Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Museum Sudirman dahulunya ialah rumah peristirahatan tentara yang pada masa perang kemerdekaan merupakan kediaman Jenderal Sudirman, yang berada di Jalan Ade Irma Suryani C-7, Magelang.
Sebagai Panglima Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang pertama atau sebagai Bapak Tentara Nasional Indonesia, Jenderal Sudirman merupakan sosok patriotisme yang pantang menyerah.
Meski dalam keadaan sakit dan harus ditandu, ia selalu menanamkan semangat juang yang tinggi dan secara langsung memimpin perang gerilya.
Lantaran terus dilakukannya perlawanan yang tidak kenal lelah dan pantang menyerah itu, membuat Belanda akhrinya memutuskan meninggalkan Indonesia.
Jederal Sudirman dilahirkan di Kabupaten Purbalingga pada tanggal 24 Januari 1916 dan wafat pada tanggal 29 Januari 1950 di bangunan ini.
Maka sejak tahun 1976, bangunan ini dialihfungsikan menjadi sebuah museum yang dinamakan Museum Jenderal Sudirman.
Bangunan yang berdiri sekitar tahun 1930 tersebut, terdiri dari rumah utama dan ruang-ruang penunjang (servis area) yang berada di belakang. (1)
Sejarah #
Pada masa Agresi Militer Belanda II, pasukan Belanda menyerang ibu kota Indonesia kala itu, Yogyakarta.
Terjadi pada 19 Desember 1948, peristiwa itu diawali dengan penculikan Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan beberapa tokoh lainnya di Yogyakarta.
Karena keberhasilannya menculik presiden dan wakil presiden Indonesia sekaligus tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia, Belanda pun beranggapan bahwa negeri ini lemah dan sudah hilang kedaulatannya.
Lumpuhnya pemerintah RI saat itu membuat Jenderal Soedirman dengan sigap segera bertindak.
Ia kemudian memimpin pemerintahan darurat militer bersama Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi.
Ia memimpin dalam melawan pasukan Belanda dengan mengkoordinir perang gerilya di seluruh Pulau Jawa untuk membuat pasukan Jendral Spoor kewalahan.
Bahkan, semua hal penting dan genting tersebut ia lakukan di hutan dengan kondisi tubuh yang sedang sakit.
Berkat segala usaha yang dikerahkan oleh Jendral Soedirman bersama prajurit TNI dan warga sipil, Belanda akhirnya mengakui kekalahannya dan mengakhiri agresi militer tersebut.
Terdapat beberapa alasan yang membuat Belanda memutuskan mengakhiri agresinya, yaitu:
• Pertama, perang gerilya yang dipimpin Jenderal Soedirman telah menewaskan 200 tentara Belanda dan mengakibatkan kerugian logistik yang besar.
• Kedua, PBB mendesak Belanda agar segera meninggalkan Indonesia karena negeri ini terbukti masih berdaulat.
Setelah pasukan Belanda hengkang dari Indonesia, diselenggarakan perundingan Roem Roijen yang menyatakan bahwa Belanda mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.
Sementara itu, usai perang gerilya, Jenderal Sudirman kemudian dilarikan ke rumah sakit di Magelang.
Karena perlu dirawat jalan di Magelang, akhirnya ia menempati bangunan ini sebagai rumah dinasnya.
Pada tanggal 29 Januari 1950, ia menghembuskan napas terakhirnya di rumah ini. (2)
Baca: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Perjanjian Roem Roijen
Baca: Agresi Militer Belanda II
Bagian Museum #
Di dalam Museum Jenderal Sudirman ini, terdapat 7 ruangan, dimana 4 di antaranya pernah digunakan Jenderal Sudirman.
1. Ruang Tamu
Ruang tamu ini digunakan Jenderal Soedirman untuk melayani tamunya yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat tinggi di pemerintahan, perwira-perwira TNI, hingga rakyat biasa.
Terdapat meja dan kursi kuno di ruang ini, dimana perabotan tersebut merupakan peninggalan dari Jenderal Soedirman sendiri.
Di ruangan ini, pengunjung dapat melihat papan yang bertuliskan riwayat hidup Jenderal Soedirman.
2. Ruang Kerja
Ruang ini merupakan tempat Jenderal Soedirman menyusun komando perang gerilya Indonesia, sehingga memiliki sejarah tersendiri dalam kemerdekaan negeri ini.
3. Ruang Dokter
Di ruang ini, dua dokter pribadi, yakni dr H Koesen Hirohusodo dan dr Soewondo bertugas merawat Jenderal Soedirman yang sedang sakit parah.
Mereka merupakan anggota TNI yang juga ikut turun ke medan perang demi memastikan kondisi sang jenderal tetap baik-baik saja.
Di ruangan ini, terdapat replika tandu Jenderal Soedirman yang digunakannya ketika perang gerilya.
4. Ruang Koleksi
Di sini, pengunjung dapat melihat beberapa koleksi foto dan lukisan bangunan peninggalan Belanda, seperti gereja kristen jawa (GKJ) di Jl. Tentara Pelajar 106 Magelang, Kompleks Eks-karesidenan Kedu di Jl. Diponegoro 1 Magelang, serta RSJ. Prof. Dr. Soeroyo Magelang di Jl. Ahmad Yani 169 Magelang.
Selain itu, dipajang pula jas panjang tebal yang menjadi ciri khas Jenderal Soedirman saat perang gerilya.
Ia selalu menggunakan jas panjang tebal ini untuk menghangatkan tubuhnya dari dinginnya malam, apalagi ajs ini sangat cocok dipakai saat melewati rerumputan, semak belukar, dan sungai di hutan.
5. Ruang Tidur
Ruangan ini masih menyimpan ranjang, seprai, dan lemari asli peninggalan Jenderal Soedirman, sementara bantal dan kelambu di kamar ini merupakan replika.
Di rang tidur inilah, Jenderal Soedirman menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 29 Januari 1950.
6. Ruang Makan
Ruang makan ini merupakan tempat Jenderal Soedirman bersama istri, anak-anak, dan kerabatnya makan dan bercengkrama bersama.
7. Ruang Meja Pemandian Jenazah
Di ruangan ini, terdapat meja pemandian jenazah Jenderal Soedirman.
Usai dimandikan di atas meja itu dan disolatkan, jenazah Jenderal Soedirman kemudian dibawa ke Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Yogyakarta.
Jenderal Soedirman dikebumikan pada pukul 15.30 WIB, tanggal 29 Januari 1950. (2)
Baca: Perang Gerilya Jenderal Soedirman
Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Ahmad Yani
(TribunnewsWiki.com/Septiarani)
| Nama | Museum Jenderal Sudirman |
|---|
| Peresmian | 27 Februari 1976 |
|---|
| Diresmikan | Bapak Supagoldam (Gubernur Jawa Tengah) |
|---|
| Luas | 1.329 m2 |
|---|
| Pengelola | Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Magelang |
|---|
| Alamat | Jl. Ade Erma Suryani C. 7, Kota Magelang, Jawa Tengah |
|---|
Sumber :
1. www.museumindonesia.com
2. sejarahlengkap.com