TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kisah Sayyed Munir Kamruddin, seorang penggali kubur di Mumbai, berjibaku 24 jam dan tak bisa berpuasa karena ledakan kasus pasien meninggal Covid-19 di India.
Ramadhan tahun ini menjadi waktu yang berat bagi pekerja muslim penggali kubur di Mumbai, India.
Pasalnya, mereka harus bekerja nyaris tanpa henti 24 jam, menggali kubur seiring melonjaknya kasus virus corona di negara tersebut.
Lantaran kewalahan, mereka pun terpaksa mengabaikan protokol kesehatan, dan tak lagi mengenakan alat pelindung diri (APD) saat menjalankan pekerjaan.
Sayyed Munir Kamruddin adalah satu di antaranya banyak penggali kubur yang harus kerja ekstra keras.
Pria berusia 52 tahun itu juga menolak menggunakan alat pelindung diri (APD).
“Mulanya, sekitar dua atau tiga bulan krisis Covid-19, saya masih mengenakan alat pelindung diri lengkap, termasuk sarung tangan. Namun kemudian saya memutuskan untuk tidak lagi mengenakannya. Tidak ada efeknya terhadap saya,” ucap Sayyed, dikutip dari Reuters, Senin (3/5/2021).
Pria yang sudah 25 tahun bekerja sebagai penggali kubur ini memang belum memperlihatkan gejala-gejala tertular virus corona, atau bahkan jatuh sakit berat akibat virus itu.
Teman-teman seprofesinya pun mengikuti diri, menyelesaikan pekerjaan mereka seperti sebelum pandemi merebak.
Alasan mengabaikan protokol kesehatan bukan hanya karena tidak takut virus corona, namun juga karena tuntutan kerjanya yang sangat tinggi.
Mayoritas umat Muslim di India menginginkan jasad keluarga mereka yang meninggal akibat Covid-19 tetap ditangani sesuai agama Islam.
Mereka tak menginginkan kremasi, namun harus tetap dikuburkan sesegera mungkin,
Lantaran semakin tingginya angka kasus dan jumlah kematian, permintaan akan kuburan juga meningkat.
Hal ini membuat banyak para penggali kubur yang bekerja nonstop siang dan malam, bahkan hampir sehari penuh.
Kamruddin, yang mengaku sebagai seorang Muslim taat, terpaksa tidak berpuasa selama Ramadan.
"Ini musim panas dan pekerjaan saya sangat berat, kami bekerja 24 jam setiap hari. Saya harus menggali kuburan, Saya perlu menutupinya dengan lumpur, perlu membawa mayat. Dengan semua pekerjaan ini, bagaimana saya bisa berpuasa?" jelasnya.
Seperti diketahui, India kini sedang menghadapi gelombang kedua infeksi virus corona.
Dalam sepekan terakhir, setidaknya 300.000 orang dinyatakan positif.
Sementara jumlah kematian akibat Covid-19 meningkat melebihi 18 juta.
Kemudian, sistem kesehatan dan krematorium juga kewalahan.
Di New Delhi, ambulans membawa jenazah korban Covid-19 ke fasilitas krematorium darurat di taman-taman dan halaman-halaman parkir umum.
India juga sangat membutuhkan suplai oksigen, dimana pasien Covid-19 tak tertolong akibat keluarga mereka gagal mendapatkan oksigen.
India Kehabisan Vaksin
Sementara itu, sejumlah negara bagian di India melaporkan kehabisan vaksin Covid-19.
Gelombang kedua Covid-19 India yang sangat parah membuat negara tersebut kekurangan oksigen medis dan ranjang rumah sakit.
BBC melaporkan, sekitar 150 juta dosis vaksin corona telah didistribusikan di India, atau setara 11,5 persen dari 1,3 miliar penduduknya.
Namun, walau India sendiri adalah produsen vaksin terbesar di dunia, mereka justru mengalami kekurangan stok di dalam negeri.
Alhasil, mereka pun kini menghentikan sementara ekspor vaksin AstraZeneca agar kebutuhan domestik terpenuhi.
Lebih dari 13 juta orang berusia 18-45 tahun telah mendaftar diri untuk mendapatkan vaksin.
Namun, negara-negara bagian termasuk Madhya Pradesh dan Maharashtra yang terdampak paling parah mengatakan mereka kehabisan stok.
Dengan demikian rencana vaksinasi kelompok usia ini yang semula akan dilakukan pada 1 Mei harus diundur.
Kepala Menteri Delhi Arvind Kejriwal mengimbau warganya tidak mengantre vaksin dulu, sebab ibu kota India tersebut belum menerima barangnya.
"Begitu vaksin tiba kami akan memberitahu Anda, lalu Anda bisa datang untuk disuntik," ujarnya, dikutip dari BBC pada Sabtu (1/5/2021).
"Kami mengimbau Anda untuk tidak memadati pusat vaksin dalam beberapa hari ke depan," katanya.
Para pakar menyebutkan India harus meningkatkan vaksinasi di daerah-daerah dengan penularan tinggi.
Ahli biostatistik di Universitas Michigan Bhramar Mukherjee mengatakan, India perlu menyuntikkan 10 juta vaksin virus corona setiap hari dan tetap waspada meski sudah ada 3 juta dosis per hari seperti sekarang.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)
SIMAK ARTIKEL KASUS COVID-19 INDIA DI SINI