TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sebanyak enam helikopter dikerahkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk membantu penanganan darurat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 12 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pengerahan helikopter tersebut adalah intruksi langsung dari Kepala BNPB Letjen TNI Dr. (H.C) Doni Monardo di Lembata, Flores, NTT, Selasa (6/4/21).
Doni menyebutkan, enam helikopter tersebut yaitu, Heli MI-8, Heli Kamov 32 A, Heli EC-115, Heli AW 199, Heli jenis Bell 412EP, dan Heli AS-365.
Adapun spesifikasi masing-masing helikopter kata Doni adalah sebagai berikut :
Heli MI-8 ini memiliki daya angkut delapan ton yang direposisi dari Kalimantan Barat.
Heli Kamov 32 A dengan daya angkut lima ton yang direposisi dari Riau.
Heli EC-115 berkapasitas 12 tempat duduk.
Heli AW 199 berkapasitas 7 tempat duduk.
Heli jenis Bell 412EP dengan kapasitas 12 tempat duduk.
Heli AS-365 kapasitas 11 tempat duduk.
Menurutnya, helikopter tersebut akan difungsikan untuk mendistribusikan logistik dan peralatan di lokasi yang terisolir pasca terputusnya akses akibat longsor maupun akses penyeberangan laut yang tidak memungkinkan akibat gelombang tinggi.
Selain itu, helikopter tersebut juga difungsikan guna mengakomodir para warga yang membutuhkan pertolongan darurat terutama kelompok rentan, sekaligus untuk mengangkut tim medis yang ditugaskan di posko penanganan darurat.
Sampai dengan saat ini, percepatan penanganan darurat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 12 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mengalami beberapa kendala teknis seperti akses terputus hingga faktor cuaca buruk.
Berdasarkan laporan dari Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), wilayah yang masih belum dapat diakses sepenuhnya meliputi Kabupaten Malaka, Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata.
Ia menambahkan, akses darat menuju wilayah Kabupaten Malaka pun masih terputus akibat longsor.
Tak hanya itu, di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata juga belum sepenuhnya dapat diakses mengingat gelombang laut masih tinggi sehingga harus menggunakan moda transportasi udara.
Di sisi lain, tim di lapangan juga melaporkan bahwa kondisi Kota Kupang saat ini listrik belum sepenuhnya pulih dan sinyal jaringan telekomunikasi selular juga masih dalam kendala.
Selain itu, sejumlah pohon dan tiang papan reklame dilaporkan tumbang dan sempat menutup beberapa akses jalan.
Dilansir bnpb.go.id, Rabu (7/4/21) saat ini beberapa stasiun pengisian bahan bakar masih belum beroperasi karena bangunan mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrem sehingga menimbulkan antrean panjang.
Maka dari itu, hingga saat ini banyak orang yang memilih tinggal di hotel yang menyediakan fasilitas genset listrik untuk keperluan mobilitas, sehingga banyak hotel penuh di Kota Kupang.
(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)
SIMAK ARTIKEL BENCANA DI NTT LAINNYA DI SINI