Dewa Eka Prayoga

Pria yang akrab sapa Dewa ini adalah sosok dibalik suksesnya Billionaire Coach dan Billionaire Store, sebuah perusahaan bisnis konsultan dan edukasi bisnis.


zoom-inlihat foto
Dewa-Eka-Prayoga-2.jpg
Kompas.com
Dewa Eka Prayoga adalah sosok dibalik suksesnya Billionaire Coach dan Billionaire Store, sebuah perusahaan bisnis konsultan dan edukasi bisnis.

Pria yang akrab sapa Dewa ini adalah sosok dibalik suksesnya Billionaire Coach dan Billionaire Store, sebuah perusahaan bisnis konsultan dan edukasi bisnis.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Dewa Eka Prayoga, lahir di Sukabumi, 24 April 1991.

Ia merupakan putra tunggal dari pasangan Dedi Rahman Legiman (alm.) dan Devi Aristi Handayani.

Pria yang akrab sapa Dewa ini adalah sosok dibalik suksesnya Billionaire Coach dan Billionaire Store, sebuah perusahaan bisnis konsultan dan edukasi bisnis.

Perjalanan Dewa sebagai seorang entrepreneur tidaklah mudah, dari bangkrut miliaran rupiah hingga sakit parah pernah ia alami.

Tapi berkat semangat, ikhtiar, dan doa ia berhasil bangkit dari keterpurukan dan menemukan titik balik yang membuatnya sukses hingga banyak dikenal oleh masyarakat terutama dikalangan pengusaha saat ini.

Ada kisah menarik dan penuh pembelajaran dari Kang Dewa saat mengalami kebangkrutan, dan harus menanggung utang miliaran.

Di masa terjepit seperti itu, ia masih punya niat dan etikat baik untuk membayar semua utangnya.

Meskipun, ia pun sebenarnya adalah korban dari temannya sendiri yang tega membawa uang para ivestor.

Dalam proses bangkit dan melunasi utang itu, jualan ceker panas-panas dan kehujanan pun ia lakoni.

Perjalanan Dewa sebagai seorang entrepreneur
Perjalanan Dewa sebagai seorang entrepreneur tidaklah mudah, dari bangkrut miliaran rupiah hingga sakit parah pernah ia alami.

Dalam materi Melawan Kemustahilan, Kang Dewa pernah membahas tentang kisah Shafa dan Marwah.

Dimana Hajar (Istri Nabi Ibrahim Alaihisallam) berlari-lari diantara Shafa dan Marwah, mencari air untuk bayinya (Nabi Ismail Alaihisalam) yang sedang kehausan.

Mondar-mandir berlari antara Shafa dan Marwah, ternyata air malah muncul mancur dari tanah, bawah kaki Ismail yang kemudian dikenal dengan Air Zamzam.

Itu pun juga yang dialami oleh Dewa.

Ditengah bayang-bayang kemustahilan, Ia tidak hanya berdiam diri meratapi kesedian.

Ia terus bergerak dan berusaha dengan berjualan ceker meskipun hasilnya tidak seberapa.

Hingga akhirnya ia menulis sebuah buku yang berjudul “7 Kesalahan Fatal Pengusaha Pemula” atas saran temannya.

Buku itu laris dan menjadi awal titik balik Kang Dewa dan akhirnya bisa melunasi semua utang-utangnya.

Baca: Profil Intan Wisni Permatasari, Viral Karena Gelagapan di Miss Eco International 2021

  • Karier


Dewa Eka Prayoga lahir di Sukabumi, 24 april 1991.

Putra tunggal dari Dedi Rahman Legiman (alm.) dan Devi Aristi Handayani.

Ayahnya meninggal saat Dewa berusia 5 tahun.

Tahun 2008, Dewa mulai kuliah di jurusan Kimia Universitas Pendidikan Indonesia (Bandung).

Di semester tiga, Dewa diterima bekerja sampingan sebagai guru kimia di sebuah lembaga bimbingan belajar.

Setahun bekerja, nilai mata kuliahnya anjlok.

Dewa pun berhenti mengajar.

Tiga bulan kemudian, pemilik lembaga menawari Dewa untuk men-take over usahanya.

Bermodal Rp. 10 juta dari hasil menggadaikan BPKB motor, Dewa mengelola lembaga bimbingan belajar.

Di lembaga itu, Dewa mengenal Wiwin Supiyah yang kelak menjadi bidadarinya.

Ia juga mencoba usaha lain seperti Multi Level Marketing dan Event Organizer.

Suatu ketika, Dewa masuk nominasi juara dalam Program Kreativitas Mahasiswa.

Ia mendapat modal untuk membuka usaha catering.

Atas prestasinya itu, Dewa pernah beberapa kali diundang ke beberapa kampus sebagai pembicara.

Temanya tentang “Muda Mandiri”.

Meskipun sebenarnya, usahanya cuma bertahan seumur jagung.

Titik pahitnya ia jalani akhir tahun 2012.

Dewa tertipu investasi bodong.

Mulanya, Dewa terlanjur percaya kepada seseorang yang dalam waktu singkat berhasil menjadi orang kaya baru (OKB) serta aktif di sebuah organisasi keagamaan cabang Sukabumi.

Keduanya pernah berguru pada motivator yang sama, yaitu “kek” Jamil Azzaini (motivator kelahiran Purworejo, 9 Agustus 1968 yang sering dipanggil kakek karena banyak melahirkan trainer).

Seseorang itu memiliki usaha yang beragam, mulai dari warung internet, pakaian distro, rumah makan, rental mobil, lembaga pendidikan hingga supplier komputer dan elektronik.

Suatu saat, Ia menawarkan peluang investasi pengadaan laptop kepada Dewa.

Bak pucuk dicinta, ulampun tiba.

Dewa antusias, ia mengajak banyak orang untuk ikut berinvestasi.

Selama 8 bulan, terkumpul dana Rp. 7,7 miliar dari 645 orang investor.

Setelah modal disetor, seseorang itu kabur membawa semua dana investor.

Tanpa kabar. Dewa dikejar-kejar investor yang ingin dananya kembali.

Bolak-balik ke kantor polisi sebagai saksi dan terlapor.

Rumah ibunya di Sukabumi ikut jadi korban teror.

Ia terpaksa melepas aset yang bisa diuangkan.

Mobil hingga tabungan haji orang tuanya.

Termasuk juga lembaga bimbingan belajarnya – alias sumber penghasilannya – yang telah berjalan selama 10 bulan.

Kuliahnya terpaksa drop out di semester tujuh.

Dewa – yang kala itu baru berumur 21 tahun dan baru 18 hari menikahi Wiwin – berjanji untuk mengembalikan semua dana investor.

Masalahnya, Dewa tak tahu, darimana ia bisa mendapat uang sebesar itu.

Penghasilan pun tak jelas.

Seandainya saja, ia bisa menyisihkan Rp. 10 juta sebulan untuk melunasi hutang, maka hutang itu baru akan lunas saat usianya 85 tahun.

"Hampir mustahil" kenangnya.

Setelah kejadian itu, banyak tali pertemanan terputus.

Kecuali seorang teman dari Malang yang justru berempati.

Mirza Ghulam Indralaksana namanya.

Lulusan teknik mesin dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, ini sebenarnya juga salah satu investor yang menjadi korban.

Ia ingin mencari solusi atas raibnya Rp. 300 juta uang investor yang diinvestasikan melalui dirinya.

Mirza hijrah ke Bandung untuk membersamai Dewa.

Tapi, lagi-lagi, mereka tak tahu bagaimana caranya agar memperoleh uang yang banyak.

Mirza tercetus ide untuk berjualan ceker pedas.

Di kota kelahirannya, Malang, ceker setan sedang digemari.
Jadilah mereka berjualan ceker iblis.

Wiwin yang sedang hamil anak pertama jadi juru masaknya.

Dewa dan Mirza berkeliling Bandung untuk mengantarkan ceker iblis seharga Rp. 12 ribu per porsi.

Ia merasa perjuangannya sangat berat ketika harus berkeliling Bandung hingga ke Cibiru, Cimahi dan Buah Batu.

Sesampainya di tujuan terakhir, konsumen membatalkan pesanan karena datangnya terlalu lama.

Tertarik dengan produk penggemuk domba temuan mahasiswa bimbingan orang tua Mirza, mereka mencoba beternak domba di Sukabumi.

Tak butuh waktu lama, dombanya kurus dan mati. Mereka kembali ke Bandung.

Berjualan seblak buatan Ciamis. Tapi tak laris. Stok menumpuk.

Lahirlah Saliha, putri pertama Dewa.

Tinggal di kontrakan tanpa air bersih. Tidur tanpa kasur.
Seorang teman di Master Mind menyarankan Dewa untuk menulis buku lagi.

Dulu, Dewa pernah menulis buku “7 Langkah Dahsyat Menggenggam Masa Depan” saat harus mencicil hutang perbaikan rumahnya yang terkena longsor.

Namun, berbagai kegagalan membuat Dewa tak percaya diri. Siapa yang mau membaca buku yang ditulis oleh orang gagal ?.

Tapi, himpitan ekonomi membuatnya tak punya pilihan lain.

Dewa mencoba untuk menulis lagi.

Judulnya “7 Kesalahan Fatal Pengusaha Pemula”.

Selesai dalam 7 hari.

Ia meminta temannya untuk mendesain cover.

Buku dicetak di sebuah percetakan di Rancaekek (Bandung).

Ongkos cetak Rp. 6.700 per eksemplar. Ia jual melalui sistem direct selling (tidak melalui toko buku) dengan harga Rp. 60.000.

Hasilnya, 2.500 eksemplar ludes dalam sebulan.

Di kemudian hari, buku tersebut terjual hingga 30.000 eksemplar.

Dewa mulai mendapat pemasukan.

Sebagian dana dialokasikan untuk mengganti uang investor yang jumlahnya milyaran itu.

Ia prioritaskan untuk mengganti investasi dari orang-orang yang dianggapnya sebagai orang baik.

Termasuk Mirza. Tapi, Mirza menolak uangnya diganti.

Pertemuannya dengan Heppy Trenggono (pengusaha asal Batang yang pernah bangkrut dengan hutang Rp. 62 milyar, lalu bangkit membangun bisnis senilai Rp. 7 trilyun dalam waktu 2 tahun tanpa berhutang), memotivasi Dewa untuk bangkit.

Suatu ketika, guru ngajinya menasehati : “Jika ingin dibantu Allah, maka bantulah orang lain”.

Lantas, Dewa berdo’a agar dipertemukan dengan orang yang butuh bantuannya.

Ia membantu orang dengan cara memotivasi dan memberikan coaching gratis.

Orang yang putus asa karena hutang ratusan juta, ia motivasi agar bangkit seperti dirinya yang punya tanggungan milyaran tapi tetap optimis.

Orang yang memulai usaha kecil, ia bantu penjualannya.

Penghasilan Dewa mulai meningkat.

Dari puluhan juta sampai ratusan juta perbulannya, sampai akhirnya ia bisa melunasi hutang-hutangnya.

Tanggungan hutang 7,7 milyar rupiah tersebut selesai dalam waktu 5 tahun.

Sekarang ini Dewa sedang fokus membangun kerajaan bisnisnya.

Bahkan rencananya bisnis yang ia geluti selama ini, kedepannya akan ia wakafkan untuk umat.

  • Bisnis


- Billionaire Store

- Billionaire Coach

- Shaliha Hijab

- B erl Cosmetik

- Trillionaire Enterprises

  • Buku



- How to Get the Future

- 7 Kesalahan Fatal Pengusaha Pemula

- Tembus Omset 100 Juta Modal Blackberry

- Dijamin Penghasilan 10 Juta Perbulan

- 30 Hari Jago Jualan

- Dongkrak Omset Miliaran dengan Tim Penjualan

- Easy Copywriting

- Gara-Gara Facebook

- Jago Jualan

- Main Facebook

- Melawan Kemustahilan

- Copywriting Emak-Emak

- Jackpot Rezeki

- Closing Bertubi-Tubi

- Pesan-Pesan Istimewa Dewa

- Crazy Leader

- Pasukan Militan

- Detonator Kebaikan

- B erl Sparta

- Bodo Amat Ini Prinsip Gue

- Jangan Kalah dengan Masalah

- Reseller Gendeng

(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)



Info Pribadi
Nama Lengkap Dewa Eka Prayoga
Lahir Sukabumi, 24 April 1991
Profesi Pebisnis
   


Sumber :


1. www.facebook.com
2. www.btop.web.id
3. imerspedia.com
4. www.instagram.com


Editor: Putradi Pamungkas






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved