Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Narkolepsi adalah gangguan tidur kronis yang ditandai dengan rasa kantuk di siang hari dan serangan tidur yang tiba-tiba.
Orang dengan narkolepsi merasa sulit untuk tetap terjaga dalam jangka waktu yang lama, terlepas dari keadaannya.
Narkolepsi dapat menyebabkan gangguan serius dalam menjalani rutinitas sehari-hari.
Baca: Rubella
Penyebab #
Penyebab pasti narkolepsi belum diketahui.
Orang dengan tipe 1 narkolepsi memiliki tingkat rendah dari hypocretin, yaitu neurokimia di otak yang membantu mengatur bangun dan tidur REM.
Tingkat hypocretin rendah pada mereka yang mengalami katapleksi.
Penyebab hilangnya sel-sel penghasil hypocretin di otak tidak diketahui, tetapi diduga hal ini disebabkan oleh reaksi autoimun.
Genetik dapat berperan dalam perkembangan narkolepsi.
Namun, risiko orangtua yang mewariskan gangguan ini pada seorang anak rendah, yaitu sekitar 1 persen.
Di Eropa, penelitian menunjukkan adanya hubungan yang mungkin antara paparan virus flu babi (H1N1) dengan bentuk tertentu dari vaksin H1N1 yang saat ini dikelola.
Proses normal tertidur dimulai dengan fase yang disebut tidur non-rapid eye movement (NREM).
Selama fase ini, gelombang otak melambat, dan setelah satu jam tidur, aktivitas otak akan berubah, dan tidur REM dimulai.
Kebanyakan mimpi terjadi saat tidur REM.
Namun, pada narkolepsi, pengidap tiba-tiba masuk ke dalam tidur REM tanpa mengalami tidur NREM, baik pada malam hari atau siang hari.
Baca: Hiperhidrosis
Gejala #
Gejala narkolepsi dapat memburuk selama beberapa tahun pertama dan kemudian berlanjut seumur hidup.
Hal ini termasuk rasa mengantuk di siang hari yang berlebihan.
Pengidap narkolepsi dapat tertidur kapan dan di mana saja.
Pengidap dapat mengalami penurunan kewaspadaan dan fokus sepanjang hari.
Rasa kantuk di siang hari yang berlebihan biasanya merupakan gejala pertama yang muncul dan sering kali merupakan hal yang paling menyulitkan, sehingga sulit untuk berkonsentrasi dan berfungsi penuh.
Gejala lainnya adalah tiba-tiba kehilangan tonus otot. Kondisi katapleksi dapat menyebabkan sejumlah perubahan fisik dari bicara yang tidak jelas hingga kelemahan lengkap sebagian besar otot yang dapat berlangsung hingga beberapa menit.
Katapleksi tidak dapat dikendalikan dan dipicu oleh emosi yang kuat, biasanya yang positif seperti tawa atau kegembiraan, tetapi terkadang takut, terkejut, atau marah.
Beberapa orang dengan narkolepsi hanya mengalami satu atau dua episode katapleksi setahun, sementara yang lain memiliki banyak episode setiap hari.
Walau begitu, Tidak semua orang dengan narkolepsi mengalami katapleksi.
Kelumpuhan tidur, yaitu sering mengalami ketidakmampuan sementara untuk bergerak atau berbicara ketika tertidur atau saat bangun tidur.
Episode ini biasanya singkat, berlangsung beberapa detik atau menit, tetapi bisa menjadi menakutkan.
Kelumpuhan tidur ini meniru jenis kelumpuhan sementara yang biasanya terjadi selama periode tidur yang disebut rapid eye movement (REM) selama tidur.
Ketidakmampuan sementara ini selama tidur REM dapat mencegah tubuh dari melakukan aktivitas mimpi.
Namun, tidak semua orang dengan kelumpuhan tidur memiliki narkolepsi.
Umumnya, pengidap narkolepsi mengalami beberapa episode kelumpuhan tidur.
Gejala lainnya yang cukup sering adalah perubahan dalam gerakan mata cepat (REM) tidur.
Tidur REM biasanya ketika kebanyakan mimpi terjadi.
Pada orang dengan narkolepsi tidur REM dapat terjadi kapan saja pada siang hari.
Pengidap narkolepsi membutuhkan hanya 15 menit untuk mengalami transisi cepat ke tidur REM.
Selain itu, saat bangun tidur, pengidap juga dapat mengalami halusinasi hipnagogik.
Pengobatan #
Tidak ada obat untuk mengatasi narkolepsi.
Namun, obat-obatan dan modifikasi gaya hidup yang tepat dapat membantu mengelola gejala.
Obat seperti stimulan yang merangsang sistem saraf pusat adalah pengobatan utama untuk membantu orang dengan narkolepsi tetap terjaga di siang hari.
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) atau Serotonin and Norepinefrin Reuptake Inhibitor (SNRI) juga sering diberikan untuk menekan tidur REM, membantu meringankan gejala katapleksi, halusinasi hipnagogik, dan kelumpuhan tidur.
Efek samping dapat mencakup penambahan berat badan, insomnia dan masalah pencernaan. Obat lain adalah antidepresan trisiklik.
Sementara usaha yang dapat dilakukan sendiri tanpa obat di rumah adalah dengan menghindari atau meminimalisir paparan pemicu emosional, tidur yang cukup di malam hari, serta menghindari tidur dalam posisi terlentang.
Selain itu, karena salah satu penyebab narkolepsi diduga autoimun, maka pengidap disarankan untuk menghindari faktor-faktor yang dapat memicu penyakit autoimun yang lainnya.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)
| Informasi |
|---|
| Penyakit | Narkolepsi |
|---|
| Faktor Risiko | Kelumpuhan tidur, halusinasi, dan katapleks |
|---|
| Gejala | Pengidap narkolepsi dapat tertidur kapan dan di mana saja |
|---|