Museum Taman Prasasti

Museum ini dikenal sebagai pemakaman dari era pemerintahan Hindia-Belanda. Juga menjadi tempat peristirahatan terakhir aktivis Soe Hok Gie.


zoom-inlihat foto
mUSEUM-TAMAN-PRASASTI.jpg
Instagram.com/jakarta_tourism
Museum Taman Prasasti ini memiliki keunikan dengan hamparan batu nisan di bagian depan museum.

Museum ini dikenal sebagai pemakaman dari era pemerintahan Hindia-Belanda. Juga menjadi tempat peristirahatan terakhir aktivis Soe Hok Gie.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Museum ini memiliki keunikan dengan hamparan batu nisan di bagian depan museum.

Juga ada sebuah lonceng di dekat pintu masuk.

Lonceng tersebut dibunyikan ketika ada jenazah datang untuk dimakamkan.

Jika melihat ke sebelah kiri, pengunjung akan melihat ssebuah patung perempuan yang terlihat menangis.

Menurut legenda, perempuan tersebut sangat sedih karena kehilangan suaminya akibat malaria.

Ia tidak kuat menahan rasa sedihnya, lalu memutuskan untuk menyusul sang suami dengan gantung diri.

Di sebelah kiri juga ada peti jenazah di dalam kaca. Kedua peti ini digunakan untuk mengangkut jenazahBung Karno dan Bung Hatta.

Peti yang digunakan Soekarno tersebut membawa jenazah Sang Proklamator dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) ke Wisma Yaso—sekarang Museum Satria Mandala—untuk disemayamkan.

Sementara itu, peti Mohammad Hatta digunakan untuk membawa jenazah dari Rumah Sakit Dr. Tjitpto Mangunkusumo (RSCM) ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir.

Bung Hatta memang berwasiat ingin dimakamkan di tengah-tengah masyarakat. (1)

 

  • Sejarah #


Awalnya, lokasi Museum Taman Prasasti merupakan sebuah area pemakaman umum seluas 5,5 hektar yang bernama Kebon Jahe Kober.

Tempat tersebut dibangun pada tahun 1795 untuk menggantikan kuburan yang lainnya dimana ada di samping Gereja Nieuw Hollandsche Kerk, yang memang sudah penuh (kini menjadi Museum Wayang).

Makam baru tersebut memiliki koleksi nisan dari tahun yang sebelumnya karena memang sebagian besar dipindahkan dari pemakanan lain yaitu Nieuw Hollandse Kerk di awal abad 19.

Untuk nisan yang dipindahkan sendiri ditandai dengan sebuah tulisan HK atau singkatan atau inisial dari Hollandsche.

Di tanggal 9 Juli tahun 1977, pemakaman Kebon Jahe Kober ini sendiri dijadikan sebagai sebuah museum, yang kemudian dibuka untuk umum dengan beberapa koleksi prasasti.

Kemudian nisan dan juga makam dengan jumlah 1.372 terbuat dari batu alam, marmer serta perunggu.

Dikarenakan perkembangan kota yang semakin pesat, maka luas dari museum ini sendiri menyusut hingga hanya mencapai 1,3 hektar saja.

  • Objek Koleksi #


Museum Taman Prasasti ini memiliki beberapa objek yang dapat dilihat, contohnya saja seperti beberapa koleksi prasasti, kemudian juga nisan dan kereta jenazah antik.

Untuk bisa melihat beberapa objek tersebut pengunjung sebaiknya melihat papan informasi lebih dulu mengingat luasnya cukup besar.

Pada papan informasi tersebut terdapat beberapa informasi secara singkat yang mana menjelaskan tentang nisan dan juga prasasti dari tokoh penting dan denah museum.

Tempat ini kemudian terbagi menjadi beberapa area.

1. Area J

Di area museum ini terdapat makam pualam yang mana mempunyai hiasan sebuah buku, dan nisan tesebut merupakan milik Dr.H.F.Roll.

Beliau ini merupakan seorang pendiri sebuah sekolah dokter pada masa Hindia Belanda yang terbilang sangat terkenal, yaitu School Tot Opleiding Ban Inlandsche Artsen, dan biasanya dikenal dengan STOVIA.

STOVIA ini sendiri juga menjadi sebuah cikal bakal dari Fakultas kedokteran di Universitas Indonesia.

Kemudian pada area agak sudut, terdapat dua buah peti jenazah yang mana disimpan di dalam sebuah kotak mika transparan.

Peti jenazah tersebut dulunya digunakan untuk membawa jenazah Ir. Soekarno dan juga Drs. Mohammad Hatta.

Dan karena keduanya muslim, maka peti jenazah tersebut tidak ikut dikuburkan.

Baca: Museum Seni Rupa dan Keramik

Baca: Museum Basoeki Abdullah

2. Area I

Pada area I dulunya Museum ini memang merupakan sebuah pemakaman, tetapi untuk sekarang ini jenazah – jenazah yang dikuburkan sudah dipindahkan serta disebar ke beberapa pemakaman yang lainnya.

Bebeapa tulang jenazah tersebut sementara disimpan pada bangunan, dan bangunan tersebut disebut dengan Rumah Tulang.

Bangunan tersebut pada dasarnya merupakan sebuah makam keluarga dari A.J.W Van Delden, yang merupakan seorang juru tulis di Indonesia Timur dan juga pernah menjabat sebagai ketua perdagangan VOC.

Menurut informasi yang memang masih simpang siur, karena terdapat makam di mana atasnya terdapa pohon yang sanga besar, dengan demikian tidak bisa dibongkar.

Jadi nisan ini konon dipercaya masih menyimpan dari jenazah Kapiten Jas, dimana makamnya tersebut diyakini dapat memberikan kesuburan, kemakmuran, kebahagiaan dan juga keselamatan.

3. Area G

Pada area G ini juga terdapat replika tembok peringatan Pieter Erberveld yang merupakan seorang keturunan dari Belanda-Siam dimana memiliki rencana untuk berontak serta melakukan makar di pemerintahan Hindia Belanda, dengan cara menggalang dukungan kaum pribumi.

Namun sayang, rencananya tersebut diketahui sehingga dirinya ditangkap kemudian dihukum mati dengan kedua tangan dan juga kakinya ditarik 4 ekor kuda. Pada atas tembok tersebut dulunya ditancapkan penggalan dari kepala Pieter kemudian di dindingnya dipasang prasasti.

Sedangkan pada belakang Area G ini terdapat sebuah patung Pastur Herikus Van Der Grinten yang mana berdiri pada atas tugu yang berwarna cokelat. Dirinya merupakan seorang pastur ternama (pada masanya) di Batavia, serta sangat disayangi banyak orang karena memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi.

4. Area H

Di area H ini terdapat sebuah nisan sederhana yang merupakan milik seorang arsitek yang berkebangsaan Belanda yang bernama Marius J.Hulswit.

Selain itu juga terdapat bebeapa patung bidadari.

Kemudian juga terdapat batu nisan yang mana dibangun di atas pondasi dengan bentuk segi delapan, nisan tersebut milik Olivia Mariamne Raffless yang merupakan istri dari Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffless yang juga merupakan pendiri Kebun Raya Bogor.

Kemudian juga terdapat nisan milik Elisabeth Adriane Roseboom yang merupakan istri Jeremias Schill yang dulunya merupakan pemilik Sekolah Santa Maria.

Selain itu juga terdapat nisan dengan ukuran yang cukup lebar, yang merupakan milik Marisa, dimana merupakan seorang wanita yang berasal dari suku Jawa dan dinikahi A.Schultheiss.

Nisan tersebut dibuat untuk mengingat jika masa itu sebagian besar wanita pribumi hanya dijadikan sebagai simpanan.


5. Lain-lain

Di tempat lain juga terdapat sebuah monumen yang serupa dengan obelisk dimana merupakan nisan dari Direktur Jenderal Finansial Hindia Belanda yang bernama L.Launy, dimana meninggal karena dirinya terjatuh dari kuda.

  • Lokasi dan Operasional #


Museum Taman Prasasti beralamatkan di Jalan Tanah Abang Nomor 1, Jakarta Pusat.

Tempat ini dibuka pada hari Selasa - Minggu, pada pukul 09.00 - 15.00 WIB.

Sedangkan di hari Senin dan juga hari libur nasional Museum Taman Prasasti ini tutup.

Untuk harga tiket masuknya sendiri adalah untuk dewasa Rp 5.000,-, kemudian mahasiswa Rp 3.000,- dan pelajar Rp 2.000,-. (2)

 
(TribunnewsWiki.com/Niken Aninsi)


Alamat Jl. Tanah Abang I No.1, RT.11/RW.8, Petojo Sel., Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat
Lokasi Jakarta Pusat, DKI Jakarta
Google Map https://goo.gl/maps/yC5aUoAGAXyxLfcs9
   


Sumber :


1. megapolitan.kompas.com
2. www.museumjakarta.com


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved