkan perjalanan. Namun, apabila hasilnya positif, maka dilakukan perawatan di rumah sakit bagi WNI dengan biaya ditanggung pemerintah dan bagi WNA biaya ditanggung mandiri.
  • Apabila WNA tidak dapat membiayai karantina mandiri atau perawatan di rumah sakit, maka pihak sponsor, kementerian/lembaga/BUMN yang memberikan pertimbangan izin masuk bagi WNA tersebut harus bertanggung jawab.

7. WNA berstatus kepala perwakilan asing beserta keluarga bisa mendapatkan dispensasi karantina berupa pelaksanaan karantina mandiri bersifat individual.

8. Dispensasi tersebut berupa pengecualian kewajiban karantina dapat diberikan ke WNI dengan keadaan mendesak, seperti memiliki kondisi kesehatan yang mengancam nyawa dan butuh perhatian khusus, atau kedukaan karena anggota keluarga inti meninggal.

9. Dispensasi berupa pengecualian kewajiban karantina dengan syarat menerapkan sistem bubble dan protokol kesehatan ketat dapat diberikan kepada WNA dengan kriteria:

  • Pemegang visa diplomatik dan visa dinas;
  • Pejabat asing setingkat menteri ke atas beserta rombongan yang melakukan kunjungan resmi/kenegaraan;
  • Pelaku perjalanan yang masuk ke Indonesia melalui skema Travel Corridor Arrangement;
  • Delegasi negara-negara anggota G20; dan
  • Pelaku perjalanan yang merupakan orang terhormat (honourable persons) dan orang terpandang (distinguished persons).

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)

SIMAK ARTIKEL SEPUTAR ATURAN PERJALANAN DI SINI











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved