Adapun korban jiwa sebanyak 11 orang. Luka berat 64 orang, 215 orang luka sedang, 275 orang luka ringan
Sedangkan warga yang dilaporkan hilang sebanyak tiga orang di Dusung Aholeang.
Mereka diduga tertimbun bangunan dan longsor.
Pengakuan Pengungsi Lainnya
Jeritan pengungsi Majene, mengaku bantuan hanya diberikan untuk tenda besar, kekurangan air bersih dan susu bayi.
Tiga hari sejak gempa berkekuatan magnitudo 6,2 mengguncang Majene, warga masih mengungsi di tenda-tenda darurat yang didirikan.
Sebagian warga memilih untuk mengungsi di posko yang disediakan pemerintah.
Namun ada juga yang mendirikan di dekat rumah mereka.
Ramli (50), warga Desa Kayuangin, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene adalah salah satu pengungsi yang mendirikan tenda di dekat rumahnya.
Ramli menuturkan, warga yang memilih mengungsi di dekat rumah jarang tersentuh bantuan.
Sebagian besar warga yang mendapat bantuan merupakan pengungsi di posko-posko resmi.
Padahal, sebagian warga tidak mengungsi di posko resmi karena menjaga barang-barangnya di rumahnya.
"Kekurangan air bersih. Kalau bantuan ada juga mi sama beras. Tapi jarang, banyak bantuan yang di tenda-tenda besar," kata Ramli saat diwawancara Kompas.com, Sabtu (16/1/2020) sore.
Baca: Penyaluran Tersendat, Mensos Tri Risma Anggap Wajar Ada Penjarahan Logistik Bantuan Gempa di Majene
Penerangan di Desa Ramli bahkan masih belum stabil, pasalnya listrik masih padam.
Lilin dan minyak tanah untuk lampu pelita juga tidak ada, membuat warga menggunakan senter atau ponsel yang sudah diisi dayang di tempat lain.
Di desa yang lebih terpencil, ada juga warga yang masih belum menerima bantuan.
Mereka berada di Desa Salutahungab, area pegunungan di Kecamatan Malunda.
Padahal rumah mereka banyak yang rata dengan tanah.
"Jadi ada yang bilang kenapa cuma dibawa di sini saja bukan ke Lombong," kata Ramli.
Senada dengan Ramli, Nurul Zaskia (22), warga Desa Mekkatta juga masih mengaku kesulitan mendapatkan air bersih.