Pemerintah Singapura Akan Beri Bayaran Bagi Warganya yang Memiliki Anak Selama Pandemi Covid-19

Pemerintah menjanjikan sejumlah 'bonus' untuk warganya yang memiliki anak selama pandemi covid-19.


zoom-inlihat foto
wanita-terpaksa-melahirkan-di-bak-mandi.jpg
Pixabay
Ilustrasi bayi baru lahir


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Singapura akan menawarkan pembayaran satu kali kepada calon orang tua selama pandemi virus corona .

Wakil perdana menteri negara itu mengatakan insentif tersebut akan membantu meyakinkan warga negaranya yang memilih untuk menunda memiliki anak karena permasalahan terkait tekanan finansial dan PHK.

"Kami telah menerima umpan balik bahwa Covid-19 telah menyebabkan beberapa calon orang tua menunda rencana memiliki anak," kata Heng Swee Keat pada hari Senin (5/10/2020), dikutip dari CNN.

Sejauh ini belum diketahui rincian jumlah yang akan dibayarkan.

Kebijakan ini merupakan bentuk usaha pemerintah Singapura memberikan bonus finansial kepada warganya terkait kelahiran anak.

Singapura menjadi salah satu negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia, dan negara tersebut telah berupaya meningkatkan angka tersebut selama beberapa dekade terkahir.

Baca: Pakar Sebut Ada Mutasi Virus Corona Terdeteksi di Malaysia dan Singapura, Lebih Menular

Baca: Penyebab Angka Kematian akibat Corona di Singapura Rendah, hanya Ada 27 Kematian dari 57 Ribu Kasus

Tingkat kesuburan saat ini hanya 1,14 kelahiran per wanita, menurut badan statistik nasional.

Menurut Bank Dunia, angka ini sama dengan tingkat kesuburan di Hong Kong.

Hanya Korea Selatan dan wilayah AS di Puerto Rico yang memiliki angka lebih rendah.

Pemerintah telah mencoba untuk mencari jalan keluar menumbuhkan tingkat kelahiran.

Namun, nyatanya itu tidak berhasil.

Ilustrasi kelahiran bayi
Ilustrasi kelahiran bayi (halodoc)

Agar pertumbuhan penduduk dapat terjadi secara alami dalam suatu negara, wanita harus memiliki rata-rata 2,1 bayi.

Meskipun, sebagian besar negara maju sekarang berada di bawah angka itu.

Penurunan proporsi pasangan dan berkurangnya peran gender tradisional telah menyebabkan tingkat kesuburan turun secara global.

Singapura telah berjuang untuk membalikkan tren tersebut sejak 1980-an.

Pemerintah melakukan kampanye publik yang mendorong persalinan dan sejumlah insentif keuangan maupun pajak.

Baca: Ahli Singapura Yakin Wabah Corona di Indonesia Berakhir 20 Juni 2020, Ahli dari UI Beri Tanggapan

Namun, upaya itu tetap tidak dapat menghentikan kemerosotan angka kelahiran.

"Seperti banyak negara maju, tantangan utama populasi Singapura adalah kesuburan yang rendah dan populasi yang menua," tulis pemerintah dalam sebuah laporan pada 2011.

"Tujuan kami adalah untuk mencapai populasi berkelanjutan yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kohesi sosial, sehingga Singapura tetap penuh energi dan layak huni," tambahnya.

(TribunnewsWiki.com/Niken Aninsi)





Penulis: Niken Nining Aninsi
Editor: Putradi Pamungkas






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved