Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pemfigoid bulosa adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan timbulnya bula subepidermal (lepuhan) yang besar dan bergaris di atas kulit yang kemerahan.
Penyakit ini diawali dengan kemerahan atau ruam (urtikaria) yang kemudian bisa berubah menjadi lenting besar berisi cairan setelah beberapa minggu atau bulan.
Cairan di dalam lenting ini biasanya bening, tapi bisa berubah menjadi sedikit keruh atau terdapat bercak darah.
Lenting biasanya muncul di area-area lipatan kulit seperti ketiak, paha atas, dan perut bagian bawah.
Pada kasus yang parah, lepuh juga bisa menutupi sebagian besar kulit, termasuk bagian dalam mulut.
Baca: Neuropati Diabetik
Gejala #
Gejala utama pemfigoid bulosa adalah munculnya bula berisi cairan berwarna jernih yang tidak mudah pecah ketika disentuh.
Terkadang, cairan ini juga bercampur dengan darah.
Selain itu, muncul juga rasa gatal dan sensasi kulit terbakar yang membuat tidak nyaman.
Bula biasanya muncul di perut bagian bawah, pangkal paha, dan lengan.
Sedangkan area lainnya yang mungkin menjadi tempat munculnya bula adalah lipatan kulit di sisi dalam sendi, paha, atau siku.
Namun, pada beberapa kasus, pemfigoid bulosa juga bisa berkembang di mulut.
Bila bula pecah, maka dapat membentuk ulkus atau luka terbuka.
Baca: Neuropati Perifer
Penyebab #
Sampai saat ini, penyebab pemfigoid bulosa masih belum jelas.
Namun, kemungkinan penyakit ini ada kaitannya dengan gangguan sistem kekebalan tubuh , efek yang ditimbulkan oleh penyakit lain, atau karena efek samping obat.
Penyebab lainnya dari pemfigoid bulosa adalah:
- Obat. Penggunaan beberapa obat sekaligus dapat memicu pemfigoid bulosa, antara lain penisilin, etanercept (Enbrel), sulfasalazine (Azulfidine), dan furosemide (Lasix).
- Terapi cahaya serta radiasi. Penggunaan terapi sinar UV untuk mengobati penyakit kulit tertentu dapat memicu pemfigoid bulosa. Contohnya, seperti terapi radiasi untuk pengobatan kanker.
Pengobatan dan Pencegahan #
Pemberian obat untuk orang dengan pemfigoid bulosa dilakukan dengan tujuan untuk menekan sistem kekebalan yang menyerang jaringan kulit dan menyebabkan peradangan, meredakan gatal serta membuat kulit kembali pulih seperti sedia kala.
Obat-obatan yang biasanya digunakan untuk mengatasi pemfigoid bulosa antara lain kortikosteroid atau dengan obat imunosupresan.
Jika tidak segera diobati, bula yang pecah dapat terinfeksi dan berkembang menjadi kondisi yang bernama sepsis, yaitu infeksi pada darah yang mengancam nyawa.
Ketika pemfigoid bulosa muncul pada membran mukosa di area mulut atau mata, komplikasi yang mungkin terjadi adalah jaringan parut pada area tersebut.
Selain dengan pemberian obat, pengidap juga bisa melakukan perawatan mandiri, seperti:
- Menghindari paparan sinar matahari pada kulit yang terinfeksi pemfigoid bulosa.
- Membersihkan tubuh secara rutin untuk mencegah terjadinya infeksi.
- Lakukan pengecekan pada kulit untuk melihat apakah ada tanda-tanda infeksi yang parah atau tidak. Misalnya, apakah ada perubahan warna dari kulit menjadi lebih merah, apakah bula bertambah besar, terasa nyeri atau pengidap merasakan demam.
- Rutin mencuci pakaian, seprai atau kain yang terkena cairan bula.
- Bila dirasa mengalami infeksi yang parah, segera hubungi dokter.
Karena penyakit ini merupakan penyakit autoimun, sampai saat ini belum ada tindakan yang bisa dilakukan untuk mencegah pemfigoid bulosa.
Namun, pengidap bisa menghindari penggunaan obat-obatan yang berisiko menimbulkan pemfigoid bulosa ataupun paparan sinar matahari yang berlebih.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)
| Informasi |
|---|
| Penyakit | Pemfigoid bulosa |
|---|
| Gejala | Munculnya bula berisi cairan berwarna jernih yang tidak mudah pecah |
|---|
| Faktor Risiko | Usia di atas 60 tahun |
|---|