TRIBUNNEWSWIKI.COM - Rakyat Myanmar semakin resah dengan tindakan junta militer.
Muncul kabar militer telah mengerahkan preman untuk menciptakan kerusuhan.
Para preman tersebut diduga bekerja untuk militer dan berencana melakukan pembakaran, perampokan, dan meracuni sumur milik umum sebagaimana dilansir Intisari dari Arab News, Sabtu (13/2/2021).
Rakyat Myanmar juga semakin waswas setelah junta militer membebaskan 23.000 tahanan pada Jumat (12/2/2021) melalui amnesti.
Salah satu warga Hlaing di Yangon, Aye Kyu (54) mengatakan bahwa tetangganya berjaga-jaga di wilayah tempat tinggalnya setiap malam.
"Itu sangat mirip dengan situasi hanya beberapa hari sebelum penumpasan brutal militer terhadap pengunjuk rasa pada 1988."
“Mereka sekarang membutuhkan alasan untuk menindak kami. Jadi mereka menciptakan situasi kacau dengan membuat orang merasa tidak aman dan merespons dengan panik,” imbuh Aye.
“Kami tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk melindungi kami. Polisi dan tentara bertindak layaknya preman bagi kami,” tutur Aye.
Hal senada juga diungkap warga Mingalar Taung Nyunt di Yangon, Ko Phyo.
"Kami akan mengadakan serangkaian pertemuan hari ini dan dalam beberapa hari mendatang untuk membuat patroli lebih sistematis," katanya kepada Arab News, Minggu (14/2/2021).
Siapkan Sanksi Tegas untuk PNS yang Berani Mogok Kerja
Baca: Cara Rakyat Myanmar Jatuhkan Penguasa Militer Hasil Kudeta: Boikot Seluruh Instansi Publik
Junta Militer Myanmar mendesak pegawai negeri untuk kembali bekerja.
Mereka yang nekat mogok kerja terancam mendapat sanksi tegas.
"Tindakan dapat diambil karena melanggar etika, peraturan, dan kegagalan tugas Pegawai negeri sesuai dengan... undang-undang dan kode etik pengawai negeri," kata pernyataan itu, dikutip Tribunnews dari Reuters, Minggu (14/2/2021).
Sebelumnya, Myanmar tengah dilanda gelombang mogok kerja dan pembangkangan sipil.
Hal itu dilakukan rakyat sebagai bentuk protes terhadap junta militer yang melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah di bawah pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi.
Selain itu, mereka juga masih turun ke jalan.
Kendati seorang wanita ditembak dalam bentrokan kekerasan dalam aksi demonstrasi pada Selasa lalu, hal itu tidak menyurutkan mereka untuk terus turun ke jalan.
Sejak Rabu (9/2/2021) hingga hari berita ini diturunkan, demonstran melakukan aksi secara meriah, dengan telanjang dada, wanita dengan gaun bola dan gaun pengantin, petani dengan traktor dan orang-orang dengan hewan peliharaan mereka.
Mereka juga membawa berbagai spanduk dan tulisan lucu.
"Mantanku buruk, tapi militer lebih buruk," tulis seorang perempuan di Twitter.
"Aku tidak ingin diktator, aku hanya ingin kekasih," tulis warga dalam spanduk lainnya.
Khoo Ying Hooi adalah dosen senior di Universitas Malaya di Kuala Lumpur yang mempelajari protes dan gerakan sosial.
Hooi menjelaskan pada Business Insider bahwa meme adalah cara bagi gerakan perlawanan untuk menarik perhatian dan menandakan niat non-kekerasan mereka.
"Pandemi itu sendiri tidak menawarkan lingkungan yang 'ramah' untuk mengumpulkan banyak orang," katanya.
Baca: Didemo Besar-besaran, Militer Myanmar Dekati Muslim Rohingya, Padahal Dulu Tega Lakukan Pembantaian
Baca: Penguasa Militer Tak Sangka Jutaan Rakyat Myanmar Berani Turun ke Jalan Protes Aksi Kudeta
Menggunakan humor adalah "tanda yang menunjukkan bahwa mereka memilih pendekatan tanpa kekerasan dalam protes."
Dengan kata lain, menggunakan meme adalah cara yang bagus untuk memenangkan hati dan pikiran.
“Ketika taktik kreatif ini menyusup ke dalam wacana arus utama seperti pemberitaan, maka potensi masyarakat untuk menumbuhkan solidaritas lebih tinggi dan dalam jangka panjang dapat berkontribusi pada perubahan sistemik,” ujarnya.
Dalam beberapa hari terakhir, militer semakin melakukan kekerasan dalam menanggapi para pengunjuk rasa.
Selama akhir pekan, polisi menggunakan meriam air dan peluru karet untuk membubarkan kerumunan orang di kota terbesar Myanmar, Yangon dan di Naypyidaw, ibu kota negara itu.
Seorang wanita berusia 19 tahun yang terkena peluru karet di bagian kepala masih dalam kondisi kritis.
Dokter mengatakan dia tidak mungkin bertahan hidup.
Militer Myanmar Hancurkan Markas Partai Aung San Suu Kyi
Baca: Didemo Besar-besaran, Militer Myanmar Dekati Muslim Rohingya, Padahal Dulu Tega Lakukan Pembantaian
Militer Myanmar melakukan penyerbuan terhadap markas besar Partai Aung San Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi ( NLD) di Yangon pada Selasa malam waktu setempat (9/2/2021).
Diberitakan Kompas.com dari AFP, militer disebut menghancurkan markas tersebut.
Diktator militer menggerebek dan menghancurkan markas besar NLD sekitar pukul 21.30," demikian yang keterangan yang dituli oleh Liga Nasional untuk Demokrasi mengumumkan di halaman Facebook resminya, seperti yang dilansir dari AFP pada Selasa (9/2/2021).
Baca: China Rugi Besar Gara-gara Militer Myanmar Kudeta Pemerintahan Aung San Suu Kyi
Baca: Update Keadaan Darurat Myanmar: Pendukung Militer Rayakan Kudeta, Penerbangan Internasional Tutup
Hingga berita ini ditulis, partai belum memberikan rincian lebih lanjut.
Hal ini terjadi bersamaan dengan bergabungnya Amerika dengan PBB, untuk mengutuk tindakan militer Myanmar terhadap pengunjuk rasa.
Sebelumnya, demo empat hari berturut-turut terjadi di Myanmar.
Polisi menggunakan meriam air di beberapa kota, menembakkan peluru karet ke pengunjuk rasa di ibu kota Naypyidaw dan mengerahkan gas air mata di Mandalay.
(TribunnewsWiki.com/Ahmad Nur Rosikin) (Intisari Online)