Kampoeng Batik Laweyan

Kampoeng Batik Laweyan berlokasi di Jalan Dr. Rajiman No. 521, Laweyan, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57148


zoom-inlihat foto
2-Kampoeng-Batik-Laweyan.jpg
Tribunsolo.com/Chrysnha Pradipha
Kampoeng Batik Laweyan merupakan kampung batik tertua di Indonesia yang berlokasi di Jalan Dr. Rajiman No. 521, Laweyan, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57148

Kampoeng Batik Laweyan berlokasi di Jalan Dr. Rajiman No. 521, Laweyan, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57148




  • Informasi awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kampoeng Batik Laweyan merupakan kampung batik tertua di Indonesia.

Industri batik tulis warna alami di Laweyan mulai berkembang pada abad 14 M semasa pemerintahan keraton Pajang.

Berikutnya ketika teknik batik cap ditemukan pada tahun 1900an sehingga melahirkan juragan-juragan batik yang melegenda dengan kekayaannya.

Artefak kejayaan industri batik dengan mudah ditemukan disini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, akademisi maupun kru media domestik dan internasional yang antusias berkunjung ke Kampoeng Batik Laweyan.

Laweyan juga identik dengan keberadaan bangunan Cagar Budaya dari masa Keraton Pajang (abad 14 M) sampai masa kejayaan industri batik sekitar tahun 1900 - 1960an.

Masa kejayaan Laweyan sangat erat dengan legenda Mbok Mase dan Mas Nganten, sebutan bagi juragan batik yang sangat disegani berkat prestasinya dalam perdagangan batik.

Rumah-rumah mereka bak istana masa lampau yang sebagian beralih fungsi sebagai showroom batik untuk menyambut para wisatawan.

Rumah-rumah kuno eksotis ini sering dijadikan sebagai latar belakang pembuatan film dan program acara media TV nasional dan internasional.(1)

  • Sejarah


Sejarah Laweyan sangatlah panjang bahkan beberapa ratus tahun sebelum berdirinya kota Yogyakarta dan Surakarta.

Dimulai dari era kerajaan Pajang (14 Masehi) sampai dengan era pergerakan kemerdekaan yang dimotori oleh Kyai Haji Samanhudi sebagai pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1911.

Sejarah panjang ini memunculkan banyak cerita inspiratif dan heroik yang penuh filosofi hidup tinggi sehingga sangat diminati para peneliti dan sejarawan dari berbagai penjuru negeri.

Batik adalah suatu proses pelekatan malam/lilin panas pada media kain katun atau kain sutra (kemudian berkembang pada media kayu, kulit, kaca dlsb) dengan motif tertentu sebagai teknik perintangan warna. Batik sebagai budaya adiluhung bangsa Indonesia konon berkembang sejak masa Kerajaan Mojopahit.

Batik Laweyan sudah berkembang sebelum abad 15M semasa pemerintahan Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) di Keraton Pajang.

Saat itu para pengrajin batik laweyan mulai membangun industri batik tulis dengan pewarna alami sehingga desa laweyan terus berkembang menjadi kawasan penghasil batik yang tertua di Indonesia.(1)

Baca: Pasar Grosir Batik Setono Pekalongan

  • Masa Kejayaan


Seiring dengan pengembangan teknik batik tulis ke teknik batik cap, industri batik laweyan mengalami puncak kejayaannya pada era 1900an semasa pergerakan kemerdekaan yang dimotori oleh Sarikat Dagang Islam (SDI) dengan pimpinan KH Samanhudi.

Dibandingkan dengan batik tulis proses pembuatan batik cap relatif lebih mudah, lebih cepat dan lebih ekonomis sehingga harga jualnya lebih bisa diterima masyarakat pada umumnya.

Pada masa itu muncullah nama Tjokrosoemarto, seorang tokoh juragan batik yang fenomenal.

Ia memiliki industri batik terbesar di laweyan, jumlah omsetnya luar biasa yang didukung oleh pengrajin-pengrajin batik dari berbagai daerah di pulau Jawa.

Wilayah pemasarannya tak hanya di dalam negeri, Tjokrosoemarto juga memasarkan batik ke mancanegara.

Ia merupakan seorang eksportir batik pertamakali dari Indonesia.

Selain Tjokrosoemarto ada banyak juragan batik yang sukses dan sekarang meninggalkan sisa-sisa kejayaannya berupa bangunan-bangunan rumah kuno artistik yang berasitektur jawa dan eropa di berbagai sudut Kampoeng Batik Laweyan.(1)

Baca: Museum Radya Pustaka

Kampoeng Batik Laweyan
Kampoeng Batik Laweyan (pariwisatasolo.surakarta.go.id)

  • Masa Kemunduran


Pada era 1970=an mulai muncul teknik baru untuk membuat tekstil bermotif batik tanpa menggunakan lilin panas sebagai perintang warna namun menggunakan screen sablon.(1)

Saat itu “tekstil bermotif batik” dikenal sebagai batik printing, tentu saja penamaan itu keliru karena proses pembuatan printing dan batik itu berbeda.

Namun, saat ini sudah ada peraturan dari pemerintah untuk melindungi konsumen dengan mengharuskan para penjual batik untuk memberikan informasi yang benar tentang kategori produk batik tulis, batik cap dan printing (tekstil bermotif batik).

Dengan kemunculan produk printing yang relatif murah dan proses produksinya sangat cepat mulai menyaingi pemasaran batik tulis dan batik cap.

Satu persatu industri batik di laweyan mengalami kebangkrutan dan pada tahun 2000-an jumlah industri batik di laweyan hanya menyisakan kurang dari 20 saja.


Prihatin dengan kemerosotan jumlah industri batik laweyan, para tokoh masyarakat dan juragan batik laweyan berkumpul, bermusyawarah lalu bersepakat untuk membangun kembali industri batik laweyan dengan konsep kawasan wisata batik melalui organisasi Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) yang dideklarasikan pada tanggal 25 September 2004.(1)

Sejak saat itu Kampoeng Batik Laweyan mulai berbenah diri, membangun industri batik dan non batik dalam konsep pariwisata yang bersinergi dengan banyak pihak seperti Pemerintah, Perguruan Tinggi, ASITA, PHRI, LSM dan lain sebagainya.

Proses regenerasi secara bertahap menampakkan hasilnya, sekarang jumlah IKM dan UKM Batik Laweyan sudah meningkat menjadi lebih dari 80.

Peningkatan kualitas batik juga terus dilakukan dengan bekerjasama pihak Pemerintah, Perguruan Tinggi dan LSM, salah satunya adalah mengikuti program Standar Nasional Indonesia (SNI).

Untuk meningkatkan performa brand batik laweyan, FPKBL juga telah mendaftarkan merek batik kolektif dengan nama Batik Heritage Laweyan di Kemenkumham.

Berbagai ikhtiar inovasi terus dilakukan oleh FPKBL demi kemajuan Batik Laweyan pada khususnya dan kemajuan bangsa Indonesia pada umumnya.

Baca: Museum Batik Pekalongan

Kampoeng Batik Laweyan
Kampoeng Batik Laweyan (TRIBUNSOLO.COM/Garudea Prabawati)

  • Jam Operasional dan Harga


Kampoeng Batik Laweyan buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 20.00 WIB.(2)

Jika anda tertarik untuk mencoba membuat batik di Kampoeng Batik Laweyan cukup dengan merogoh kocek Rp 50.000 hingga Rp 100.000 saja.(3)

(TribunnewsWiki.com/Puan)

 



Nama Tempat Kampoeng Batik Laweyan
Lokasi Jalan Dr. Rajiman No. 521, Laweyan, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57148
Google Map https://goo.gl/maps/j4pDFCxYvCix8tC58
   


Sumber :


1. kampoengbatiklaweyan.org
2. jam-buka.com
3. thenyaman.com








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved