Pengamat: Ibarat Air Bah Ditangani Pompa Sanyo, Tanggapi Jokowi Akui PPKM Tak Efektif Tekan Covid-19

Pakar sosiologi bencana menilai Jokowi sangat kecewa dengan tim penanganan pandemi.


zoom-inlihat foto
jokowi-2222.jpg
Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Senin (1/2/2021). Pengamat menganggap pernyataan Jokowi tentang PPKM merupakan indikasi bahwa dia kecewa dengan penanganan pandemi Covid-19.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sulfikar Amir, pakar sosiologi bencana dari Nanyang Technological University (NTU), memberikan tanggapan soal pernyataan Presiden Joko Widodo terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Diberitakan sebelumnya, Jokowi mengakui PPKM tidak efektif untuk menekan kasus Covid-19.

Sulfikar mengatakan pernyataan itu merupakan pertanda Jokowi sangat kecewa dengan tim penanganan Covid-19 di Tanah Air.

Menurut Sulfikar, Jokowi mungkin awalnya mengira PPKM bisa menjadi pendekatan baru yang efektif karena skalanya Jawa dan Bali.

Namun, pada kenyataannya PPKM justru terbukti terlalu lemah dalam membatasi mobilitas masyarakat.

Hal ini terlihat dari masih banyaknya penambahan kasus harian infeksi virus corona.

Sulfikar mengaku tak terkejut melihat adanya lonjakan kasus penularan Covid-19 dalam beberapa waktu belakangan karena tidak efektifnya penanganan melalui PPKM.

Baca: Jokowi Sebut PPKM Tak Efektif, Epidemiolog: Kebijakan Lockdown Bisa Dipilih meski Terlambat

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pidato perdananya dalam Sidang Majelis Umum (SMU) ke 75 PBB secara virtual, Rabu (23/9/2020).
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan pidato perdananya dalam Sidang Majelis Umum (SMU) ke 75 PBB secara virtual, Rabu (23/9/2020). (Dok.Kementerian Luar Negeri)

"Dari awal memang sudah saya prediksi bakal seperti ini. Ibarat air bah ditangani pakai pompa Sanyo," ujarnya, Senin (1/2/2021), dikutip dari Kompas.

Padahal, menurut dia, Presiden Jokowi pada dasarnya sudah merelakan perekonomian akan turun diakibatkan adanya pembatasan.

"Ketika Pak Jokowi bilang 'Enggak apa-apa ekonomi turun' itu artinya dia rela berkorban. Tapi ternyata pengorbanan ekonomi itu tidak bermakna karena jumlah kasus malah tambah naik," tambah Sulfikar.

Lebih lanjut, Sulfikar menduga kekecewaan tersebut juga ditunjukkan dari sikap Presiden yang meminta masukan para epidemiolog di luar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 untuk penanganan pandemi.

Padahal, di dalam Satgas Penanganan Covid-19 juga memiliki epidemiolog salah satunya Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito.

"Tapi intinya, selama PSBB atau PPKM tidak dilakukan dengan sangat ketat hasilnya ya akan begitu-begitu saja," katanya.

Baca: Jokowi Minta Pelaksanaan PPKM Lebih Konsisten: Tak Masalah Ekonomi Turun, Asal Covid-19 Juga Turun

Sulfikar menilai ada tiga aspek intervensi sosial yang semestinya efektif jika dilakukan pengetatan atau pembatasan.

Ilustrasi pengunjung toko menggunakan protokol kesehatan. PPKM di Jawa dan Bali diperpanjang.
Ilustrasi pengunjung toko menggunakan protokol kesehatan. PPKM di Jawa dan Bali diperpanjang. (Kontan)

Tiga aspek tersebut yakni kedalaman pengetatan, skala pengetatan, dan durasi pengetatan.

Namun, dia menilai PPKM terlihat lemah dalam tiga aspek intervensi sosial tersebut.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo tak mempermasalahkan bila perekonomian turun di masa pandemi Covid-19.

Namun ia meminta turunnya perekonomian diiringi dengan penurunan kasus Covid-19.

Hal itu disampaikan Jokowi lewat kanal YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (31/1/2021).

Mulanya Jokowi mengingatkan para menteri agar berhati-hati lantaran perekonomian bisa menurun di tengah penerapan PPKM.





Halaman
12
Editor: haerahr
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved