Polri Didesak Segera Usut Kasus Kebocoran Data e-HAC daripada Buru Pembuat Mural : Lebih Penting!

Menurutnya, Polri dapat membentuk tim khusus untuk memburu pelaku pembocoran data tersebut.


zoom-inlihat foto
Ilustrasi-aplikasi-e-HAC-versi-lama.jpg
KOMPAS.com/ Galuh Putri Riyanto
Ilustrasi aplikasi e-HAC versi lama


TRIBUNNEWSWIKI.COK - Wakil Ketua Komisi III DPR dari Fraksi Nasdem Ahmad Sahroni mendorong Bareskrim Polri untuk segera menuntaskan kasus dugaan kebocoran data pengguna aplikasi Electronic Health Alert Card atau e-HAC Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Seperti diketahui sebanyak 1,3 juta data pribadi masyarakat diduga bocor.

"Sekarang ini bocornya mulai dari Nomor KTP, Paspor, data tes Covid, nomor handphone, pekerjaan, bahkan alamat rumah dengan lengkap.

Bareskrim Polri harus segera usut tuntas, karena kalau tidak segera, khawatir data penting ini disalahgunakan oknum-oknum tidak bertanggung jawab," tegas Sahroni dikutip Tribunnews.com, Rabu (1/9/2021).

Sahroni meminta agar Bareskrim memburu pelaku pembocoran data e-HAC, yang ia anggap lebih penting daripada mengejar pembuat mural yang sedang ramai dibicarakan.

Menurutnya, Polri dapat membentuk tim khusus untuk memburu pelaku pembocoran data tersebut.

"Siber Polri betul-betul harus fokus menangani hal ini. Buat saya, mencari pembocor data penting rakyat lebih penting daripada memburu pembuat mural," nilai dia.

Mural Presiden Jokowi bertuliskan 404:Not Found di Batuceper, Kota Tangerang, Banten
Mural Presiden Jokowi bertuliskan 404:Not Found di Batuceper, Kota Tangerang, Banten (istimewa)

Sahroni menyayangkan dugaan kebocoran data e-HAC yang bahkan dikonfirmasi kebenarannya oleh pihak Kemenkes.

Dirinya heran, karena kasus kebocoran data masyarakat sering terjadi.

Kemudian, dirinya mempertanyakan perbaikan sistem pengamanan digital yang dilakukan pemerintah maupun swasta.

"Saya melihat, kebocoran data di Indonesia ini masih tidak ada perubahan, baik swasta maupun pemerintah. Ada saja data yang bocor dari BPJS, pinjol, nasabah bank, sekarang data e-HAC.

Ini jadi PR yang benar-benar serius buat kita semua, agar meningkatkan upaya pengamanan data pribadi penduduk," ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Pusat Data dan Informasi Kemenkes Anas Ma'ruf membenarkan adanya dugaan kebocoran data pengguna aplikasi e-HAC Kemenkes.

Anas menjelaskan, data pengguna yang bocor terjadi di aplikasi e-HAC yang lama, bukan pada e-HAC yang terintegrasi dengan aplikasi PeduliLindungi.

"Yang pertama, kebocoran data terjadi di aplikasi e-HAC yang lama yang sudah tidak digunakan lagi sejak Juli 2021, tepatnya 2 Juli 2021," kata Anas dalam konferensi pers melalui kanal YouTube Kemenkes RI, Selasa (31/8/2021).

Dugaan kebocoran data tersebut terungkap oleh blog resmi VPNMentor.

Blog tersebut menyebut bahwa data milik 1,3 juta pengguna e-HAC diperkirakan bocor.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)

SIMAK ARTIKEL SEPUTAR KEBOCORAN DATA E-HAC DI SINI











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved