Rawan Blunder, Donald Trump Bungkam dan 'Sembunyi' dari Media Sejak Kerusuhan di Gedung Capitol

Sejak kerusuhan di Gedung Capitol, presiden dan Gedung Putih terus mengabaikan permintaan wawancara media


zoom-inlihat foto
trump-ngamuk07.jpg
Chip Somodevilla / Getty Images / AFP
ILUSTRASI Trump hindari media sejak kerusuhan di Gedung Capitol --- Keterangan gambar: Donald Trump berjalan gontai setelah berbicara di ruang briefing di Gedung Putih pada 5 November 2020 di Washington, DC. (Chip Somodevilla / Getty Images / AFP)


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump merilis sebuah video tak lama setelah dirinya dimakzulkan untuk kedua kali, pada Rabu (13/1/2021) waktu setempat.

Akan tetapi, video itu tak ada hubungannya dengan pemakzulan.

Presiden ke-45 AS itu mendesak para pendukungnya untuk menghindari kekerasan dan kekacauan politik, hal yang tak biasa dilakukan olehnya.

Namun, yang paling menonjol dari pernyataan tersebut adalah cara penyampaiannya.

Trump berbicara langsung ke kamera, menggunakan teleprompter untuk tetap mengikuti skrip.

Video itu diunggah di Kanal Youtube Gedung Putih, dan dibagikan pula oleh Official Twitter Gedung Putih.

Pasalnya, akun pribadi Trump telah ditutup permanen oleh Twitter.

Cara penyampaian Trump seperti ini benar-benar tidak seperti biasanya, yang langsung memberikan pidato prime time di depan pers.

Pilih 'Sembunyi' dari Media

Baca: Alasan Demokrat Ngotot Lakukan Pemakzulan, Jika Upaya Berhasil, Donald Trump Tak Bisa Nyapres Lagi

Faktanya, Trump belum melakukan wawancara sama sekali sejak kerusuhan di Gedung Capitol.

Dilansir Politico, baik presiden maupun para pembantunya, mangkir dari permintaan wawancara.

Mereka juga tidak memberikan statemen tentang pemakzulan.

Dan setelah dia dilarang dari Twitter, diskusi tentang pemindahan presiden ke situs media sosial alternatif juga telah ditangguhkan.

Menjauhi sorotan media seperti ini melenceng dari figur Donald Trump.

Baca: Pendukung Trump Tewas Tertembak di Gedung Capitol, Joe Biden: Ini Bukan Protes, Ini Pemberontakan

Ini juga menggambarkan betapa parahnya dampak yang ia buat atas tindakannya, menghasut pendukung yang berujung kerusuhan.

Seorang mantan ajudan mengatakan dia belum pernah melihat tingkat ketenangan seperti ini dari Trump sejak rekaman bom "Access Hollywood" dirilis pada tahun 2016.

“Ini adalah salah satu dari beberapa kali dia merasakan besar (genting)nya situasi,” kata ajudan itu.

Disarankan untuk Diam

ILUSTRASI - Dalam sebuah wawancara via telepon, Minggu (29/11/2020), yang pertama kalinya Donald Trump lakukan sejak hari pemilihan, Trump memberi tuduhan baru yang menyatakan bahwa FBI dan Departemen Kehakiman AS terlibat dalam kecurangan Pilpres AS yang menguntungkan saingannya, Joe Biden.
ILUSTRASI - Dalam sebuah wawancara via telepon, Minggu (29/11/2020), yang pertama kalinya Donald Trump lakukan sejak hari pemilihan, Trump memberi tuduhan baru yang menyatakan bahwa FBI dan Departemen Kehakiman AS terlibat dalam kecurangan Pilpres AS yang menguntungkan saingannya, Joe Biden. (ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / AFP)

Baca: Mike Pence Tolak Gulingkan Trump, Pentolan Partai Republik Malah Mantap Dukung Pemakzulan Presiden

Dikelilingi para pembantu senior dan pejuang kampanyenya, Trump telah menunjukkan sedikit minat untuk mencoba memutar narasi tentang pemakzulan.

Dia disarankan untuk tidak menonjolkan diri.

Terkait langkah ini, pendukung presiden mengaku lega.

Pasalnya mereka takut apa pun yang dia katakan hanya akan jadi blunder, merugikan dirinya sendiri.

"Mereka tampaknya berada dalam 'mode penguncian', yang saya yakini adalah tempat yang bijak saat ini dari sudut pandang media," kata mantan pembawa acara Fox News Eric Bolling, yang permintaannya baru-baru ini untuk mewawancara Trump tidak dijawab oleh Gedung Putih.

“Dia memiliki jejak media yang besar dan itu pasti sangat sulit. Pasti sangat sulit untuk tidak bisa membela diri, menyatakan kasus Anda, menjelaskan alasan Anda, ”kata Bolling.

Jajaki Sikap Partai Republik

ILUSTRASI - Pendukung Presiden AS Donald Trump mengambil alih tribun yang disiapkan untuk pelantikan presiden saat mereka melakukan protes di US Capitol di Washington, DC, 6 Januari 2021. Demonstran melanggar keamanan dan memasuki Capitol saat Kongres memperdebatkan Sertifikasi Suara Pemilihan pemilihan presiden 2020.
ILUSTRASI - Pendukung Presiden AS Donald Trump mengambil alih tribun yang disiapkan untuk pelantikan presiden saat mereka melakukan protes di US Capitol di Washington, DC, 6 Januari 2021. Demonstran melanggar keamanan dan memasuki Capitol saat Kongres memperdebatkan Sertifikasi Suara Pemilihan pemilihan presiden 2020. (AFP/OLIVIER DOULIERY)

Baca: Jelang Pemakzulan, Trump Tuding Antifa Jadi Dalang Kerusuhan di Gedung Capitol, Bukan Pendukungnya

Sebaliknya, Trump diam-diam telah mengukur tensi Senat Partai Republik yang akan memutuskan nasibnya, apakah bisa nyapres lagi atau tidak.

Trump membahas topik tersebut dengan Senator Lindsey Graham ketika Republikan Carolina Selatan itu bergabung dengannya di atas Air Force One, Selasa (12/1/2021).

Presiden juga berbicara melalui telepon dengan Senator Tim Scott dari Carolina Selatan, yang mengumumkan penentangannya terhadap pemakzulan Trump yang kedua.

Lingkaran dalam presiden telah berusaha untuk menekan DPR dan Senat Partai Republik.

"Setiap Republikan yang memilih untuk pemakzulan mungkin akan diutamakan dan mereka akan kalah," kata McLaughlin dalam sebuah wawancara.

Beberapa Kader Tak Takut

WASHINGTON, DC - 06 JANUARI: Pengunjuk rasa pro-Trump berkumpul di depan Gedung Capitol AS pada 6 Januari 2021 di Washington, DC. Massa pro-Trump menyerbu Capitol, memecahkan jendela dan bentrok dengan petugas polisi. Pendukung Trump berkumpul di ibu kota negara hari ini untuk memprotes ratifikasi kemenangan Electoral College Presiden terpilih Joe Biden atas Presiden Trump dalam pemilu 2020. Jon Cherry / Getty Images / AFP
WASHINGTON, DC - 06 JANUARI: Pengunjuk rasa pro-Trump berkumpul di depan Gedung Capitol AS pada 6 Januari 2021 di Washington, DC. Massa pro-Trump menyerbu Capitol, memecahkan jendela dan bentrok dengan petugas polisi. Pendukung Trump berkumpul di ibu kota negara hari ini untuk memprotes ratifikasi kemenangan Electoral College Presiden terpilih Joe Biden atas Presiden Trump dalam pemilu 2020. Jon Cherry / Getty Images / AFP (Jon Cherry / GETTY IMAGES AMERIKA UTARA / Getty Images via AFP)

Baca: Twitter Resmi Tutup Akun Donald Trump Secara Permanen, Pendukung Trump Kecam Langkah Tersebut

Kendati demikian, beberapa pentolan Partai Republik tak takut dengan ancaman tersebut, termasuk Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell.

Mereka tak khawatir meski harus melepaskan diri dari lingkaran Donald Trump.

McConell merencakan akan memutskan untuk menghukum Trump, ketika proses hukum pemakzulan sudah diajukan ke Senat.

Memang secara pribadi, banyak kader partai, termasuk mereka yang bekerja untuk pemilihan kembali Trump, marah kepadanya.

Seorang mantan pejabat kampanye bahkan menyebut tindakan presiden "tidak dapat dibenarkan."

Baginya, tidak mungkin bagi partai besar untuk membela Trump.

(TribunnewsWiki.com/Ahmad Nur Rosikin)





Editor: haerahr
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved