TRIBUNNEWSWIKI.COM - Usai menangkan gugatan senilai 625 Dolar atau senilai Rp 8,9 miliar, kini Meghan Markle mendapat tudingan melakukan aksi bullying terhadap pegawai istana Kensington.
Pada hari Selasa (2/3/2021), The Times Inggris menduga tudingan bullying yang dilakukan Markle itu dibuat oleh salah satu penasihat dekatnya.
Namun, tim Markle membantah keras klaim tersebut.
Juru bicara Meghan Markle angkat bicara setelah Duchess of Sussex menghadapi tuduhan intimidasi oleh seorang staf selama bekerja di Istana Kensington.
"The Duchess sedih dengan serangan terbaru terhadap karakternya ini, terutama sebagai orang yang menjadi target bullying adalah dirinya sendiri dan sangat berkomitmen untuk mendukung mereka yang mengalami rasa sakit dan trauma," kata juru bicara Duke dan Duchess of Sussex pada Fox News.
"Dia (Markle) bertekad untuk melanjutkan pekerjaannya membina rasa kasih di seluruh dunia dan akan terus berusaha memberikan teladan untuk melakukan apa yang benar dan melakukan apa yang baik," tambah pernyataan itu.
Tuduhan itu muncul beberapa hari sebelum tayangan televisi Markle dengan Oprah Winfrey bersama suaminya Pangeran Harry yang dijadwalkan tayang pada hari Minggu.
Menurut The Times, keluhan itu pertama kali dibuat pada Oktober 2018, oleh Jason Knauf, mantan sekretaris komunikasi pasangan itu.
Pengaduan itu menuduh Markle telah mengusir dua asisten pribadi keluar dari rumah dan merusak kepercayaan anggota staf ketiga.
The Times melaporkan, Knauf mengajukan pengaduan dalam upaya melindungi staf istana yang diduga diintimidasi Markle.
Baca: Bagikan Foto Bersama Harry, Meghan Markle Umumkan Kehamilannya Tepat pada Hari Valentine
Beberapa mengklaim mereka bahkan meneteskan air mata.
Seorang pembantu kerajaan diduga mengatakan kepada seorang rekannya: "Saya tidak bisa berhenti gemetar."
Sumber lain mengatakan Harry memohon kepada Knauf untuk tidak melanjutkan pengaduan tersebut.
Namun, pengacara pasangan itu menyangkal pertemuan itu terjadi atau bahwa Harry ikut campur dengan urusan staf.
The Times mengatakan Knauf diduga mengirim email ke Simon Case, yang menjabat sebagai sekretaris pribadi Pangeran William pada saat itu.
Email tersebut kemudian diteruskan ke Samantha Carruthers, kepala bagian sumber daya manusia.
Dalam email tersebut, Knauf mengklaim Carruthers "setuju dengan saya dalam semua hal bahwa situasinya sangat serius."
Juru bicara Sussex membalas tuduhan yang dilaporkan oleh The Times.
"Anggap saja ini apa adanya - kampanye kotor yang sudah diperhitungkan berdasarkan informasi yang menyesatkan dan berbahaya," kata juru bicara.
Tahun 2019, beberapa teman Markle mengatakan kalau temannya itu sudah menjadi korban 'bullying global' oleh tabloid.
"Meg duduk diam dan menanggung kebohongan dan ketidakbenaran," kata salah satu teman Markle.
Menangkan gugatan Rp 8,9 miliar
Duchess of Sussex, Meghan Markle akhirnya memenangkan gugatan yang ia layangkan pada media Mail on Sunday terkait penerbitan surat yang dituliskan untuk ayahnya Thomas Markle, Selasa (2/3/2021).
Dari gugatan 2 miliar dolar yang dilayangkan Meghan, Mail on Sunday diwajibkan membayar 625.000 dolar Amerika atau senilai Rp 8,9 miliar kepada istri Pangeran Harry tersebut.
Pada sidang virtual di London, hakim Mark Warby menolak permohonan banding yang diajukan oleh Mail on Sunday.
Menurut Warby, tidak ada kemungkinan nyata untuk pihak tergugat memenangkan gugatan tersebut.
Namun dia mengatakan penerbit Mail on Sunday dan MailOnline masih memiliki hak untuk memperbarui permohonan hakim Pengadilan Banding.
Pengacara Asosiasi Surat Kabar Inggris yang mewakili Mail on Sunday dan MailOnline mengatakan kliennya tetap akan mengajukan banding ke pengadilan.
Baca: Meghan Markle
Baca: Anggap Sikap Putrinya Tak Pantas, Thomas Markle Kesal dengan Meghan-Harry: Itu Penghinaan bagi Ratu
Pada sidang yang digelar Selasa lalu, hakim Warby memberikan vonis bersalah terhadap kedua media tersebut atas pelanggaran privasi Meghan Markle terkait berita yang diterbitkan pada Februari 2019.
Saat itu, mereka menerbitkan lima berita yang menampilkan surat pribadi Meghan yang ditujukan untuk ayahnya, Thomas Markle terkait penikahannya dengan Pangeran Harry pada 20018 silam.
Dalam sidang tersebut juga dibeberkan berbagai kerugian yang dialami Meghan, termasuk kerusakan, biaya hukum dan kerugian immateril yang dialami ibunda Archie tersebut.
Selain pelanggaran privasi, tindakan Mail On Sunday dan MailOnline tersebut juga melanggar undang-undang hak cipta.
Surat pribadi yang ditulis Meghan untuk Thomas Markle memiliki hak cipta dan demikian diperlukan izin untuk menerbitkannya.
Namun asosiasi surat kabar berpendapat bahwa surat tersebut tak hanya ditulis oleh Meghan seorang diri, melainkan juga mendapatkan bantuan dari pejabat istana.
Para tergugat berharap mendapatkan keterangan dari pejabat tersebut untuk pemeriksaan sebagai saksi dalam kasus itu.
Baca: Tak Lagi Jadi Keluarga Inggris, Pangeran Harry dan Meghan Markle Tulis Pesan Perpisahan
Baca: Kompak Kenakan Masker dan Topi, Meghan Markle dan Pangeran Harry Jadi Relawan Antarkan Makanan
Di bawah hukum Inggris (dan hukum Amerika), kepenulisan surat pribadi adalah hak milik penulis, bukan penerima.
Oleh karena itu, ketika Thomas Markle memberi salinan surat tersebut kepada Mail on Sunday dan dipublikasi melalui artikel berita, hal itu merupakan bentuk pelanggaran hak cipta.
Tetapi jika anggota mantan staf istana Meghan membantunya menulis surat, sebagian atau secara substansial, maka kemungkinan untuk Mail on Sunday melawan gugatan Meghan akan lebih besar dan Meghan bisa saja kalah dalam persidangan.
Hal itulah yang berusaha diupayakan oleh pihak tergugat, namun hanya nasib nahas yang berpihak pada mereka.
Sidang bergulir lebih dari 1 tahun
Sidang kasus ini telah dimulai sejak Oktober 2019 lalu dengan agenda pembahasan hak cipta.
Selain menggugat sejuah uang ganti rugi, Meghan juga menuntut beberapa hal yang harus dipenuhi pihak tergugat.
Meghan Markle menuntut permintaan maaf secara terbuka dari kedua media yang dimuat di halaman depan Mail on Sundayy dan meminta mereka menyerahkan salinan permintaan maaf tersebut ke pengadilan.
Berikutnya, ia juga meminta para tergugat untuk menghancurkan salilan digital atau catatan apapun yang dibuat tentang dirinya.
Baca: Berambisi Terjun ke Politik, Meghan Markle Dikabarkan Ingin Calonkan Diri Jadi Presiden AS
Baca: Nama Meghan Markle Dihapus dari Akta Kelahiran Archie Tanpa Sepengetahuannya
Meghan juga meminta semua berita tentang surat tersebut dihapus dari ditus web surat kabar tersebut.
Ian Mill, salah satu pengacara Meghan mengatakan dalam pengajuan tertulis ke pengadilan, bahwa "terdakwa terus melakukan tindakan yang menurut pengadilan melanggar hukum."
Pengacara penerbit setuju untuk menghapus artikel dari situs web sampai masalah hukum yang tersisa diselesaikan.
Sejak perkara yang sudah lebih dari satu tahun itu bergulir, Hakim Warby mengatakan persidangan tersebut akhirnya diputuskan untuk kepentingan Meghan Markle.
Mengetahui hal tersebut, MoS dan Mailonline terkejut dan kecewa dengan keputtusan hakim dan berniat untuk mengajukan banding.
Namun hal itu tak digubris oleh hakim dan permintaan banding ke Pengadilan Tinggi dinyatakan ditolak.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Niken Aninsi, Kompas.com/Rintan Puspita Sari)
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Heboh Meghan Markle Dituding Lakukan Bullying Terhadap Staf Istana".