WHO Umumkan 6 Tempat dengan Risiko Penularan Virus Corona Tinggi, Simak Selengkapnya di Sini

Inilah 6 tempat dengan risiko penularan virus corona atau Covid-19 tinggi menurut WHO, dimana saja? simak selengkapnya di sini


zoom-inlihat foto
foto-direktur-jenderal-world-health-organization-who-tedros.jpg
FABRICE COFFRINI / POOL / AFP
ILUSTRASI Foto: Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menghadiri konferensi pers yang digelar oleh Geneva Association of United Nations Correspondents (ACANU) pada 3 Juli 2020. WHO merilisi pedoman baru pada Kamis (9/7/2020) setelah mengakui bahwa virus corona bisa menular melalui perantara udara.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengumumkan 6 tempat dengan risiko penularan virus corona atau Covid-19 tinggi.

Seperti yang kita ketahui, hingga saat ini virus corona telah lebih dari satu tahun dinyatakan sebagai pandemi global.

Bahkan hingga saat ini, total orang terpapar Covid-19 ada 119.205.673 orang per Jumat (12/3/2021), seperti dikutip dari Worldometers.

Angka kematian akibat virus corona ini mencapai angka 2.643.610 orang.

Sedangkan 94.797.065 orang dinyatakan sembuh dari virus corona.

Hingga saat ini, virus corona telah menginfeksi 219 negara di dunia.

Logo WHO di markasnya yang berada di Jenewa, Swiss. Amerika Serikat akan keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Juli tahun depan.
Logo WHO di markasnya yang berada di Jenewa, Swiss. Amerika Serikat akan keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Juli tahun depan. (FABRICE COFFRINI / AFP)

Belakangan Covid-19 yang lebih menular, virus corona B.1.1.7, ditemukan di Indonesia.

Lantas apa yang bisa dilakukan supaya terhindar dari penularan virus corona baru?

WHO memberi saran untuk menghindari 3 C, di samping memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir

Apa itu 3C menurut WHO?

Ternyta 3C yang dihindari tersebut adalah:

1. Hindari ruang tertutup (closed).

2. Hindari Tempat  ramai (crowded).

3. Hindari melibatkan kontak dekat (close contact).

Baca: WHO Beberkan Sederet Virus Mematikan di Dunia, Ingatkan Penyakit X yang Lebih Ganas dari Black Death

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 12 Maret: WHO Keluarkan Peringatan Global Wabah SARS

Wabah Covid-19, jelas WHO, dilaporkan terjadi di tempat-tempat orang berkumpul, yang sering kali mereka berbicara dengan keras, berteriak, bernapas berat, atau bernyanyi, seperti:

- restoran

- tempat latihan paduan suara

- kelas kebugaran

- klub malam

- kantor

- tempat ibadah

Anggota kelompok tradisional Bate-Bola, sebuah pesta budaya tahunan yang berlangsung selama periode karnaval, merayakannya di jalan di pinggiran kota di Rio de Janeiro, Brasil, pada 14 Februari 2021. Pemerintah kota Rio secara resmi menangguhkan dunia tahunan Karnaval terkenal dan pesta jalanan terkait karena pandemi COVID-19 tetapi banyak pesta tradisional masih berlangsung secara ilegal yang menyimpang dari tindakan tersebut. Juga sebuah restoran dikecam keras setelah ketahuan menggelar pesta swinger di tengah pandemi covid yang mewabah di Brasil.
ILUSTRASI: Anggota kelompok tradisional Bate-Bola, sebuah pesta budaya tahunan yang berlangsung selama periode karnaval, merayakannya di jalan di pinggiran kota di Rio de Janeiro, Brasil, pada 14 Februari 2021. Pemerintah kota Rio secara resmi menangguhkan dunia tahunan Karnaval terkenal dan pesta jalanan terkait karena pandemi COVID-19 tetapi banyak pesta tradisional masih berlangsung secara ilegal yang menyimpang dari tindakan tersebut. Juga sebuah restoran dikecam keras setelah ketahuan menggelar pesta swinger di tengah pandemi covid yang mewabah di Brasil. (CARL DE SOUZA / AFP)

Dalam situs resminya WHO menjelaskan,"Risiko tertular Covid-19 lebih tinggi di ruang yang ramai dan tidak berventilasi memadai, tempat orang yang terinfeksi menghabiskan waktu lama bersama dalam jarak yang dekat,".

Lingkungan tersebut yakni tempat virus corona menyebar lewat tetesan pernapasan atau aerosol dengan lebih efisien.

Jadi, tindakan pencegahan jauh lebih penting.

WHO juga menyarankan untuk melakukan hal tersebut di luar ruangan.

Pertemuan di luar ruangan lebih aman dibanding di dalam ruangan, terutama ruangan kecil dan tanpa udara luar masuk.

Kemudian, jika anda tak bisa menghindari hal tersebut, WHO juga memberikan saran encegahan dengan membuka jendela.

"Tingkatkan jumlah ventilasi alami saat berada di dalam ruangan," tulis WHO.

Penggunaan masker selama berada di ruangan juga diwajibkan.

Baca: WHO Beberkan Sederet Virus Mematikan di Dunia, Ingatkan Penyakit X yang Lebih Ganas dari Black Death

Baca: Inilah 4 Vaksin yang Digunakan di Indonesia, Menkes: Selama Lulus WHO, BPOM, Pakai Saja

Jadikan memakai masker sebagai hal yang biasa saat berada di sekitar orang lain, tidak hanya saat di ruangan.

Selain itu, menjaga jarak yang lebih jauh antara Anda dan orang lain saat di dalam ruangan, lebih dari 1 meter. "Semakin jauh, semakin baik," sebut WHO.

Menjaga jarak antara Anda dan orang lain untuk mengurangi risiko infeksi saat batuk, bersin, atau berbicara.

Ini untuk menjaga diri Anda dan orang lain aman dari virus corona.

Berikut dasar-dasar cara memakai masker yang benar, menurut WHO:

1. Bersihkan tangan Anda sebelum mengenakan masker, serta sebelum dan sesudah melepasnya, dan setelah menyentuhnya kapan saja.

2. Pastikan masker menutupi hidung, mulut, dan dagu Anda.

3. Saat Anda melepas masker, simpan di dalam kantong plastik bersih. Dan, cuci masker setiap hari jika itu adalah masker kain, atau buang masker medis di tempat sampah.

4. Jangan gunakan masker dengan katup.

masker duckbill
masker duckbill (Sora Shimazaki/Pexels)

WHO Kembali Umumkan 22 Gejala Tidak Biasa Covid-19, 7 di Antaranya Terbilang Baru

WHO kembali mencatat 22 gejala tak biasa virus corona atau Covid-19 yang dialami pasien teronfeksi.

Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyampaikan gejala virus corona yang paling umum seperti demam, batuk kering, dan kelelahan.

Bahkan ada tujuh di antaranya terbilang gejala baru.

WHO juga menyampaikan, gejala yang bisa dialami in muncul bertahap.

"Gejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan muncul secara bertahap. Beberapa orang menjadi terinfeksi tetapi hanya memiliki gejala ringan," papar WHO.

Kemuncul gejala ini akan terjadi sekitar lima hingga enam hari setelah terjadi pajanan.

"Tetapi, waktu kemunculan gejala ini dapat berkisar 1 hingga 14 hari," kata WHO.

Baca: Sudah 5 Korban Tewas Akibat Virus Ebola di Guinea, WHO Langsung Kirim Vaksin, Menkes Optimistis

Baca: Gagal Bongkar Asal-usul Corona, WHO Disebut Sekongkol dengan China, Sembunyikan Fakta Covid-19

Orang dari segala usia yang mengalami demam dan/atau batuk yang berhubungan dengan kesulitan bernapas atau sesak napas, nyeri atau tekanan dada, atau kehilangan kemampuan bicara atau bergerak, diminta WHO untuk harus segera mencari perawatan medis.

"Jika memungkinkan, hubungi penyedia layanan kesehatan, hotline, atau fasilitas kesehatan terlebih dahulu, sehingga Anda dapat diarahkan ke klinik yang tepat," imbuh WHO.

Gejala virus corona yang kurang umum dan bisa memengaruhi beberapa pasien:

- Kehilangan rasa atau bau

- Hidung tersumbat

- Konjungtivitis (juga dikenal sebagai mata merah)

- Sakit tenggorokan

- Sakit kepala

- Nyeri otot atau sendi

iLUSTRASI NYERI
iLUSTRASI NYERI (Tribunjualbeli.com)

- Berbagai jenis ruam kulit

- Mual atau muntah

- Diare

- Menggigil atau pusing

Gejala lain virus corona yang kurang umum dan gejala baru:

- Sifat lekas marah

- Kebingungan

- Kesadaran berkurang (terkadang berhubungan dengan kejang)

- Kegelisahan

- Depresi

- Gangguan tidur

- Komplikasi neurologis yang lebih parah dan jarang terjadi, seperti stroke, radang otak, delirium, dan kerusakan saraf

Baca: 47 Orang Positif Covid-19 Klaster Sanggar Senam di Tasikmalaya, Sempat Piknik ke Gunung Papandayan

Baca: 15 Ambulans Bolak-balik Jemput 47 Pasien Positif Covid-19 Klaster Sanggar Senam di Tasikmalaya

Gejala virus corona yang parah:

- Sesak napas

- Kehilangan selera makan

- Kebingungan

- Nyeri atau tekanan yang terus-menerus di dada

- Temperatur tinggi (di atas 38°C)

Tujuh gejala baru Covid-19

WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia kembali merilis gejala baru virus corona atau Covid-19.

Sebelumnya telah diketahui bahwa gejala umum yang dirasakan pasien Covid-19 adalah

1. demam,

2. batuk kering, dan

3. kelelahan.

Sementara itu, berikut adalah gejala baru Covid-19 atau virus corona seperti yang dikutip dari situs resmi WHO:

- sifat lekas marah

- kebingungan

- kesadaran berkurang (terkadang berhubungan dengan kejang)

- kegelisahan

- Depresi

- Gangguan tidur

- Komplikasi neurologis yang lebih parah dan jarang terjadi, seperti stroke, radang otak, delirium, dan kerusakan saraf

Mengenal Gangguan Penciuman Parosmia, Salah Satu Gejala Baru Covid-19

Sejumlah penderita Covid-19 dilaporkan mengalami gangguan penciuman parosmia.

Gangguan penciuman parosmia menjadi satu di antara gejala baru infeksi virus corona.

Parosmia dialami sejumlah penderita yang masuk kategori long covid-19 atau mereka yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh dari Covid-19 (bisa hingga lebih dari 12 pekan).

Tidak hanya itu, gejala parosmia juga dirasakan oleh sejumlah orang yang telah dinyatakan sembuh dari infeksi corona.

Berikut penjelasan yang lebih lengkap mengenai parosmia, dari pengertian hingga langkah untuk mengatatasinya:

Apa itu parosmia?

Dilansir dari Healthline, parosmia adalah gangguan penciuman yang membuat penderitanya merasakan aroma yang tidak semestinya,

Misalnya, bau roti yang dipanggang biasanya harum manis jadi terasa bau busuk atau aroma yang biasanya tidak mengganggu jadi bikin mual.

Untuk kasus parosmia yang parah, penderita bisa sampai merasa sakit secara fisik saat mencium bau yang menyengat atau punya aroma kuat.

Baca: Kemanjuran Vaksin Sinovac di Turki dan Brazil Berbeda, BPOM: yang Penting Syarat WHO Terpenuhi

Baca: Pasien Covid Ini Alami Ereksi Tiga Jam yang Menyiksa Sebelum Akhirnya Meninggal Dunia

Gejala parosmia

Sebagian besar kasus parosmia terasa lebih jelas ketika seseorang baru sembuh dari infeksi.

Dilansir dari Independent, beberapa penderita long covid dan orang yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19 merasakan bau tak sedap seperti amis ikan atau benda terbakar di tempat dengan bau normal.

Selain itu, gejala parosmia yang banyak dikeluhkan adalah bau busuk atau tak sedap terus-menerus, terutama saat ada makanan.

Terkadang, aroma yang tidak enak ini membuat penderita jadi mual sampai kehilangan selera makan.

Dokter spesialis telinga hidung tenggorokan (THT) dapat mengenali gejala parosmia dangan pemeriksaan fisik, tes bau, dan mengecek riwayat kesehatan pasien.

Penyebab parosmia

Parosmia biasanya muncul setelah saraf pendeteksi bau rusak karena infeksi atau penyakit lainnya.

Dalam kondisi normal, saraf indra penciuman bertugas memberitahu otak untuk menafsirkan suatu informasi kimiawi pembentuk bau.

Kerusakan saraf membuat otak salah mengenali bau tertentu.

Ada beberapa penyebab parosmia, antara lain:

- Infeksi virus dan bakteri, seperti virus corona

- Cedera kepala Kebiasaan merokok

- Paparan bahan kimia

- Efek samping pengobatan kanker

- Penyakit alzheimer dan parkinson

- Tumor

5 Tanda Gejala Baru Virus Corona yang Perlu Diwaspadai
5 Tanda Gejala Baru Virus Corona yang Perlu Diwaspadai (KOMPAS.com/NURWAHIDAH)

Cara mengatasi parosmia

Parosmia yang disebabkan faktor lingkungan, efek samping pengobatan, atau merokok umumnya bisa disembuhkan dengan mengantisipasi penyebab utamanya.

Dalam beberapa kasus, cara mengatasi parosmia memperlukan tindakan operasi.

Dokter juga jamak merekomendasikan terapi dengan zinc, vitamin A, dan obat antibiotik untuk mempercepat penyembuhan.

Selain itu, penderita parosmia juga diarahkan untuk melatih indra penciuman seperti terapi untuk anosmia atau tak bisa mencium bau.

Cara menyembuhkan parosmia dengan terapi bau bisa dilakukan dengan mencium bau empat jenis aroma yang berbeda setiap pagi.

Baca: Efek Samping Vaksin Covid-19 AstraZeneca Asal Inggris, Ternyata Sudah Disetujui BPOM

Baca: Segini Harga Vaksin Covid-19 dari Inggris, Ternyata Lebih Murah Ketimbang Vaksin Sinovac Asal China

Dengan latihan mengenalkan beberapa bau yang berbeda tersebut, memori indra penciuman penderita kembali diasah.

Parosmia umumnya dapat sembuh sendiri seiring berjalannya waktu. Lamanya pemulihan masalah kesehatan ini tergantung penyebabnya.

Untuk parosmia yang disebabkan virus atau bakteri, indra penciuman umumnya akan kembali normal dalam waktu dua sampai tiga tahun.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ka, Kontan)

Aritkel ini sebagian telah tayang di Kontan.co.id dengan judul 6 Tempat yang punya risiko tinggi penularan virus corona mengacu WHO





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Uang Passolo (2026)

    Uang Passolo adalah sebuah film drama Indonesia yang
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved