Museum Batik Yogyakarta

Museum Batik Yogyakarta didirikan pada tahun 1960-an atas prakarsa Hadi Nugroho si pemilik museum. Kemudian pada tahun 1977, tempat ini diresmikan dan diakuisisi oleh pemerintah daerah DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta).


zoom-inlihat foto
Museum-Batik-Yogyakarta-2.jpg
museumbatik.com
Museum Batik Yogyakarta

Museum Batik Yogyakarta didirikan pada tahun 1960-an atas prakarsa Hadi Nugroho si pemilik museum. Kemudian pada tahun 1977, tempat ini diresmikan dan diakuisisi oleh pemerintah daerah DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta).




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Museum Batik Yogyakarta merupakan museum batik pertama yang berada di kota Yogyakarta. 

Museum Batik Yogyakarta ini didirikan oleh Hadi Nugroho yang menjadi pemilik museum. 

Bangunan museum ini dikelola oleh pasangan suami istri yang bernama Dewi dan Hadi Nugroho. 

Museum ini diresmikan pada tanggal 12 Mei 1977 oleh Kanwil P&K daerah Istimewa Yogyakarta. 

Luas area museum ini sekitar 400 meter persegi yang sekaligus menjadi tempat tinggal pasangan suami istri tersebut. 

Pengunjung menikmati wisata sejarah batik dan membatik secara langsung di Museum Batik Yogyakarta di Jalan Dr Sutomo Nomor 13A, Kota Yogyakarta, Selasa (19/1/2021).
Pengunjung menikmati wisata sejarah batik dan membatik secara langsung di Museum Batik Yogyakarta di Jalan Dr Sutomo Nomor 13A, Kota Yogyakarta, Selasa (19/1/2021). (TRIBUNJOGJA/Rendika Ferri)

Baca: Museum Batik Danar Hadi

Pada tahun 2000, museum ini pernah memperoleh penghargaan dari MURI atas karya “Sulaman Terbesar” dengan batik berukuran 90×400 cm2. 

Kemudian pada tahun 2001 museum ini memperoleh penghargaan lagi dari MURI sebagai pemrakarsa berdirinya Museum Sulaman pertama yang ada di Indonesia.

Museum ini menyimpan koleksi batik sampai mencapai 1.200 yang terdiri dari 500 lembar kain batik tulis, 560 batik cap, 124 canting, dan 35 wajan serta bahan pewarna, terdapat malam juga di museum ini. 

Koleksi yang ada di museum ini terbagi menjadi tiga kelompok yaitu: koleksi batik pedalaman, batik pesisiran daerah, dan koleksi peralatan batik kuno.  (1)

 

  • Sejarah


Museum Batik Yogyakarta didirikan pada tahun 1960-an atas prakarsa Hadi Nugroho si pemilik museum.

Pada awalnya, belum ada campur tangan dari pemerintah daerah Yogyakarta atas pengelolaan museum.

Kemudian pada tahun 1977, tempat ini diresmikan dan diakuisisi oleh pemerintah daerah DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta).

Akte museum Batik tercatat pada nomor 22 yang diterbitkan pada tahun 1977 dan kemudian diperbaharui lagi pada tahun 2014.

Pada tahun 2001, museum mendapatkan sertifikat dari UNESCO sebagai warisan kultural dunia.

Keberadaan Museum Batik Yogyakarta ini telah mengangkat derajat kota Yogyakarta dengan diberikannya nama Kota Batik oleh WCC pada tahun 2014 lalu.

Pengunjung menikmati wisata sejarah batik dan membatik secara langsung di Museum Batik Yogyakarta di Jalan Dr Sutomo Nomor 13A, Kota Yogyakarta, Selasa (19/1/2021).
Pengunjung menikmati wisata sejarah batik dan membatik secara langsung di Museum Batik Yogyakarta di Jalan Dr Sutomo Nomor 13A, Kota Yogyakarta, Selasa (19/1/2021). (Tribun Jogja/Rendika Ferri Kurniawan)

Baca: Museum Batik Pekalongan

Berdirinya Museum Batik Yogyakarta dilatarbelakangi oleh kekhawatiran Hadi Nugroho dan sang istri Dewi Sukaningsih akan perubahan batik yang mulai meninggalkan corak aslinya.

Terutama pada batik-batik yang diproduksi masal melalui pabrik percetakan tekstil.

Hal ini ditakutkan akan membawa dampak pada ditinggalkannya kaidah dan seni membatik.

Tujuan dari didirikannya museum Batik Yogyakarta ini adalah untuk membangun relasi dan kerja sama yang baik antara museum, lapisan masyarakat sekitar, serta perusahaan-perusahaan yang memiliki itikad baik untuk terus meningkatkan, mengembangkan serta melestarikan budaya batik. (2)

  • Koleksi


- 500 lembar kain batik

- 124 canting

- 35 koleksi alat dan perlengkapan membatik seperti anglo, wajan, pewarna alam, pacar air, kulit pohon mengkudu, kayu pohon tegeran dan getah pohon pinus

- 600 jenis cap batik.

- Berbagai macam kain batik dari tahun 1960-an yang berupa kain panjang sarung, selendang dan tokwi (taplak tutup meja saji)

- Batik karya Van Zuylen dari Belanda

- Batik karya Oey Soe Tjoen dari Cina

- Koleksi kain batik dari tahun 1700-an dengan berbagai corak

- Sulaman karya Dewi Nugroho yang dibuat pada tahun 1980

- Sulaman terpanjang dengan ukuran 400 cm x 90 cm yang telah mendapatkan MURI sebagai sulaman terpanjang.

- Gaya batik yang dipamerkan di museum ini kebanyakan batik bergaya Solo, Pekalongan, Yogyakarta dan batik gaya tradisional lainnya dalam bentuk kain panjang, sarung dan yang lainnya.

- Motifnya kebanyakan adalah motif pesisiran, pinggiran, terang bulan dan motif esuk-sore.

Proses membatik diperlihatkan secara langsung.
Proses membatik diperlihatkan secara langsung. (Tribun Jogja/Rendika Ferri Kurniawan)

 

Baca: Museum Jenderal Besar Dr. A.H.Nasution

Beberapa kain koleksi yang terkenal di museum Batik Yogyakarta adalah:

- Kain Panjang Soga Jawa (tahun 1950-1960)

- Kain Panjang Soga Ergan Lama (tahun tidak tercatat)

- Sarung Isen-Isen Antik (tahun 1880-1890)

- Sarung Isen-Isen Antik (Kelengan) (tahun 1880-1890)

- Kain buatan nyonya Belanda dari Pekalongan

- Sarung Panjang Soga Jawa (1920-1930) buatan nyonya Lie Djing Kiem dari Yogyakarta

Hampir semua koleksi yang ada pada museum ini diperoleh dari keluarga pendiri museum, dengan koleksi tertuanya adalah kain batik yang dibuat pada tahun 1840.

Sisanya adalah hasil karya dari pemilik museum sendiri, diantaranya adalah sulaman gambar Presiden Republik Indonesia yang pertama Soekarno, mantan Presiden Soeharto, Megawati Soekarnoputri dan Hamengkubuwono IX.

Selain itu, ada juga potret tokoh pahlawan seperti Tuanku Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro.

Koleksi lain yang terdapat di dalam museum adalah sulaman wajah Paus Yohanes Paulus II dan Bunda Theresa dari India. (3)

  • Fasilitas


- Ruang tunggu (AC dan Non AC)

- Free wifi

- Musala

- Parkir luas

- Toilet

- Souvenir shop

- Kantin kejujuran (4)

Berbagai alat membatik dipamerkan di Museum Batik Yogyakarta.
Berbagai alat membatik dipamerkan di Museum Batik Yogyakarta. (Tribun Jogja/Rendika Ferri Kurniawan)

Baca: Museum Perjuangan Yogyakarta

  • Jam Operasional dan Harga Tiket


Museum ini buka setiap hari Senin - Sabtu pukul 09.00 - 15.00 WIB.

Hari Minggu dan hari besar  TUTUP

Untuk study tour (rombongan) & tamu minimal 5 orang, dengan perjanjian terlebih dahulu.

Tiket

Harga tiket masuk Rp20.000. setiap orangnya.

Namun jika ingin mengikuti workshop membatik pengunjung dikenakan biaya tambahan Rp40.000. (5)

Baca: Museum Aquarium Air Tawar

 

  • Lokasi


Museum Batik Yogyakarta terletak di Jl. Dr. Soetomo No. 13 A Kota Yogyakarta

Untuk dapat mencapainya, bisa naik becak dari Malioboro selama 20-30 menit.

Bila menggunakan kendaraan pribadi, waktu yang diperlukan lebih sedikit yaitu 15-20 menit.

Jika berangkat dari titik nol kilometer kota Yogyakarta, bergeraklah ke arah timur melalui Jl. Panembahan Senopati hingga mencapai perempatan lampu merah.

Lalu lurus melewati Jl. Sultan Agung dan jembatan Sayidan hingga bertemu Pura Pakualaman.

Jika sudah mencapai Pura Pakualaman, berarti tandanya sudah dekat dengan lokasi Museum Batik Yogyakarta. (6)

(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)



Nama Tempat Museum Batik Yogyakarta
Lokasi Jalan Dr Sutomo Nomor 13A, Kota Yogyakarta
Jam Operasional Senin - Sabtu pukul 09.00 - 15.00 WIB.
Hari Minggu dan hari besar TUTUP
   


Sumber :


1. jbbudaya.jogjabelajar.org
2. gudeg.net
3. visitingjogja.com
4. www.alodiatour.com


Editor: Natalia Bulan Retno Palupi






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved