Kaleidoskop 2020: Jejak Pandemi Covid-19, Kemunculan di Wuhan, Penyebaran hingga Program Vaksin

Sebagai pengingat, penyakit baru yang disebabkan oleh infeksi virus corona SARS-CoV-2 ini, mulanya teridentifikasi di Wuhan, China.


zoom-inlihat foto
mutasi-v-corona.jpg
CDC
Ilustrasi Virus Corona (CDC). Berikut jejak pandemi Covid-19, kemunculan di Wuhan, penyebarannya, hingga program vaksinasi covid-19.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Berikut adalah kronologi panjang kemunculan pandemi Covid-19 hingga program vaksin.

Tahun 2020 telah memasuki pekan terakhir.

Sepanjang tahun ini, dunia harus berhadapan dan melawan pandemi Covid-19.

Sebagai pengingat, penyakit baru yang disebabkan oleh infeksi virus corona SARS-CoV-2 ini, mulanya teridentifikasi di Wuhan, China.

Kemudian dengan cepat menyebar luas ke seluruh negeri.

Berdasarkan kabar terbaru, Antartika melaporkan kasus pertama Covid-19 pada Selasa (22/12/2020), dimana ada 36 orang terinfeksi.

Alhasl, Covid-19 telah menyebar ke setiap benua di dunia.

Berikut adalah jejak pandemi Covid-19, sejak penyakit itu pertama kali dikonfirmasi, apa saja yang sudah dilakukan ahli, hingga pencapaian temuan vaksin yang ampuh dan efektif.

1. Pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China

Petugas keamanan berpatroli di pasar ikan tradisional Huanan di kota Wuhan, China, Jumat (24/1/2020). Pasar ikan itu ditutup setelah virus corona yang mematikan dideteksi berasal dari pasar itu.(AFP/HECTOR RETAMAL)
Petugas keamanan berpatroli di pasar ikan tradisional Huanan di kota Wuhan, China, Jumat (24/1/2020). Pasar ikan itu ditutup setelah virus corona yang mematikan dideteksi berasal dari pasar itu.(AFP/HECTOR RETAMAL) (Kompas.com)

Covid-19 pertama kali dikonfirmasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di China pada 31 Desember 2019.

Penyakit ini dianggap sebagai pneumonia misterius karena gejala yang muncul dari pasien termasuk demam, sulit bernapas, dan lesi pada paru-paru.

Penyakit ini juga mengingatkan orang akan wabah SARS yang melanda Asia pada 2002 dan MERS tahun 2012.

Kendati mirip, tapi ketiganya berbeda.

Otoritas China dan WHO pada pertengahan Januari 2020 menyimpulkan bahwa virus yang menyerang merupakan virus corona, dari keluarga yang sama yang menyebabkan SARS dan MERS.

Infeksi ini awalnya terjadi pada tanggal 12 Desember 2019 dan 29 Desember 2019, dimana sebagian dari pasien yang terinfeksi bekerja di sebuah pasar makanan laut di Wuhan.

Meski demikian, seperti dilaporkan oleh media lokal, pasar yang telah ditutup sejak 1 Januari 2020 untuk di disinfeksi tersebut tersebut juga menjual berbagai hewan hidup, seperi burung, kelinci dan ular.

Hal ini membuat para pakar curiga bahwa penyakit disebabkan oleh virus pneumonia baru yang berpindah dari hewan ke manusia.

2. Karakteristik virus

Gambar mikroskop elektron pemindai ini menunjukkan virus corona Wuhan atau Covid-19 (kuning) di antara sel manusia (merah)
Gambar mikroskop elektron pemindai ini menunjukkan virus corona Wuhan atau Covid-19 (kuning) di antara sel manusia (merah) (Kompas.com, Hai.Grid.id)

Pada 23 Januari 2020, Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 2.000 orang di 13 negara.

Dari kasus yang ada, ahli mengumpulkan enam set genom virus corona baru, yang kala itu dinamai 2019-nCoV.

Dalam penelitian Science China Life Sciences pada Selasa (21/1/2020), para peneliti dari Institut Pasteur Shanghai di bawah Chinese Academy of Science dan lembaga penelitian China lainnya membandingkan urutan genom dari 2019-nCoV dengan virus corona lain yang juga menginfeksi manusia, yakni SARS-CoV dan MERS-CoV.

Mereka menemukan, 2019-nCoV 70 persen mirip dengan SARS-CoV dan 40 persen mirip dengan MERS-CoV.

Analisis menunjukkan, 2019-nCoV adalah kelompok Betacoronavirus yang terdiri dari virus RNA beruntai tunggal yang menginfeksi hewan liar, kawanan hewan, dan manusia.

Virus ini memicu wabah dan infeksi yang terkadang tanpa disertai gejala yang jelas.

Pada pohon evolusi, 2019-nCoV cukup dekat dengan kelompok virus corona penyebab SARS, yakni virus corona kelelawar HKU9-1, virus yang ditemukan pada kelelawar buah.

Ilmuwan menduga, virus corona baru pertama kali dibawa oleh kelelawar.

3. Ganti nama

Gambar mikroskop elektron transmisi menunjukkan coronavirus baru yang muncul dari permukaan sel manusia
Gambar mikroskop elektron transmisi menunjukkan coronavirus baru yang muncul dari permukaan sel manusia (Kompas.com, Hai.Grid.id)

WHO menamai virus corona baru dari Wuhan pada 19 Februari 2020 menjadi SARS-CoV-2.

Cprpnavirus Study Group (CSG) memutuskan menggunakan nama SARS-CoV-2 karena virus ini ditemukan sebagai varian dari virus corona yang menyebabkan wabah severe acute respiratory syndrom (SARS) pada tahun 2002-2003.

Dijelaskan dalam situs resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO), Covid-19 atau coronavirus disease adalah nama penyakit yang sedang mewabah saat ini.

Sementara itu, SARS-COV-2 adalah nama virus yang menyebabkan Covid-19.

4. Indonesia umumkan kasus pertama pada 2 Maret 2020

Presiden Joko Widodo bersama Terawan Agus Putranto umumkan kasus pertama positif Corona di Indonesia, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/20)
Presiden Joko Widodo bersama Terawan Agus Putranto umumkan kasus pertama positif Corona di Indonesia, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/20) (kompas.com/ihsanuddin)

Pada 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo dan Terawan Agus Putranto yang saat itu menjadi Menteri Kesehatan mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Tanah Air.

Ada dua orang yang diumumkan positif Covid-19. Keduanya sempat kontak dengan warga negara Jepang yang datang ke Indonesia.

Sejak saat itu, kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah dan hingga hari ini sudah lebih dari 685 ribu kasus.

Berdasarkan data yang masuk hingga Rabu (22/12/2020) pukul 12.00 WIB, kasus Covid-19 di Tanah Air telah mencapai 685.639 orang. Bertambah 7.514 kasus dari 24 jam sebelumnya.

Dalam data yang sama, terdapat 558.703 orang yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Ada penambahan kasus sembuh sebanyak 5.981 orang dalam 24 jam terakhir.

Sementara itu, kasus pasien meninggal dunia bertambah 151 orang, sehingga total saat ini menjadi 20.408 orang.

5. Virus corona terus bermutasi

Coronavirus.(CNN)
Coronavirus.(CNN) (CNN)

Sejak pertama kali diumumkan, virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 telah mengalami ribuan mutasi.

Untuk diketahui, mutasi virus adalah filtur replika virus yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari.

Mutasi juga merupakan kondisi di mana virus tersebut mengalami perubahan pada materi genetik virus.

Mutasi menjadi hal yang wajar dan bisa terjadi karena banyak sekali faktor pendukungnya. Bisa jadi berupa genetik ras, keturunan, patogen atau mikroorganisme penyebab penyakit lain di dalam tubuh, dan lain sebagainya.

Mutasi yang terjadi pada virus merupakan upaya penyesuaian atau adaptasi yang dilakukan virus untuk dapat bertahan hidup di sekitar inangnya (reseptor) dalam tubuh manusia.

6. Gejala Covid-19 beragam

Ilustrasi demam
Ilustrasi demam (kompas.com/)

Sebagian orang yang terinfeksi virus corona bisa jadi tak menunjukkan gejala apapun, sebagian lain memilki beberapa gejala, seperti batuk, demam, hingga hilang penciuman dan rasa, bahkan tak sedikit yang mengembangkan gejala hingga sakit parah.

Belakangan muncul gejala baru Covid-19, seperti sakit mata dan delirium.

Melansir Stat News, sebuah studi menemukan bahwa delirium kemungkinan menjadi gejala peringatan dini infeksi virus SARS-CoV-2 pada orang lanjut usia.

Lebih dari seperempat pasien yang lebih tua dalam penelitian itu tiba di IGD rumah sakit dengan mengigau dan 37 persen dari pasien ini tidak memiliki tanda Covid-19 yang khas, seperti demam atau sesak napas.

Umumnya, gejala delirium yakni kebingungan, kurang fokus, disorientasi, dan perubahan kognitif lainnya.

7. Obat untuk Covid-19

Ilustrasi obat
Ilustrasi obat (Tribun Palu)

Ketua Perhimpuan Dokter Paru Indonesia, DR Dr Agus Dwi Santoso SpP(K) FAPSR FISR menjelaskan, pengobatan corona di Indonesia sudah diatur dalam protokol pelaksanaan penanganan Covid-19.

"Kita menangani pasien itu berdasarkan severity (tingkat keparahan atau beratnya kasus) yang dialami oleh pasien," kata Agus dalam diskusi daring bertajuk Obat dan Terapi Terkini untuk Pasien Covid-19 melalui media resmi BNPB TV, Selasa (18/8/2020).

Kemudian, tingkat keparahan atau beratnya kasus pasien dikategorikan menjadi tanpa gejala, ringan, sedang, berat sampai kondisi kritis Covid-19.

Oleh karena itu, kata Agus, mengobati pasien itu harus berdasarkan severity atau tingkat keparahan kasus pasien itu sendiri.
"Karena masing-masing severity itu, (pasien) bisa diberikan pilihan obat berdasarkan severity yang dialami," ujarnya.

Terkait obat apa saja yang diberikan untuk pasien Covid-19, baca selengkapnya di sini.

8. Vaksin yang sudah teruji keamanan dan keefektifan

Tidak Semua Klompok Orang Bisa di Suntik Vaksin Covid-19.
Tidak Semua Klompok Orang Bisa di Suntik Vaksin Covid-19. (Shutterstock via Kompas.com)

Ketika pandemi Covid-19 terus melanda bersamaan dengan musim dingin di belahan utara dunia, semakin banyak negara memberikan lampu hijau vaksin Covid-19 untuk vaksinasi massal di negara masing-masing.

Dari sejumlah vaksin yang dikembangkan di seluruh dunia, vaksin kolaborasi antara perusahaan Amerika Serikat, Pfizer dan perusahaan Jerman, BioNTech mencatat sejarah pada tanggal 18 Desember sebagai vaksin pertama yang merilis data hasil uji coba tahap akhir skala penuh.

Vaksin tersebut diklaim dapat menawarkan kemanjuran hingga 95 persen terhadap Covid-19.

Menyusul lampu hijau untuk Pfizer-BioNTech, Badan Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui vaksin buatan Moderna, menjadikannya sebagai vaksin kedua yang mendapat persetujuan.

Moderna dinyatakan dapat mencegah Covid-19 hingga 94 persen.

Selain Pfizer-BioNTech dan Moderna, AstraZeneca-Oxford juga telah mengeluarkan laporan keamanan vaksin peer-review yang terbit di jurnal The Lancet.

Laporan terbaru ini mengonfirmasi hasil yang dipublikasikan beberapa minggu lalu, di mana disebut vaksin hanya memiliki kemanjuran 70,4 persen berdasarkan analisis gabungan dari dua resimen dua dosis yang berbeda, yakni standar/standar dan rendah/standar.

Selama uji coba fase III, ada 11.636 sukarelawan asal Inggris dan Brasil yang menerima vaksin Oxford-AstraZeneca.

Data itu menunjukkan bahwa vaksin sepenuhnya melindungi relawan dari kasus infeksi yang parah setelah tiga minggu diberi dosis.

Ada 7 negara yang telah memulai program vaksinasi virus corona, yakni Inggris, Bahrain, AS, Kanada, Arab Saudi, Rusia, dan China.

(Tribunnewswiki.com/Putradi Pamungkas, Kompas.com/Gloria Setyvani Putri)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kaleidoskop 2020: Kronologi Pandemi Covid-19 hingga Program Vaksin"





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved