Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Mayor Jenderal Achamadi Hadisoemarto lahir di Ngawi, pada 5 Juni 1927.
Achmadi merupakan seorang tentara Indonesia.
Saat usia 14 tahun, Achmadi memutuskan pindah ke Solo.
Kemudian, saat ia berumur 18 tahun dipercaya memimpin Laskar Kere.
Pada tahun 1948, Sukarno memberinya pangkat mayor dan diangkat menjadi Komandan Batalion 2 pada KRO (Kesatoean Reserve Oemoem) TNI.
Setelah reorganisasi militer, ia menjadi komandan Detasemen II Brigade XVII TNI merangkap komandan Komando Militer Kota (KMK) Solo dan komandan Batalyon Pelajar Brigade V KRU.
Baca: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional : Dwi Komando Rakyat (Dwikora)
Ia memimpin Serangan Umum Empat Hari di Solo yang cukup berhasil memukul pasukan Belanda.
Achmadi kian mengukir prestasi, ditandai saat ia menjabat sebagai menteri penerangan di Kabinet Dwikora I.
Karier #
Achmadi memulai kariernya sejak berusia 14 tahun dengan bergabung bersama barisan Tentara Pelajar.
Tidak perlu waktu lama dalam mengembangkan karier, empat tahun setelah mendaftarkan diri bergabung pasukan.
Achmadi muda langsung dilantik untuk menjadi komandan dan pemimpin Laskar Kere di usianya yang ke-18.
Laskar Kere sendiri merupakan gabungan dari para pelajar Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas.
Meskipun berbasis di Kota Surakarta, dengan sistem gerilya dibawah kepemimpinan Achmadi pasukan ini beroperasi hingga penjuru Salatiga, Banyubiru dan Ambarawa.
Baca: Kabinet Dwikora
Berbeda dengan militer resmi TNI atau beberapa laskar lainnya, Laskar Kere dibawah Achmadi tidak membawa senjata dengan lengkap.
Oleh karenanya mereka hanya mendapat tugas menjadi pengawas dan penyelidik di beberapa wilayah perbatasan Kota Surakarta salah satunya Jembatan Sungai Tuntang.
Pada saat Achmadi bertugas di Sungai Tuntang pernah terjadi kesalahpahaman dengan pasukan TKR.
Hingga terjadi sambutan senjata api dari pasukan TKR ke arah Laskar Kere.
Salah paham ini berakhir saat Achmadi berdiri sembari berteriak "Kami Laskar Kere pak".
Dalam pertempuran Serangan Empat Hari Kota Surakarta, Achmadi sempat bersitegang dengan Slamet Riyadi saat proses gencatan senjata dengan pasukan Belanda dan sekutu.
Achmadi menghendaki agar operasi militer tetap berlanjut, namun ide itu ditolak oleh Slamet Riyadi.
Kesepakatan mulai muncul saat Gubernur Militer Regional Jawa Tengah, Jenderal Gatot Subroto memberi arahan untuk melanjutkan proses damai.
Di sela-sela pertempuran melawan para tentara Belanda dan sekutu yang kembali ke Indonesia.
Achmadi mendapat pangkat mayor langsung dari Presiden Sukarno.
Pasca perang, karier Achmadi semakin menanjak dari posisi militer kemudian naik menjadi Menteri Penerangan pada Kabinet Dwikora, di masa kepresidenan Soekarno.
Masa gemilang Achmadi menjadi surut saat dirinya tersandung keterlibatan kasus G30S/PKI di masa orde baru.
Hingga akhirnya Achmadi menikmati masa tuanya di penjara selama sepuluh tahun.
Kemudian Achmadi yang berpangkat sebagai Mayor Jenderal tersebut wafat pada 2 Januari 1984 dan dimakamkan Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta. (1)
(TribunnewsWiki.com/Puan)
Baca lengkap soal Dwikora di sini
| Nama | Achamadi Hadisoemarto |
|---|
| Tanggal Lahir | 5 Juni 1927 |
|---|
| Riwayat Karier | Tentara dan Menteri Penerangan |
|---|
| Meninggal Dunia | 2 Januari 1984 |
|---|
Sumber :
1. tribunsolowiki.tribunnews.com