Survei BPS Ungkap Fakta Mengejutkan, Rokok dan Kopi Bikin Kemiskinan di Banten Meningkat

Rokok menjadi penyumbang utama kemiskinan di perkotaan, yakni sebesar 18,13 persen


zoom-inlihat foto
kretek-4.jpg
(KOMPAS.COM/AMIR SODIKIN)
ILUSTRASI - Survei BPS ungkap rokok tingkatkan kemiskinan di Banten (KOMPAS.COM/AMIR SODIKIN)


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Survei terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap komoditas rokok dan kopi disebut berperan besar dalam meningkatkan angka kemiskinan di Banten.

Kabar tersebut disampaikan oleh kepala BPS Provinsi Banten, Adhi Wiriana mengacu pada hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), sebagaimana diberitakan Kompas.com, Selasa (16/2/2021).

Dari Susenas September 2020, jumlah penduduk miskin di Banten meningkat menjadi 857.064 orang.

Berarti terjadi penambahan 81.065 orang dari bulan Maret 2020.

Yang mengejutkan, kopi dan rokok menjadi komoditas yang memiliki dampak besar dalam meningkatkan kemiskinan.

"Untuk di perkotaan orang-orang yang masuk kategori di bawah garis kemiskinan masih banyak membelanjakan uangnya untuk membeli rokok filter," jelas Adhi melalui siaran daring, Senin (15/2/2021).

Rokok menjadi penyumbang utama kemiskinan di perkotaan, yakni sebesar 18,13 persen.

Baru disusul komoditas lain, seperti beras 12,63 persen, susu bubuk 3,77 persen, telur ayam ras 3,32 persen, dan daging ayam ras 2,58 persen.

Sementara bagi masyarakat pedesaan, rokok menempati posisi kedua setelah beras.

Baca: Punya Kebiasaan Minum Kopi Lalu Berhenti? Ini yang Akan Terjadi pada Tubuh

Baca: Ternyata Kebiasaan Merokok dan Gaya Hidup Bisa Sebabkan Penuaan Dini

ILUSTRASI - Minum kopi bisa pengaruhi tekanan darah
ILUSTRASI - Minum kopi bisa pengaruhi tekanan darah (kompas.com)

Rinciannya, beras 22,09 persen, rokok kretek filter 15,54 persen, telur ayam ras 3,93 persen, kopi bubuk dan kopi instan 3,43 persen.

Fakta lain, masyarakat banyak membelanjakan uang untuk kopi selama pandemi Covid-19.

Menurut Adhi, fenomena ini berperan pada garis kemiskinan.

"Ini fenomena baru, kopi berperan penting pada garis kemiskinan. Mungkin karena masyarakat ada kegiatan ronda malam sehingga membeli kopi untuk menjaga tetap segar, melek," tutur Adhi.

Sementara non makanan, baik di perkotaan maupun di perdesaan, penyumbang kemiskinan terbesar adalah biaya rumah.

Angka Kemiskinan di Indonesia Meroket

Ilustrasi Kemiskinan(KOMPAS/AGUS SUSANTO)
Ilustrasi Kemiskinan(KOMPAS/AGUS SUSANTO) (KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Baca: Benarkah Kopi Bisa Pengaruhi Tekanan Darah? Ini Penjelasannya

Baca: Simak Yuk, Begini Cara Membersihkan Paru-Paru Bagi Perokok Pasif

Angka kemiskinan di Indonesia kembali naik di tengah Pandemi Covid-19.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 27,55 juta orang pada September 2020.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, jumlah tersebut naik 2,76 juta dibandingkan pada September 2019, sebagaimana diberitakan Kompas.com.

Akibatnya, persentase kemiskinan di tanah air kembali menyentuh angka 10 persen.

"September 2020 jumlah penduduk miskin Indonesia adalah 27,55 juta orang, atau setara dengan 10,19 persen (dari jumlah penduduk)," ujar Suhariyanto ketika memberikan keterangan pers secara virtual, Senin (15/2/2021).

Sebelumnya, Indonesia berhasil menekan angka kemiskinan di bawah 10 persen.

BPS mencatat, persentase kemiskinan hanya 9,82 persen pada Maret 2018.

Titik terendah persentase kemiskinan dicapai pada September 2019, yakni sebesar 9,22 persen.

Kendati demikian, tren penurunan tak berselang lama.

Persentase kembali naik jadi 9,78 persen pada Maret 2020.

Baca: Gadis 19 Tahun Dibunuh Temannya di Depan Ibu yang Lumpuh, Dipicu Korban Ejek Pelaku Miskin

Baca: Daftar 5 Negara dengan Militer Paling Miskin di Dunia Tahun 2020, Salah Satunya Tetangga Indonesia

Tukang rongsokan tengah istirahat di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (22/4/2020). Di tengah pandemi Covid-19 dalam situasi yang sangat berat, pemerintah mengumumkan akan terjadi peningkatan jumlah angka kemiskinan hingga 3,78 juta orang.(KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO)
Tukang rongsokan tengah istirahat di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (22/4/2020). Di tengah pandemi Covid-19 dalam situasi yang sangat berat, pemerintah mengumumkan akan terjadi peningkatan jumlah angka kemiskinan hingga 3,78 juta orang.(KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO) (KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO)

Hingga pada September 2020, persentase kemiskinan mencapai angka 10,19 persen.

"Atau naik 0,97 persen (dari September 2019), setara dengan 2,76 juta orang," kata Suhariyanto.

Garis kemiskinan pada September 2020 tercatat sebesar Rp 458.947 per kapita per bulan, dengan komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp 339.004 atau 73,87 persen, dan garis kemiskinan bukan makanan Rp 119.943 atau 26,13 persen.

Suhariyanto menjelaskan, garis Kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan nonmakanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan miskin.

Sementara yang dikategorikan penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.

(TribunnewsWiki.com/Nur, Kompas.com/Rasyid Ridho)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved