Yaqut Sebut Kemenag Hadiah dari Negara untuk NU, PBNU: Komentar Itu Tidak Pas dan Kurang Bijaksana

Pernyataan Yaqut Cholil soal Kemenag merupakan hadiah khusus dari negara untuk Nahdlatul Ulama menuai polemik setelah mendapat kritik sejumlah pihak.


zoom-inlihat foto
Menteri-Agama-Yaqut-Qolil-Qoumas-ibadah-haji-2021.jpg
instagram.com/gusyaqut
Yaqut Sebut Kemenag Hadiah dari Negara untuk NU, PBNU: Komentar Itu Tidak Pas dan Kurang Bijaksana


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas kembali menjadi sorotan publik.

Pernyataan Yaqut mengenai Kementerian Agama (Kemenag) merupakan hadiah khusus dari negara untuk Nahdlatul Ulama menuai polemik setelah mendapat kritik sejumlah pihak.

Hal tersebut dikatakan Yaqut saat berbicara dalam webinar yang digelar oleh NU.

Yaqut berujar NU berhak atas posisi di Kemenag karena jasa dalam penghapusan tujuh kata Piagam Jakarta.

"Kemenag itu hadiah untuk NU, bukan untuk umat Islam secara umum, tapi spesifik untuk NU. Saya rasa wajar kalau sekarang NU memanfaatkan banyak peluang di Kementerian Agama, memang hadiahnya untuk NU," kata Yaqut, disiarkan kanal YouTube TVNU pada Rabu (20/10/2021).

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini pun angkat bicara menanggapi pernyataan Yaqut tersebut.

Melalui akun Instagram-nya, @ahmadhelmyfaishalzaini, Helmy membantah ucapan Yaqut tersebut.

Helmi menuturkan, Kemenag adalah hadiah negara untuk semua agama, bukan hanya untuk NU atau hanya untuk umat Islam.

"Bahwa NU punya peran besar dalam menghapus 7 kata dalam Piagam Jakarta, tak lagi disangsikan. Namun tidak berarti NU boleh semena-mena berkuasa atas kementerian agama ataupun merasa ada hak khusus," kata Helmi, Sabtu (24/10/2021).

"Bahkan, peran NU jauh sebelum kemerdekaan telah meletakkan pesantren sebagai pilar pembentuk karakter mental bangsa yang bertumpu kepada akhlaqul karimah." 

"Bahwa NU adalah stakeholder terbesar dari Kemenag tentu dapat dilihat karena Kemenag lah organ dari pemerintahan ini yang mengatur tentang zakat, haji, madrasah, pesantren & pendidikn keagaman," jelasnya.

Baca: Yaqut Cholil Qoumas

Baca: Nahdlatul Ulama

Meski demikian, kata Helmi, NU tidak memiliki motivasi untuk menguasai ataupun memiliki semacam privilege dalan pengelolaan kekusaan & pemerintahan.

Sebab, lanjut dia, NU adalah jamiyyah diniyah ijtimaiyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan).

"Karena prinsip bagi NU adalah siapa saja boleh memimpin & berkuasa dengan landasan, Tashorroful imam 'alarroiyyah manutun bil maslahah, kepemimpinan harus melahirkan kesejahteraan dan kemaslahatan," ujarnya.

Tentang pernyataan Yaqut, kata Helmi, ia menyebut bahwa itu hak Yaqut.

Namun, Helmi menilai bahwa bahwa penyataan Yaqut tersebut tidak pas dan kurang bijaksana dalam perspektif membangun spirit kenegarawanan.

"Pada dasarnya semua elemen sejarah bangsa ini punya peran strategis dalam pendirian NKRI, melahirkan Pancasila, UUD 1945 dalam keanekaragaman suku, ras, agama & golongan. Bhinneka Tunggal Ika," kata Helmy.

(tribunnewswiki.com/Rakli Almughni)

Baca lebih lengkap seputar Yaqut Cholil di sini











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved