Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Palestina adalah sebuah wilayah geografis di Timur Tengah antara Laut Tengah dan Sungai Yordan.
Nama "Palestina" digunakan oleh penulis-penulis Yunani Kuno, dan kemudian digunakan untuk provinsi Romawi Syria Palaestina, provinsi Romawi Timur Palaestina Prima dan provinsi Umayyah dan Abbasiyah Jund Filastin.
Wilayah ini juga dikenal sebagai Tanah Israel, Tanah Suci, Levant Selatan, Cisjordan, dan secara historis dikenal dengan nama-nama lainnya seperti Kanaan, Suriah Selatan dan Kerajaan Yerusalem.
Terletak di lokasi yang strategis, di antara Mesir, Suriah dan Jazirah Arab, dan tempar lahirnya Agama Yahudi dan Kekristenan, wilayah ini mempunyai sejarah yang panjang dan riuh sebagai persimpangan untuk agama, budaya, perdagangan dan politik.
Wilayah ini telah dikuasai oleh berbagai bangsa, yaitu: Orang Mesir Kuno, Orang Kanaan, Bani Israil, Orang Assyiria, Orang Babilonia, Orang Farsi, Orang Yunani Kuno, Orang Romawi, Orang Romawi Timur, Kekhalifahan Arab Sunni, Kekhalifahan Fatimiyah Syi'ah, Orang Salibi, Ayyubiyyah, Mamluk, Kesultanan Utsmaniyah, Orang Britania, Orang Israel modern dan Bangsa Palestina.
Batas-batas dari wilayah ini selalu berubah sepanjang sejarah, dan terakhir kali ditetapkan pada zaman modern oleh Persetujuan batas Prancis-Britania (1920) dan Nota Transyordania (tanggal 16 September 1922), selama periode Mandat Palestina
Sekarang, wilayah ini terdiri dari Negara Israel dan Negara Palestina. (1)
Letak astronomis negara Palestina adalah di antara 31,35° hingga 32,55° LU dan 34,87° hingga 35,54° BT.
Baca: Arab Saudi
Baca: Israel
Sejarah #
Palestina adalah wilayah daratan kecil sekitar 2.400 mil persegi. Palestina berperan penting dalam sejarah kuno dan modern Timur Tengah.
Hingga 1948, Palestina mencakup wilayah geografis yang terletak di antara Laut Mediterania dan Sungai Jordan.
Secara teoritis, Palestina mencakup Tepi Barat (wilayah yang membagi Israel dan Yordania Modern) dan Jalur Gaza (tanah yang berbatasan dengan Israel dan Mesir modern).
Tetapi ada yang menganggap daratan ini sebagai Israel masa kini.
Palestina menjadi tempat terjadinya konflik politik terus menerus karena banyak upaya keras dari beberapa pihak untuk menguasai tanah Palestina karena dianggap sakral atau tanah suci.
Orang-orang Arab yang menyebut tanah ini sebagai tanah air disebut bangsa Palestina.
Selama 1517-1917, Kekaisaran Ottoman memerintah sebagain besar wilayah itu.
Ketika Perang Dunia I berakhir pada 1918, Inggris mengambil kendali atas Palestina.
Liga Bangsa-bangsa mengeluarkan mandat, berupa dokumen yang memberi Inggris tanggung jawab membangun tanah air bangsa Yahudi di Palestina yang mulai berlaku pada 1923.
Pada 1947, PBB mengajukan rencana membagi dua Palestina, yaitu wilayah independen Yahudi dan wilayah independen Arab dengan Yerusalem sebagai wilayah internasional.
Yahudi menerima rencana itu tetapi kebanyakan orang Palestina dan Arab menolak. Mereka mulai membentuk pasukan sukarela di seluruh Palestina.
Pada Mei 1948, kurang dari setahun setelah Partition of Palestine (Pemisahan Palestina) dikemukakan, Inggris menarik diri dari Palestina dan Israel menjadi negara merdeka.
Sekitar 700.000-900.000 warga Palestina melarikan diri atau terpaksa meninggalkan rumah. Pecah perang antara orang-orang Yahudi dan Arab di wilayah itu.
Perang Arab-Israel 1948 melibatkan Israel dan lima negara Arab, yaitu Yordania, Irak, Suriah, Mesir dan Lebanon.
Konflik ini menandai dimulainya tahun-tahun penuh kekerasan antara Arab dan Israel.
Pada 1964, Palestine Liberation Organization atau PLO (Organisasi Pembebasan Palestina atau PLO) dibentuk untuk mendukung rencana membangun negara Palestina di Israel.
Munculnya PLO sebagai respons terhadap Zionisme, sebuah gerakan terorganisir untuk membangun kembali tanah air Yahudi di Israel.
Pada 1969, pemimpin Palestina Yasser Arafat menjadi Ketua PLO dan memegang gelar itu hingga meninggal pada 2004.
Pada 5-10 Juni 1967 terjadi The Six-Day War, penyerangan Israel terhadap Mesir, Yordania dan Suriah.
Israel mengambil alih beberapa wilayah seperti Jalur Gaza, Tepi Barat (West Bank), Semenanjung Sinai dan dataran tinggi Golan. Peperangan berlanjut bertahun-tahun kemudian.
Pada 1987, konflik Intifada Pertama pecah dipicu oleh pendudukan Israel atas Gaza dan Tepi Barat.
Proses perdamaian diupayakan yang dikenal dengan Kesepakatan Damai Oslo (Oslo Peace Accords) untuk mengakhiri kekerasan.
Oslo I itu ditandatangani pada 1993, disaksikan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan pemimpin Palestina Yasser Arafat. Terbentuklah pemerintahan Palestina yang baru.
Pada 1995, Oslo II diadakan untuk meminta Israel menarik mundur pasukannya dari Tepi Barat dan area lainnya, sekaligus menjadwalkan Pemilihan Dewan Legislatif Palestina.
Konlik Intifada Kedua pecah pada September 2000 dipicu kunjungan Ariel Sharon (yang nantinya menjadi Perdana Menteri Israel) di Masjid Al-Aqsa Yerusalem.
Pada 2005, pasukan Israel mundur dari Gaza. Pada 2006, kelompok militan Islam Sunni, Hamas, memenangkan pemilihan legislatif di Palestina.
Di tahun tersebut, terjadi perseteruan antara Hamas dan Fatah, kelompok politik yang mengendalikan PLO. Pada 2007, Hamas mengalahkan Fatah pada pertempuran Gaza.
Hamas dan Israel terlibat perang, yaitu Operation Cast Lead (Desember 2008), Operation Pillar of Defense (November 2012), dan Operation Protective Edge (Juli 2014).
Pada April 2014, Hamas dan kelompok Fatah bersepakat membentuk pemerintah Palestina yang bersatu.
Pada Mei 2017, para pemimpin Hamas (pemegang kekuasaan Palestina) mengusulkan pembentukan negara Palestina menggunakan perbatasan sesuai ketentuan 1967, dengan Yerusalem sebagai ibukotanya. Tetapi menolak mengakui Israel sebagai negara.
Pemerintah Israel langsung menolak rencana tersebut. Hingga saat ini para pemimpin dunia terus bekerja mencari resolusi terbaik yang menghasilkan perdamaian di wilayah itu.
Bangsa Palestina masih memperjuangkan negara Palestina yang berdaulat dan diakui secara resmi semua negara di dunia.
Karena meski orang-orang Palestina menduduki wilayah utama tetapi populasi besar orang Israel terus menetap di sana.
Status #
Sesuai paragraf 2 resolusi 67/19, status Palestina di PBB adalah sebagai Non-member Observer State (negara pengamat non-anggota) oleh Sekretariat PBB.
Menurut Misi Permanen untuk PBB (Buku Biru), status Palestina di bawah kategori II sebagai: negara bukan anggota yang telah menerima undangan tetap untuk berpartisipasi sebagai pengamat dalam sesi dan pekerjaan Majelis Umum dan mempertahankan misi pengamat permanen di Markas Besar PBB.
Pada 12 Desember 2012, Palestina meminta Sekretaris Jenderal PBB untuk menggunakan istilah Negara Palestina di semua dokumen dan papan nama pada semua pertemuan PBB.
Menurut publikasi PBB bertanggal 8 Maret 2013 tersebut, sebagai Kepala Negara Palestina adalah Mahmoud Abbas, Presiden Negara Palestina.
Pada 8 Januari 2013, Palestina memberi tahu Sekretaris Jenderal bahwa Kepala Pemerintahan Palestina adalah Salam Fayyad, Perdana Menteri Negara Palestina. Menteri Luar Negeri Negara Palestina adalah Riad Malki.
Sesuai permintaan tersebut, sekarang penyebutan Negara Palestina digunakan di semua dokumen PBB dan pada papan nama yang digunakan dalam pertemuan PBB. (2)
Demografi #
Menurut Biro Statistik Pusat Palestina pada tahun 2013, Negara Palestina memiliki populasi 4.420.549 orang.
Luas wilayah negara Palestina adalah 6.220 km⊃2;. Kepadatan penduduk Palestina adalah 731 jiwa per km⊃2;.
Sebanyak 93% warga Palestina beragama Islam yang sebagian besar didominasi oleh pengikut dari cabang Islam Sunni.
Ada juga minoritas Ahmadiyah dan 15% populasi Muslim non-denominasi.
Orang Kristen Palestina mewakili minoritas yang signifikan sebesar 6%, diikuti oleh komunitas agama yang jauh lebih kecil, termasuk Druze dan Samaritan. (3)
(TribunnewsWiki.com/Septiarani)
| Ibu Kota | Ramallah, Yerusalem Timur |
|---|
| Luas | 6.220 km² |
|---|
| Polulasi | 4,685 juta (2019) |
|---|
| Mata uang | Shekel baru Israel, Dinar Yordania |
|---|