Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sariamin Ismail lahir di Talu, Sumatra Barart pada 31 Juli 1909.
Semasa kecil, Sariamin diberi nama Basariah oleh kedua orang tuanya.
Namun, ia justru sering jatuh sakit.
Sehingga yang semula namanya Basariah diganti menjadi Sariamin.
Sedangkan tambahan Ismail ia dapat dari nama suaminya.
Nama Sariamin tercatat sebagai penulis di Indonesia.
Selain itu, ia juga menjadi novelis perempuan pertama di tanah air.
Sariamin kerap menggunakan nama samaran Selasih dan Seleguri.
Baca: Jusuf Hamka
Pada tahun 1934, ia pertama kali menulis novel berjudul Kalau Tak Untung yang diterbitkan Balai Pustaka.
Sariamin Ismail juga menulis beberapa surat, di antaranya Bintang Hindia, Asjarq, Pujangga Baru, Sunting Melayu, dan Panji Pustaka.
Namun, di tahun 1941 Sariamin memutuskan untuk pidah ke Kuantan dan menjabat sebagai anggota parlemen daerah Provinsi Riau pada tahun 1947.
Kendati begitu, Sariamin Ismail tetap menulis hingga akhirnya ia tutup usia pada 15 Desember 1995 di Pekanbaru, Riau. (1)
Asmara #
Sariamin Ismail melepas masa lajangnya pada tahun 1941 dengan pria bernama Ismail.
Ismail merupakan seorang pokrol atau pembela perkara di Landraad.
Pertemuan Sariamin dan Ismail terjadi di Landraad karena keduanya berurusan dengan Polisi Rahasia Belanda (IPD) kala itu.
Baca: Sayuti Melik
Sariamin sempat tersandung kasus sebanyak 3 kali delik pres dan 1 kali sprek delik.
Sariamin juga harus membayar denda untuk koran kala itu.
Karier #
Sariamin Ismail dikenal memiliki tulisan-tulisan yang cukup tajam.
Lewat tulisannya pula dapat membangkitkan semangat kebangkitan demi kemerdekaan.
Dunia penulisan memang sudah tak asing lagi sejak Sariamin masih kecil.
Sejak umur 11 tahun, ia sudah mulai menulis di buku harian yang diberi nama Mijn Vriedin.
Sariamin mencatat segalanya termasuk kesedihannya di buku harian tersebut.
Sariamin Ismail juga mengenyam pendidikan di Meijes Normaal School.
Baca: M. Jusuf
Namun, saat duduk di bangku sekolah Sariamin sering diejek oleh teman-temannya lantaran penampilan fisiknya.
Meski begitu, Sariamin menuliskan kesedihannya tersebut menjadi puisi dalam buku harian.
Kemampuan Sariamin semakin terasah saat sang guru memintanya untuk menulis naskah sandiwara dan syair lagu.
Sariamin pun menulis sebuah puisi yang berjudul Orang Laut.
Puisi tersebut dianggap bagus oleh gurunya sehingga dibacakan di setiap kelas.
Di saat itu pula, Sariamim mendapat gelas Cucu Rabindranath Tagore.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Sariamin menjadi seorang guru.
Terjun di dunia pendidikan membawanya menghasilkan sebuah buku yang bertema dunia wanita.
Baca: Eddy Soeparno
Karya #
Puisi
1. Kebesaran Hari Raya (Pandji Pustaka. No. 8-9. 1933. Th. 11)
2. Kecewa (Pandji Pustaka. No. 24. 1933. Th. 11)
3. Lapar (Pudjangga Bam. No. 1. 1933. Th. 1)
Prosa
Roman (sudah terbit)
1. Kalau Tak Untung (Balai Pustaka. Jakarta: 1933)
2. Pengaruh Keadaan (Balai Pustaka. Jakarta: 1937)
3. Kembali Ke Pangkuan Ayah (Mutiara Sumber Widya, Jakarta: 1986)
4. Musibah Membawa Bahagia (Depdikbud. Jakarta: 1986)
Roman (belum terbit)
1. "Di Pusara Ibu"
2. "Corak Dunia" (2)
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUAN)
Baca lengkap soal Hari Persahabatan Sedunia di sini
| Nama | Sariamin ismail |
|---|
| Tanggal lahir | 31 Juli 1909 |
|---|
| Pendidikan | Meijes Normaal School |
|---|
| Karier | Penulis, guru, & politis |
|---|
| Suami | Ismail |
|---|
| Meninggal dunia | 15 Desember 1995 |
|---|
Sumber :
1. id.wikipedia.org
2. pontianak.tribunnews.com