Senang Donald Trump Lengser, Pemimpin Hizbullah Lebanon Sebut Pilpres AS sebagai 'Parodi Demokrasi'

Adalah Sayyed Hassan Nasrallah yang menyebut Trump mengalami "kekalahan yang memalukan" dalam Pilpres AS 2020.


zoom-inlihat foto
bendera-hizbullah-lebanon-dan-donald-trump-45.jpg
Kolase Wikimedia dan AFP
Dalam pidato yang disiarkan televisi, Nasrallah menggambarkan pemerintahan Trump sebagai "di antara yang terburuk, jika bukan yang terburuk" di AS, FOTO: Bendera Hizbullah Lebanon dan Donald Trump


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pemimpin Hizbullah Lebanon mengakui dirinya senang atas lengsernya Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Adalah Sayyed Hassan Nasrallah yang menyebut Trump mengalami "kekalahan yang memalukan" dalam Pilpres AS 2020.

Namun, Nasrallah mendesak sekutu di tingkat regionalnya untuk  waspada terhadap Amerika Serikat atau Israel di sisa masa pemerintahan Trump.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Nasrallah menggambarkan pemerintahan Trump sebagai "di antara yang terburuk, jika bukan yang terburuk" di AS.

Namun, ia percaya bahwa adanya presiden baru pun tidak akan mengubah kebijakan Washington atas Israel di Timur Tengah.

Baca: Luhut Pandjaitan Sebut Angka Perekonomian Indonesia Mulai Membaik : Kita Mulai Keluar dari Resesi

FOTO: Ilustrasi Bendera Lebanon
FOTO: Ilustrasi Bendera Lebanon (Unsplash - Christelle Hayek @christelle_silentwarrior)

Baca: Viral Dua Remaja Wanita Berkelahi hingga Tendang Kepala, Dipicu Salah Paham di Media Sosial

Nasrallah juga menggambarkan pemilu AS sebagai parodi demokrasi dengan menuding Trump tidak punya batasan diri, sebagaimana diwartakan Reuters, Jumat (13/11/2020).

Ia mengatakan pemerintahan Trump penuh 'arogansi dan agresivitas' yang memungkinkan terjadinya konflik.

Pemimpin Hizbullah yang didukung Iran itu mengaku senang atas kekalahan Trump, yang pernah memerintahkan untuk menghabisi jenderal tertinggi Iran Qassem Soleimani.

"Dengan orang seperti Trump, segala sesuatu bisa saja terjadi pada sisa masa jabatannya ... poros perlawanan harus dalam persiapan untuk merespons dua kali lebih keras jika terjadi kebodohan lagi oleh Amerika atau Israel," kata Nasrallah, merujuk pada Hizbullah dan sekutu Iran di wilayah tersebut.

Sebagai informasi, pemerintahan Trump telah memperluas sanksi terhadap Hizbullah, yang oleh Washington dikategorikan sebagai kelompok teroris.

Baca: Boleh Terobos Lampu Merah, Inilah 7 Kendaraan yang Punya Prioritas di Jalan Raya

Pendukung gerakan Hizbullah di Lebanon membawa peti mati pejuang kelompok yang tewas di Suriah, selama prosesi pemakaman mereka di pinggiran ibukota Lebanon, Beirut, pada tanggal 1 Maret 2020.
Pendukung gerakan Hizbullah di Lebanon membawa peti mati pejuang kelompok yang tewas di Suriah, selama prosesi pemakaman mereka di pinggiran ibukota Lebanon, Beirut, pada tanggal 1 Maret 2020. (AFP)

Baca: Permain Keturunan Belanda, Marc Klok Resmi Jadi WNI: Cinta Indonesia dan Tak Sabar Main di Timnas

AS di bawah kepemimpinan Trump turut menekan sekutu Hizbullah, yakni Iran dan meningkatkan ketegangan di tingkat regional.

'Gagalnya Demokrasi'

Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei memberikan komentar atas ramainya pemberitaan tentang Pemilihan Presiden di Amerika Serikat,

Pria yang pernah menjabat sebagai Presiden Iran pada periode 1981-1989 ini menyoroti pemilu Amerika Serikat sebagai 'pertunjukan'.

Ia menyebut bahwa Pilpres AS merupakan contoh keburukan dan bentuk kegagalan demokrasi liberal.

Melalui akun Twitternya, ia mengatakan ada kemerosotan politik, sipil, dan moral, terlepas dari apa pun hasilnya.

"Situasi di AS dan apa yang mereka katakan sebagai pemilu adalah pertunjukan/tontonan. Ini adalah contoh wajah buruk demokrasi liberal di AS. Terlepas dari hasilnya, satu hal yang jelas, (ada) kemerosotan politik, sipil, dan moral yang pasti dari rezim Amerika Serikat", kata Ali Khamenei.

Baca: Daftar 11 Provinsi yang Adakan Bebas Denda Pajak Kendaraan

Baca: Kemenangan Joe Biden Muncul di Halaman Depan Pemberitaan Surat Kabar di Eropa

Langkah Hati-Hati Meksiko

Saat sejumlah pemimpin dunia memberi ucapan selamat kepada kandidat Partai Demokrat, Joe Biden, beberapa pemimpin negara lain justru lebih hati-hati.

Beberapa pemimpin negara ini ingin memberi ucapan saat setelah ada pengumuman resmi.

Seperti diketahui, kemenangan Biden secara lugas diberitakan sejumlah media besar AS termasuk, AP, NBC, CBS, dan CNN.

Beberapa pimpinan negara juga terlihat mengucapkan selamat kepada Joe Biden seperti PM Inggris, Boris Johnson, Presiden Prancis Emmanuel Macron, PM Kanada Justin Trudeau, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan PM India Narendra Modi.

Namun, itu berbeda dengan Presiden Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador, atau yang dikenal sebagai Amlo.

Baca: Kemenangan Joe Biden Muncul di Halaman Depan Pemberitaan Surat Kabar di Eropa

Calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden berbicara sambil diapit oleh calon wakil presiden, Senator Kamala Harris (D-CA), di teater The Queen pada 05 November 2020 di Wilmington, Delaware. Biden menghadiri pertemuan internal dengan staf karena pemungutan suara masih dihitung dalam persaingan ketat melawan Presiden AS Donald Trump yang masih terlalu dekat untuk dipanggil. (Drew Angerer / Getty Images / AFP)
Calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden berbicara didampingi oleh calon wakil presiden, Senator Kamala Harris (D-CA), di teater The Queen pada 05 November 2020 di Wilmington, Delaware. (Drew Angerer / Getty Images / AFP) (Drew Angerer / Getty Images / AFP)


Baca: Viral Video Mirip Gisel, Pakar Telematika Roy Suryo Buka Suara, Barang Sekitar Bisa Jadi Petunjuk

Amlo mengatakan terlalu dini memberikan ucapan selamat untuk Joe Biden.

Menurutnya, pihak Meksiko masih akan menunggu 'semua masalah hukum' atas pemilu diselesaikan terlebih dahulu.

Pernyataan ini merujuk atas tuntutan yang diajukan Trump dan tim kampanyenya atas dugaan kecurangan pemilu.

Meski Trump dan tim belum mengajukan bukti-bukti, Amlo tetap pada pendiriannya untuk tidak mengucapkan kata selamat untuk Biden.

"Kami tidak ingin ceroboh," kata Amlo kepada wartawan, dilansir TribunnewsWiki.com dari BBC, Minggu (8/11).

Baca: Akun Donald Trump Muncul Paling Atas ketika Pengguna Twitter Mencari Kata Loser

Presiden AS Donald Trump tiba untuk berbicara di Brady Briefing Room di Gedung Putih di Washington, DC pada 5 November 2020. Orang dalam Gedung Putih mengungkapkan, di balik ngototnya Trump menolak hasil Pilpres AS, Trump dilanda ketakutan akan dipenjara bila ia tidak jadi presiden karena begitu banyaknya tuntutan hukum terhadapnya.(Brendan Smialowski / AFP)
Presiden AS Donald Trump tiba untuk berbicara di Brady Briefing Room di Gedung Putih di Washington, DC pada 5 November 2020. (Brendan Smialowski / AFP) (Brendan Smialowski / AFP)


Baca: Pakar Sebut Debat Gibran-Teguh Melawan Bagyo-FX Suparjo seperti Bumi dan Langit

"Kami tidak mau asal bertindak dan kami ingin menghormati usaha dan hak orang terlebih dahulu," katanya merujuk pada Trump dan tim kampanye.

Seperti diketahui, tim kampanye Trump sedang mengajukan langkah hukum atas dugaan kecurangan pemilu.

Melansir CBS News, seorang pejabat senior tim kampanye menyebut bahwa sebelumnya sudah diprediksi bahwa pertarungan pemilu akan berlangsung lama dan berlarut-larut.

Ia mengatakan bahwa tim kampanye Trump optimis masih ada harapan agar bisa terpilih kembali sebagai presiden.

Saat ditanya apakah gugatan hukum akan berhasil, pejabat tersebut mengatakan 'apa pun bisa terjadi'.

Baca: Joe Biden Terpilih Jadi Presiden ke-46 AS, Bagaimana Perhitungan Pollingnya?


Baca: Kamala Harris Ukir Dua Sejarah: Wanita Pertama dan Wanita Kulit Berwarna Pertama Jadi Wapres AS

Pejabat tersebut menambahkan "tidak ada satu orang pun yang markas kampanye yang terkejut dengan media yang ramai-ramai memproyeksikan kemenangan Biden.".

"Mereka siap bertarung dan sedang mempersiapkan gugatan adanya penipuan pemilih", ujarnya.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved