Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Rindu adalah novel ke-11 Tere Liye.
Novel tersebut diterbitkan oleh Republika pada tahun 2014.
Novel Rindu adalah novel tunggal, bukan sekuel.
Dengant tebal 544 halaman, novel ini menjadi novel Tere Liye yang paling tebal dibandingkan dengan 10 novel sebelumnya.
Sinopsis #
Latar novel Rindu adalah kapal Blitar Holland yang mengangkut jamaah haji dari Indonesia ke Arab Saudi.
Baca: Novel - Pulang
Kapal berangkat dari Makassar, dan akan transit di Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, Banda Aceh, kemudian berlayar hingga Sri Lanka, Kolombo, hingga tujuan akhir Jeddah.
Di atas kapal, dalam perjalanan yang tidak sebentar tersebut, semua kisah diceritakan.
Di novel tersebut, Tere Liye mengkisahkan ada lima pertanyaan dari lima tokoh.
Keempat pertanyaan dapat dijawab dengan sangat baik dan bijak oleh ulama masyhur dari Makassar, Gurutta Ahmad Karaeng.
Baca: NOVEL - Pergi
Ia adalah tokoh yang paling dihormati di atas kapal tersebut.
Pertanyaan pertama datang dari perempuan keturunan China, Bunda Upe.
Ia menjadi guru ngaji anak-anak yang ada di kapal selama perjalanan.
Namun, Bunda Upe dulunya adalah seorang cabo atau PSK.
Meskipun ia menutup rapat-rapat masa lalunya tersebut, ada adegan di mana masa lalunya harus terbongkar.
Pertanyaan dari Bunda Upe adalah apakah Tuhan mau menerima seorang cabo di Rumah-Nya.
Baca: Tere Liye
Pertanyaan kedua datang dari laki-laki kaya bernama Andipati Daeng.
Ia adalah pengusaha sukses, dengan istri cantik dan anak-anak yang lucu.
Dilihat dari luar, kehidupannya begitu sempurna.
Namun, tidak ada yang menyangka, ia menyimpan kebencian yang begitu dalam kepada ayahnya.
Ayahnya adalah pengusaha yang rakus dan licik.
Andipati beruntung, ia menjadi pengusaha yang bersih.
Namun, kebencian terhadap ayahnya sudah mendarah daging.
Pertanyaan dari Andipati adalah apakah Tuhan mau menerima orang yang benci terhadap ayahnya.
Padahal, ayah adalah seseorang yang harus dihormati dan disayangi.
Pertanyaan ketiga datang dari pasangan kakek nenek yang telah menunaikan janji suci pernikahan selama enam puluh tahun.
Enam puluh tahun bersama tak membuat rasa cinta di antara mereka pudar.
Di awal pernikahan, mereka berjanji untuk saling melengkapi, menerima, menemani, dan mencintai.
Sayangnya, sebelum menginjakkan kaki di Tanah Suci, Mbah Putri wafat.
Menghadap Tuhan lebih dulu.
Mbah Kakung begitu terpukul.
Kenapa harus sekarang?
Kenapa tidak ditunda barang satu dua bulan agar kami bisa bergandengan tangan menatap Masjidil Haram?
Kenapa tidak di darat, agar aku bisa bersanding dengan makam istriku kelak?
Itulah pertanyaan ketiga dari Mbah Kakung.
Pertanyaan keempat datang dari kelasi rendahan kapal.
Ia tidak memiliki niat untuk berangkat haji.
Anak muda tersebut hanya ingin pergi sejauh mungkin meninggalkan tanah kelahirannya.
Ia pergi meninggalkan kenangan dan kenyataan yang ia alami berupa patah hati.
Ia bertanya, apakah itu cinta sejati? Apakah besok lusa akan berjodoh dengan gadis itu? Apakah aku masih memiliki kesempatan?
Keempat pertanyaan tersebut bisa dijawab oleh Gurutta.
Keluasan ilmunya melampaui zaman.
Namun, justru pertanyaan kelima datang dari Gurutta sendiri.
Ia tak mampu menjawab pertanyaan tersebut.
Gurutta banyak menulis tentang kemerdekaan dan perjuangan.
Namun, ia sendiri tidak pernah berani untuk berjuang dan merdeka.
Ia selalu lari dari pertempuran.
Ia berdalih bahwa ada jalan keluar yang lebih baik.
Ia pengecut.
Tak sedetikpun ia hadir dalam pertarungan melawan penjajah.
Saat itu, kapal dibajak oleh perompak.
Kelasi rendahan yang patah hati tadi lah yang menjawab pertanyaan Gurutta.
Ia mengajak Gurutta dan awak kapal lain untuk membalas dan menyerang perompak. (1)
(Tribunnewswiki.com/Yusuf)
| Judul | Rindu |
|---|
| Penulis | Tere Liye |
|---|
| Penerbit | Republika |
|---|
| Tahun terbit | 2014 |
|---|
| Halaman | 544 |
|---|