KNKT Kantongi Data Percakapan Kecelakaan Sriwijaya SJ 182, Ada Rekaman 2 Jam yang Diunduh

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengunduh data cockpit voice recorder (CVR) pesawat Sriwijaya Air dengan nomor registrasi PK-CLC


zoom-inlihat foto
cvr-sriwijaya-air-ditemukan.jpg
Tangkap layar YouTube Kompas TV via Tribunnews
Black box berupa Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Sriwijaya Air SJ-182 sudah ditemukan, Selasa (30/3/2021) malam.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - KNKT telah kantongi data rekaman percakapan pilot pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengunduh data cockpit voice recorder (CVR) pesawat Sriwijaya Air dengan nomor registrasi PK-CLC, yang  jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada (9/1/2021) lalu.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan, dari hasil pengunduhan ada rekaman percakapan selama 2 jam termasuk percakapan saat mengalami kecelakaan.

CVR pesawat yang ditemukan pada 30 Maret 2021lalu berisi empat saluran audio.

Di dalamnya, ada pula rekaman pilot yang membawa pesawat tersebut.

"KNKT berhasil mengunduh seluruh 4 channel dari CVR, akan tetapi channel 4 pada CVR mengalami gangguan," ujar Soerjanto dalam keterangan tertulis, Selasa (13/4).

Berdasarkan rekaman tersebut, menambah data penting bagi investigasi yang hasilnya akan disampaikan dalam laporan akhir.

Black box berupa Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Sriwijaya Air SJ-182 sudah ditemukan, Selasa (30/3/2021) malam.
Black box berupa Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Sriwijaya Air SJ-182 sudah ditemukan, Selasa (30/3/2021) malam. (Tangkap layar YouTube Kompas TV via Tribunnews)

Soerjanto menjelaskan rangkaian investigasi kecelakaan yang alami oleh PT. Sriwijaya Air pada 9 Januari 2021 dalam rute penerbangan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta tujuan Bandar Udara Internasional Supadio, Pontianak tersebut.

Tiga hari pasca terjadinya kecelakaan yaitu pada tanggal 12 Januari 2021, Flight Data Recorder (FDR) telah ditemukan dan hasil data yang telah diolah oleh KNKT, diumumkan kepada publik lewat laporan awal investigasi (preliminary report) pada tanggal 10 Februari 2021. 

Sampai dengan berakhirnya proses pencarian korban SJ-182 yang dipimpin oleh Basarnas pada tanggal 22 Januari 2021, CVR belum juga ditemukan. 

"Untuk itu, KNKT melanjutkan proses pencarian CVR di sekitar area ditemukannya FDR. Tanggal 26 Januari 2021 sampai dengan tanggal 14 Februari 2021, tim KNKT bersama dengan tim penyelam dari Pulau Pari (Kepulauan Seribu) melanjutkan pencarian CVR dengan pembuatan perimeter 50 x 50 meter di bawah air oleh para penyelam," tuturnya.

Proses pencarian CVR melibatkan metode penyemprotan lumpur di sekitar penemuan FDR oleh para penyelam.

Meski demikian proses ini tidak mendapatkan hasil. 

"Kendala utama dalam proses pencarian CVR ini adalah cuaca dan jarak pandang yang terbatas di bawah air," ujar Soerjanto.

Tanggal 15 sampai dengan 21 Februari 2021, tim penyelam dari Dinas Penyelamatan Bawah Air TNI AL (Dislambair TNI AL) bergabung dalam tim penyelam. 

Proses pencarian masih dengan menggunakan metode visual. Pencarian ini juga tidak mendapatkan hasil karena kendala cuaca dan jarak pandang di bawah air. 

Tanggal 22 Februari sampai dengan tanggal 12 Maret 2021, tim KNKT berkoordinasi dengan pihak PT. Sriwijaya Air untuk penggunaan metode penyedotan lumpur atau Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD) oleh kapal King Arthur 8 yang saat itu masih berada di Teluk Lamong (Pacitan) Jawa Timur. 

Sebelum pelaksanaan penyedotan lumpur, tim penyelam yang dipimpin oleh KNKT melaksanakan penyelaman untuk pembersihan area dengan mengangkat puing-puing pesawat yag terlihat sekaligus melakukan pencarian dengan metode visual. 

Tanggal 15 Maret 2021, tim penyelam (termasuk penyelam dari Pulau Pari dan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu) melaksanakan pembersihan area. 

Tanggal 25 Maret 2021, kapal TSHD King Arthur 8 sampai di perarian pulau Lancang Kepulauan Seribu. Mulai tanggal 25 Maret 2021 pencarian CVR dilakukan dengan cara penyedotan lumpur oleh kapal TSHD King Arthur 8 dengan area yang diperbesar yaitu 90 x 90 meter. 

Tanggal 30 Maret 2021 jam 20.05 WIB, CVR tersedot dari bawah air dan ditemukan di penampungan serpihan kapal TSHD King Arthur 8.

Hingga saat ini, proses investigasi masih terus dilakukan oleh tim KNKT disertai dengan proses penelitian yang mendetail. 

"Setelah ditemukannya semua bagian black box ini memberikan titik terang untuk dapat mengusut penyebab terjadinya kecelakaan yang meluluhlantakkan seluruh isi pesawat agar kecelakaan dengan penyebab yang sama tidak kembali terulang di kemudian hari," kata Soerjanto.

Pesawat Sriwijaya SJ 182 rute Jakarta-Pontianak diketahui jatuh di perairan Kepulauan Seribu hanya empat menit setelah terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pada 9 Januari lalu.

Pesawat itu membawa total 62 penumpang dengan rincian, enam awak pesawat aktif.

Kemudian 56 penumpang, terdiri dari 40 dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga balita.

KNKT Rilis Laporan Awal Penyebab Jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182

Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memberikan laporan pendahuluan terkait investigasi penyebab jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182.

Melalui konferensi pers daring yang dilakukan pada Rabu (10/2/2021), KNKT merilis hasil investigasi meski prosesnya belum selesai.

Data tersebut disampaikan berdasarkan rekaman flight data recorder (FDR), dan data air traffic controller (ATC) Bandara Soekarno-Hatta.

Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo Utomo mengatakan, Pesawat Sriwijaya SJ 182 tidak melewati area hujan dan awan yang berpotensi menyebabkan guncangan.

Hal tersebut diungkapkan Nurcahyo, berdasarkan data cuaca yang diperoleh KNKT dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

"Bahwa pesawat ini tidak melalui area dengan awan yang signifikan dan bukan area awan hujan, juga tidak berada in-cloud turbulance atau di dalam awan yang berpotensi menimbulkan guncangan," papar Nurcahyo.

Kapten Nurcahyo Utomo menyebut, trottle atau tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri sempat bergerak mundur.

Menurut Nurcahyo, kondisi ini terjadi saat pesawat berada di ketinggian 8.150 kaki, dan 10.600 kaki.

Meski begitu, Nurcahyo menyebut bahwa hingga kini KNKT belum dapat menyimpulkan apakah kedua trottle dalam pesawat itu mengalami kerusakan.

Sebab, baik trottle kanan dan kiri sama-sama menunjukan ketidaknormalan atau anomali.

"Apakah yang rusak yang kiri kita belum tahu. Sebab (tuas) dua-duanya menunjukan sikap yang berbeda atau mengalami anomali," terang Nurcahyo.

Budi Karya Sumadi terlihat mengapresiasi kepada semua pihak terkait yang telah melakukan proses evakuasi kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182.
Budi Karya Sumadi terlihat mengapresiasi kepada semua pihak terkait yang telah melakukan proses evakuasi kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182. (Twitter resmi Kemenhub RI @kemenhub151)

Nurcahyo menjelaskan, bahwa trottle sebelah kiri bergerak mundur terlalu jauh.

Di sisi lain, trottle sebelah kanan tidak bergerak dan terindikasi macet.

Dugaan kerusakaan trottle belum dapat disimpulkan, sebab trottle tersambung dengan 13 komponen lain dalam bagian pesawat.

"Kami masih melakukan penyelidikan dari 13 komponen lain yang terkait dengan gerakan tuas tersebut," papar Nurcahyo.

(Tribunnewswiki.com/Putradi Pamungkas, Tribunnews.com/Dennis Destryawan)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul 2 Jam Rekaman Percakapan Kecelakaan Sriwijaya SJ 182 Berhasil Diunduh





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Red CobeX (2010)

    Red CobeX adalah sebuah film komedi Indonesia yang
  • Film - Utusan Iblis (2025)

    Utusan Iblis adalah sebuah film horor Indonesia yang
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved