Tragedi Mandor

Tragedi Mandor adalah peristiwa pembantaian massal yang terjadi di Kalimantan Barat pada 28 Juni 1944.


zoom-inlihat foto
Tragedi-Mandor-Kalbar.jpg
TRIBUN/ISTIMEWA
Usai tragedi Mandor.

Tragedi Mandor adalah peristiwa pembantaian massal yang terjadi di Kalimantan Barat pada 28 Juni 1944.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM- Tragedi Mandor adalah peristiwa pembantaian massal yang terjadi di Kalimantan Barat pada 28 Juni 1944.

Peristiwa ini dikenal Tragedi Mandor Berdarah, yakni pembantaian massal tanpa batas etnis dan ras yang dilakukan oleh tentara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.

Pada 28 Juni merupakan hari berkabung daerah Provinsi Kalimantan Barat dan lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007, yang dibentuk melalui rapat paripurna DPRD Kalimantan Barat.

Hari berkabung ini adalah bukti kepudulian sekaligus apresiasi dari DPRD terhadap perjuangan pergerakan nasional yang terjadi di Mandor. (1) 

Baca: Tragedi Trisakti

Gerbang Makam Juang Mandor.
Gerbang Makam Juang Mandor. (TRIBUN PONTIANAK/ ALFON PARDOSI)

  • Sejarah


Pada 28 Juni 1944, Jepang menjajah Kalimantan Barat dengan membantai ribuan orang di derah tersebut.

Pembantaian ini dilatarbelakangi oleh desas-desus yang terdengar oleh Jepang.

Pihak polisi rahasia Kaigun atau Tokkeitai mendengar bahwa ada persekongkolan pemberontakan melawan Jepang.

Selama pendudukan Jepang, kebencian rakyat Indonesia terhadap Jepang memuncak, karena rakyat dipaksa bekerja serta disiksa jika tidak menurut.

Rakyat tersebut juga bekerja samapai kelaparan hingga tak punya pakaian.

Pada saat itu, Jepang juga membutuhkan simpati rakyat untuk mendukung perangnya.

Lantas Jepang mendirikan Nissinkai, merupakan organisasi politik sebagai wadah menyalurkan ide-ide politik, dan tentunya tidak mengancam Jepang.

Tokoh politik, pengusaha, dan cendekiawan yang tergabung di antaranya JE Pattiasina (Kepala Urusan Umum Kantor Syuutizityo), Notosoedjono (tokoh Parindra), dan Ng Nyiap Sun (Kepala Urusan orang Asing/Kakyo Toseikatyo).
Para tokoh pergerakan ini diam-diam juga memiliki gerakan bawah tanah yang disebut Gerakan Enam Sembilan, karena anggotanya berjumlah 69.

Namun, tidak diketahui pasti siapa saja 69 orang itu. (2) 

Baca: Tragedi Santa Cruz

  • Kejadian


Sebelum terjadinya pemberontakan di Kalimantan Barat, kejadian tersebut terjadi di Kalimantan Selatan pada 1943.

Namun Jepang melakukan pencegahan, supaya pemberontakan tersebut tidak akan pecah di Kalimantan Barat.

Pada 23 Oktober 1943, Jepang menangkap beberapa tokoh penting di Kalimantan Barat, seperti para penguasa setempat, tokoh masyarakat, kaum terdidik dan terpelajar, hingga ditahan di markas Tokkeitai.

Konferensi Nissinkai berlangsung pada tanggal 24 Mei 1944 yang berubah menjadi penangkapan besar-besaran.

Para tokoh Nissinkai diciduk, kerabat dan keluarga yang diduga terlibat juga dijemput.

Puncaknya pada 28 Juni 1944, sidang kilat dilaksanakan untuk mengadili mereka yang ditangkap.

Mereka pun diciduk dan diikat ke belakang dan wajah ditutup. Peristiwa ini dikenal dengan istilah "Penyungkupan".

Masrakat yang diciduk itu digiring ke tempat yang tidak diketahui dan dihabisi dengan pedang atau berondong tembakan.

Penangkapan dan pembantaian ini diyakini hanya tuduhan yang diada-adakan Jepang untuk meredam pergerakan.

Surat kabar Pemerintah Balatentara Jepang, Borneo Sinbun memberitakan pembantaian ini pada 1 Juli 1944.

Halaman pertama membuat berita utama "Komplotan Besar yang Mendurhaka untuk Melawan Dai Nippon Sudah Dibongkar Sampai ke Akar-akarnya."

Berita di bawahnya berjudul, "Kepala-kepala Komplotan serta Lain-lainnya Ditembak Mati. Keamanan di Borneo Barat Tenang Kembali dengan Sempurna."

Tidak disebutkan di mana eksekusi dilakukan atau di mana jenazah dimakamkan.

Tak sampai disitu, tahun 1941 hingga 1945, ribuan rakyat Kalimantan Barat dilenyapkan.

Bahkan Kalimantan Barat kehilangan satu generasi terbaiknya, yaitu bangsawan, tokoh-tokoh politik, kaum terdidik dan terpelajar dan hartawan dari lintas etnis dan agama.

Kiyotada Takahashi, Presiden Marutaka House Kogyo Co. Ltd yang pernah bertugas sebagai opsir balatentara Jepang di Kalimantan Barat menyebut jumlah korban mencapai angka 21.037.

Sementara Yamamoti, seorang kepala kempeitai atau polisi militer Jepang di Kalimantan Barat mengatakan jumlah korban mencapai 50.000 orang.

Pinggiran Kota Mandor, sebuah wilayah kecil yang berjarak sekitar 88 kilometer dari Kota Pontianak, belakangan diketahui sebagai salah satu tempat korban dikubur massal.

Sejak tahun 1973, ziarah rutin digelar Pemda Kalimantan Barat ke Mandor dan di sanalah dibangun monumen.

Tanggal 28 Juni pun diperingati sebagai Hari Berkabung Kalimantan Barat. (2)

Baca: Peristiwa Malari

(Tribunnewswiki.com/ Husna)



Tanggal kejadian 28 Juni 1944
Lokasi Kalimantan Barat, Indonesia
Sasaran Masyarakat Kalimantan Barat
Tersangka Tentara Angkatan Laut Kekaisaran Jepang
   


Sumber :


1. id.wikipedia.org
2. www.kompas.com








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved